Stabilitas.id — Bank Indonesia (BI) terus mempertebal amunisi intervensi guna menstabilkan volatilitas nilai tukar rupiah dan menjaga kecukupan likuiditas perbankan domestik. Bank sentral melaporkan telah memborong Surat Berharga Negara (SBN) dengan akumulasi nilai mencapai Rp140,57 triliun hingga posisi 19 Mei 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo merincikan bahwa dari total realisasi pemborongan aset surat utang negara tersebut, porsi pembelian SBN yang dieksekusi melalui pasar sekunder telah menyentuh angka Rp73,28 triliun.
“Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai dengan mekanisme pasar secara terukur, transparan, dan konsisten dengan arah kebijakan moneter yang pruden,” jelas Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, dikutip Kamis (21/5/2026).
BERITA TERKAIT
Outstanding SRBI Tembus Rp921,88 Triliun, Asing Kuasai 24%
Selain mengandalkan instrumen pembelian SBN untuk menyuntikkan likuiditas rupiah ke pasar uang, BI secara agresif memperkuat bauran kebijakan moneter (monetary policy mix) demi menghalau dampak tingginya ketidakpastian geopolitik dan pengetatan moneter global.
Salah satu strategi pro-pasar yang dioptimalkan bank sentral adalah mendongkrak tingkat suku bunga instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah taktis ini terbukti ampuh memperkuat daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memacu aliran modal asing (capital inflow) masuk ke pasar keuangan dalam negeri.
“Hingga data per 18 Mei 2026, posisi outstanding instrumen moneter SRBI telah melesat mencapai Rp921,88 triliun. Menariknya, porsi kepemilikan investor nonresiden (asing) merangkak naik menjadi Rp221,59 triliun atau setara dengan 24,04% dari total outstanding instrumen yang beredar,” urai Perry.
Langkah pendalaman pasar uang lewat SRBI ini dirancang sebagai jangkar penyerapan likuiditas jangka pendek sekaligus menjadi jembatan sinergi yang erat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan dalam mengamankan stabilitas makroekonomi nasional.
Efek Dongkrak BI Rate 50 Bps, Rupiah Rebound dari Level Rp17.700
Langkah pengetatan operasi moneter ini menjadi sangat krusial mengingat nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan depresiasi yang hebat dalam beberapa pekan terakhir akibat gempuran sentimen eksternal.
Merujuk pada data terminal Bloomberg, kurs rupiah sempat tersungkur hingga menyentuh level psikologis baru di posisi Rp17.721 per dolar AS pada awal perdagangan pekan ini.
Kendati demikian, mata uang Garuda berhasil mencatatkan pembalikan arah (rebound) secara instan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) hingga bertengger di level 5,25%. Berkat intervensi ganda dan kenaikan suku bunga tersebut, rupiah sukses memotong kompas pelemahan dan ditutup menguat tipis ke level Rp17.653 per dolar AS pada akhir perdagangan tengah pekan. ***
Rapor Penguatan Instrumen Operasi Moneter Bank Indonesia (Mei 2026)
| Instrumen & Indikator Moneter | Capaian Volume Aktual | Porsi / Rasio Finansial | Catatan Strategis Bank Sentral |
| Total Pembelian SBN (SDA/Pasar) | Rp140,57 Triliun | – | Upaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan |
| Pembelian SBN Pasar Sekunder | Rp73,28 Triliun | 52,13% dari total aksi beli | Dilakukan secara terukur sesuai arah moneter |
| Total Outstanding SRBI | Rp921,88 Triliun | – | Amunisi pro-pasar penarik modal portofolio |
| Kepemilikan Asing di SRBI | Rp221,59 Triliun | 24,04% dari total SRBI | Mengonfirmasi kembalinya kepercayaan investor global |
| Suku Bunga Acuan (BI Rate) | 5,25% | Naik +50 bps | Pengetatan taktis untuk membentengi nilai tukar |
| Posisi Kurs Penutupan Rupiah | Rp17.653 / US$ | Rebound dari Rp17.721 | Volatilitas mulai reda pasca-pengumuman RDG |

















