JAKARTA, Stabilitas— Bank Jateng menargetkan melakukan spin off pada tahun 2018 sampai 2019.Langkah tersebut sebelumnya ditempuh oleh sesama bank daerah, seperti Bank Aceh yang sejak Senin (19/9/2016) lalu beroperasi menjadi Bank Aceh Syariah. Demikian pula dengan yang dilakukan Bank NTB yang merencanakan konversi pada tahun ini.
Saat ini, BPD Jateng tengah melakukan kajian dan komunikasi dengan para stakeholdernya tentang rencana spin off. Antara lain jika BPD Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur bisa disatukan. Perkiraan modal utama yang dibutuhkan untuk melakukan spin off dan masuk dalam jajaran bank syariah nasional sebesar Rp 1 triliun.
“Kami lagi coba exercise juga bagimana kalau kita kumpul yang di Jawa, seperti Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim itu jadi satu saja begitu keren kali ya, ini lagi didiskusikan sama para stakeholder yang terlibat supaya mau gak di spin off. Jadi begini kalau rule of timenya kan saya bilang kalau boleh itu sebelum spin off modalnya minimum harus Rp 1 triliun modal inti loh ya bukan modal tier-tier,” jelas Direktur Unit Usaha Syariah Bank Jateng, Hanawijaya kepada Stabilitas, pekan lalu.
Dia menambahkan, dengan modal Rp 1 triliun, pihaknya memilki cukup waktu untuk mengembangkan BPD Syariah untuk masuk dalam jajaran nasional walaupun beroperasi di daerah.
Hanawijaya menjelaskan, modal menjadi kekuatan yang paling utama untuk melakukan spin off dan belum berani maju pada proses yang lebih jauh sebelum modal terpenuhi. Walau demikian, tanpa melakukan spin off bank-bank syariah tetap dapat mendapatkan keuntungan dari berbagai proyek.
Salah satunya adalah pembiayaan infrastruktur yang produktif seperti yang dilakukan pada Kamis (22/9) dimana Asbadan bersama Bank Muamalat melakukan signing pembiayaan sindikasi syariah jalan tol Soreang-Pasir Koja.
“Ini kan sangat tergantung sama kekuatan modal jadi Bank Jateng sedang memikirkan kayaknya sih kalau belum punya modal Rp 1 triliun kita masih belum punya nyali atau mental untuk melepas. Apa sih keuntungannya kalo ga dilepas? Ya seperti sekarang kita masih bisa bermain di proyek-proyek milyaran masih berani dengan bank syariah karena masih menginduk pada modal induknya. Modal induknya kan 5 triliun, berarti BMPKnya 1,5 triliun. Itu yang jadi sebab kenapa harus bank-bank syariah itu keluar dengan modal 1 triliun” Jelas Hana.
(Ima)




.jpg)










