Dari pembiayaan hijau hingga pemberdayaan UMKM, dari inovasi digital BYOND by BSI hingga operasional ramah lingkungan, langkah-langkah BSI menegaskan bahwa bank syariah mampu berdiri sejajar dengan pemain global dalam menata masa depan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan, melalui komitmen pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Oleh Romualdus San Udika
Di tengah percakapan global tentang masa depan ekonomi, satu istilah kian menggema: ESG — Environmental, Social, and Governance. ESG tidak lagi sekadar jargon korporasi. Ia menjelma sebagai parameter penting dalam menilai daya saing, keberlanjutan, hingga reputasi sebuah institusi keuangan.
Di Indonesia, gagasan ini menemukan lahan suburnya. Prinsip syariah yang sarat nilai amanah, keadilan, dan keberlanjutan, seolah telah lama menyiapkan jalan. Tak heran bila PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), bank syariah terbesar di tanah air, tampil sebagai pionir yang meramu nilai syariah dengan strategi ESG modern.
BERITA TERKAIT
Hingga kuartal I 2025, BSI mencatatkan penyaluran pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp72,6 triliun, setara 25,3% dari total portofolio. Di dalamnya, sekitar Rp14,6 triliun disalurkan untuk green financing—pembangkit energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, hingga pengelolaan limbah—serta Rp58 triliun untuk social financing yang menyasar UMKM dan inklusi keuangan masyarakat.
“Penerapan ESG bagi kami sejalan dengan maqāṣid syariah, yakni menjaga keberlanjutan hidup dan kesejahteraan umat. Tidak hanya untuk saat ini, tapi juga bagi generasi mendatang,” ujar Bob T. Ananta, Wakil Direktur Utama BSI, dalam sebuah kesempatan.

Langkah ini mendapat pengakuan global. Penerbitan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I senilai Rp3 triliun pada 2024 langsung oversubscribe tiga kali lipat, menandakan kepercayaan investor pada sinergi syariah-ESG.
Inovasi Hijau: BYOND by BSI
Transformasi ESG di BSI tidak berhenti di level pembiayaan. Digitalisasi juga menjadi jalur penting. Melalui aplikasi BYOND by BSI, perusahaan berhasil menjahit layanan keuangan syariah dengan prinsip keberlanjutan.
Aplikasi ini dirancang bukan sekadar mempermudah transaksi, tetapi juga menurunkan jejak karbon melalui layanan paperless banking. Nasabah dapat membuka rekening, melakukan transfer, hingga mengakses informasi produk tanpa selembar kertas pun. “BYOND by BSI adalah wajah bank syariah masa depan. Digital, inklusif, dan berorientasi keberlanjutan,” ungkap Wisnu Sunandar, Corporate Secretary BSI.
Dalam aspek sosial, BYOND menjadi kanal penyaluran donasi dan zakat digital. Akses ini membuka ruang partisipasi masyarakat untuk berkontribusi dalam pemberdayaan sosial, bahkan dari daerah terpencil sekalipun. BSI menjadikan teknologi sebagai penghubung nilai kemanusiaan.
Sedangkan dari sisi tata kelola, aplikasi ini menampilkan transparansi transaksi dan informasi produk. Dengan begitu, kepercayaan nasabah terjaga, dan prinsip good governance dijalankan dalam format digital.
Keberhasilan BYOND by BSI mencatatkan dua hal penting. Pertama, jumlah nasabah meningkat, terutama generasi muda yang memang lekat dengan teknologi. Kedua, kesadaran masyarakat mengenai investasi berkelanjutan pun kian tumbuh. Dengan aplikasi ini, BSI menunjukkan bahwa syariah dan ESG bisa berjalan beriringan di era digital.
Inovasi digital BSI searah dengan operasional ramah lingkungan di kantor fisik. Dari penggunaan 139 kendaraan listrik, panel surya, hingga Digital Carbon Tracking yang memantau emisi di lebih dari 1.100 outlet, semua menjadi bagian dari komitmen hijau.
“Syariah selalu mengajarkan keseimbangan. Jadi ESG itu sudah inheren dengan nilai-nilai kami,” ujar Rima Dwi Permatasari, Senior Vice President ESG BSI, menegaskan bahwa inisiatif hijau bukan sekadar kepatuhan, melainkan identitas perusahaan.
UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
Peran sosial BSI dalam agenda ESG menemukan manifestasi paling nyata di sektor UMKM. Bank syariah ini menempatkan UMKM sebagai salah satu tulang punggung ekonomi rakyat, selaras dengan agenda Asta Cita pemerintah yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Melalui program UMKM Naik Kelas, BSI menghadirkan BSI UMKM Center sebagai learning center sekaligus hub pendampingan bisnis. Di sini, para pelaku usaha mendapat pelatihan, akses pembiayaan, sertifikasi halal, hingga peluang business matching dengan pembeli domestik maupun internasional. Hingga Juni 2025, BSI UMKM Center telah berdiri di Aceh, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar dengan lebih dari 4.900 UMKM binaan, meningkat 9% dibanding tahun sebelumnya.
“Kami ingin UMKM menjadi pintu masuk pertumbuhan industri halal. Melalui komunitas, pendampingan, akses pembiayaan, hingga sertifikasi halal, BSI berkomitmen menghadirkan ekosistem yang mendukung usaha kreatif dan berdaya saing,” tutur Wisnu Sunandar.
Komitmen ini bukan sekadar wacana. Per Mei 2025, pembiayaan UMKM BSI mencapai Rp51,80 triliun, naik 11,15% secara tahunan. Pada ajang BSI International Expo 2025, BSI sukses memfasilitasi 30 penandatanganan MoU business matching dengan 52 buyer mancanegara, membuka potensi transaksi hingga USD20,8 juta.

Integrasi layanan juga diperkuat dengan menjadikan 150 UMKM binaan sebagai BSI Agen, yang memasarkan produk syariah sekaligus menyediakan layanan keuangan untuk masyarakat desa. Transformasi digital pun semakin terasa: sekitar 43% UMKM binaan kini sudah beralih menggunakan BYOND by BSI untuk pencatatan dan manajemen keuangan, sebuah langkah yang mempercepat literasi digital sekaligus mendukung transparansi usaha kecil.
Dengan strategi ini, BSI menegaskan posisinya bukan hanya sebagai penyedia layanan finansial, tetapi mitra strategis dalam pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.
Selain itu, BSI menyalurkan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) mencapai Rp727 miliar per Maret 2025, membuktikan bahwa profitabilitas bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Pengakuan dan Harapan
Langkah-langkah ini membuat BSI dinobatkan sebagai Best Islamic Bank for ESG in Asia oleh Euromoney Islamic Finance Awards 2025. Regulator pun mengapresiasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut BSI sebagai teladan bagaimana prinsip syariah mampu selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan nasional.
Namun, jalan ke depan tetap menantang. Literasi green finance di kalangan UMKM masih rendah, sementara kebutuhan investasi hijau terus meningkat. Kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, BUMN, maupun swasta, menjadi kunci.
Singat cerita, BSI menulis bab penting sejarah perbankan syariah Indonesia. ESG tak lagi sebatas kepatuhan, tapi menjadi denyut nadi yang melahirkan ekosistem hijau, sosial, dan tata kelola yang sehat. Dari sukuk hijau, aplikasi BYOND, UMKM Naik Kelas, hingga carbon tracking, semua langkah ini menyatukan syariah dan keberlanjutan dalam bingkai modernitas.
Pada akhirnya, BSI hadir bukan hanya untuk menjaga amanah dana umat, melainkan juga menjaga bumi, mengangkat masyarakat, dan menyiapkan masa depan ekonomi yang berkeadilan. ***





.jpg)










