Stabilitas.id – PT Danantara Asset Management resmi melakukan aksi korporasi besar dengan mengakuisisi empat perusahaan manajer investasi (MI) milik bank-bank pelat merah. Langkah ini menandai babak baru konsolidasi pengelolaan aset negara di bawah payung besar Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/4/2026), Danantara mengambil alih mayoritas saham pada PT BRI Manajemen Investasi, PT PNM Investment Management (anak usaha BRI), PT Mandiri Manajemen Investasi, serta PT BNI Asset Management.
BERITA TERKAIT
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa langkah akuisisi ini merupakan strategi untuk merampingkan struktur organisasi sekaligus memperbesar skala institusi melalui penggabungan unit bisnis yang memiliki karakteristik serupa. “Salah satu caranya adalah dengan melakukan merger beberapa perusahaan yang sebenarnya agak mirip-mirip,” ujar Pandu di Jakarta.
Rincian Transaksi Akuisisi
Berdasarkan dokumen resmi yang dipublikasikan, total nilai transaksi akuisisi empat manajer investasi ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,7 triliun. Berikut adalah rincian porsi kepemilikan dan nilai transaksinya:
-
BRI Manajemen Investasi (BRI MI): Danantara membeli 19,5 juta lembar saham (setara 65%) dengan total nilai transaksi mencapai Rp975 miliar.
-
Mandiri Manajemen Investasi (MMI): Danantara mengakuisisi 1.499 lembar saham milik Mandiri Sekuritas atau setara 99,93%. Transaksi ini tercatat sebagai yang terbesar, yakni senilai Rp1,02 triliun.
-
BNI Asset Management (BNI AM): Pengambilalihan 39,96 juta lembar saham (setara 99,9%) dilakukan dengan total nilai mencapai Rp359,64 miliar.
-
PNM Investment Management (PNM IM): Danantara memborong 109.999 lembar saham atau setara 99,99% kepemilikan dengan nilai transaksi Rp345 miliar.
Akuisisi ini menjadi langkah konkret Danantara dalam memusatkan pengelolaan dana investasi yang selama ini tersebar di berbagai anak usaha perbankan Himbara. Dengan penguasaan mayoritas di hampir seluruh entitas MI tersebut, Danantara diprediksi akan segera melakukan penggabungan operasional guna menciptakan efisiensi biaya dan daya tawar yang lebih kuat di pasar modal.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya pemerintah untuk membentuk kekuatan pengelola investasi yang mampu bersaing di level regional, sekaligus memperkuat tata kelola investasi sektor publik pada kuartal II/2026 ini. ***
















