Stabilitas.id – Literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting bagi generasi muda dalam membangun kebiasaan berinvestasi secara cerdas. Kemampuan memahami peluang, risiko, hingga memilih instrumen investasi yang tepat menjadi faktor utama yang menentukan imbal hasil atau keuntungan. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2025 di Universitas Hindu Indonesia, Bali, yang digelar oleh Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan tiga kunci utama dalam mengelola keuangan yang dikenal sebagai konsep 3M. Pertama, Melek Digital, yaitu memahami profil risiko sebelum berinvestasi serta memprioritaskan instrumen yang resmi dan berizin. Kedua, Merencanakan keuangan sejak dini, untuk membangun kebiasaan mengatur pendapatan, menabung, serta menyediakan dana darurat. Ketiga, berinvestasi ibarat pelari marathon, bukan sprint, karena hasil investasi optimal hanya dapat dicapai dalam jangka panjang.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution juga menekankan pentingnya disiplin pengelolaan pendapatan. Menurutnya, generasi muda perlu menyisihkan pendapatan untuk dana cadangan 3–6 bulan dan kebutuhan situasional. “Setelah cadangan likuiditas cukup, investasikan dana surplus hanya pada instrumen yang dipahami dan pastikan legalitasnya,” ujarnya.
BERITA TERKAIT
Sementara itu, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Masyita Crystallin menyampaikan bahwa setiap investor perlu memahami profil risiko, durasi investasi, hingga pentingnya diversifikasi. Ia juga menambahkan bahwa investasi pendidikan menjadi salah satu instrumen penting bagi generasi muda yang masih menempuh pendidikan.
Dari sisi perlindungan investor, Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Irhamsah menyampaikan pentingnya memastikan izin produk investasi sebelum menempatkan dana. OJK juga menginisiasi Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (PASTI) untuk memberantas aktivitas keuangan ilegal lintas sektor secara terkoordinasi.
Kegiatan LIKE IT di Bali merupakan pelaksanaan ketujuh dan sekaligus menjadi penutup rangkaian sejak awal tahun di enam kota lainnya: Jakarta, Banda Aceh, Manado, Pontianak, Gorontalo, dan Solo. Sejak awal penyelenggaraan, program LIKE IT 2025 telah mengedukasi lebih dari 22.000 generasi muda. Program ini diharapkan dapat meningkatkan akses pengetahuan keuangan, memperluas basis investor ritel, sekaligus memperkuat pasar keuangan nasional. ***





.jpg)










