BERITA TERKAIT
Di dalam bukunya yang berjudul “The Speed of Trust”, Stephen R. Covey Jr mengatakan bahwa kepercayaan mempunyai nilai ekonomi. “When trust go down, speed will also go down and costs will go up. When trust goes up, speed will also go up and costs will go down.”
“Semakin tinggi kepercayaan seseorang, semakin cepat transaksi bisnis dapat terjadi dan semakin kecil ongkos transaksi yang perlu ditanggung karena tidak perlu memalui proses yang sulit. Semakin rendah kepercayaan seseorang, semakin lambat transaksi bisnis terjadi karena tidak adanya kepercayaan dan semakin besar ongkos transaksi yang ditanggung karena kelambatan untuk proses transaksi,” begitu kata Iwan Sunito mengutip tulisan Covey yang juga dikenal luas berkat buku best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”.
Dengan modal kepercayaan itulah, Iwan Sunito bisa membawa perusahaan yang didirikannya, Crown International Holdings Group, merintis bisnis dengan dana awal yang cukup besar dan mampu mengerjakan proyek yang berskala cukup besar. Hebatnya, pria kelahiran Surabaya tahun 1966 silam yang besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah ini banyak mengerjakan proyek propertinya di Australia. Crown Group saat ini dikenal sebagai salah satu perusahaan properti swasta terbesar di Australia. Kota Sidney menjadi basis utama perusahaan ini.
“Ada yang bertanya, apa kuncinya untuk bisa mengumpulkan dana yang besar? Jawaban saya adalah pendirian Crown Group semata-mata diawali dari kepercayaan beberapa teman untuk bergabung bersama,” papar peraih Entrepreneur of The Year 2013 di Australia.
Kepercayaan itu, katanya, adalah sesuatu yang dibangun dari awal dia merintis bisnis arsitektur. Kepercayaan yang besar (big trust) itu bisa diraih karena bisa dipercaya dengan hal-hal yang kecil (small trust). Mulai mengerjakan proyek kecil sewaktu dirinya masih kuliah, Iwan mengaku memegang prinsip bahwa dirinya harus dapat dipercaya. “Kepercayaan yang melebihi dari sebagai orang yang jujur, tapi dipercaya bisa mengerjakan pekerjaan dengan hasil yang melebihi dari ekpekstasi klien saya,” papar pria yang pada Juni 2014 silam meluncurkan buku berjudul “From Borneo to Bloomberg.”
Buku itu bercerita tentang keuletan dan kesuksesan Iwan Sunito. Sebuah kisah perjalanan seorang anak manusia yang lahir di Surabaya, sebelum menghabiskan masa kecilnya di kota kecil Pangkalan Bun, Kalteng, yang dikenal juga sebagai Borneo, kembali ke Surabaya untuk meneruskan SMP dan SMA sebelum akhirnya pindah ke Australia dan mendapatkan gelar Bachelor of Architecture, Honours and Masters of Construction Management dari University of New South Wales. Pada tahun 1994, Iwan membangun perusahaan arsiteknya sebelum mendirikan Crown Group dengan mitra bisnisnya, Paul Sathio.
Crown Group yang didirikan pada 1996, menggarap proyek pertama hunian di Sidney dengan nilai proyek Rp280 miliar, kini berkembang dengan pesat dengan menggarap proyek-proyek properti prestius di Sidney. Sampai 2014 lalu, Crown bisa mengembangkan asetnya menjadi 3,5 miliar dollar AS.
Setiap bisnis memiliki risiko, karena itulah dalam setiap proses pembelian dan perencanaan setiap proyek Iwan selalu mempertimbangkan apa saja “Multiple Exit Strategies” yang diterapkan pada proyek tersebut. Prinsip ini membuat Crown Group tidak tergesa-gesa untuk membeli proyek dan juga merupakan faktor yang menyelamatkan bisnisnya sewaktu krisis ekonomi Asia, resesi di Sidney pada 2004 dan krisis ekonomi dunia pada 1998.
Periode 2007 sampai 2012 yang diwarnai krisis ekonomi global merupakan periode pertumbuhan yang jauh melebihi proyeksi Crown Group. Bisa dibilang, krisis finansial global yang melanda dunia justru menjadi batu loncatan bagi Crown Group untuk “terbang” lebih tinggi lagi. Pihaknya mengambil kesempatan itu untuk membeli proyek dari developer lain yang harus menjual tanah mereka karena mereka memerlukan dana menghadapi krisis. Crown juga melakukan akuisisi demi akuisisi yang membuat nilai proyeknya di tahun 2012 mencapai 2,8 triliun dollar Australia.
Langkah-langkah strategis yang dilakukannya dalam periode ini untuk bertumbuh besar adalah membangun perusahaan yang unggul dalam “Scale’ (skala proyek yang besar), “Speed” (kecepatan dalam proses pembangunan dan penjualan proyek) dan “Space” (Security, Profit, Architecture, Convenient and Ego).
“Prinsip saya, It’s not the bis that will beat the small, but it’s the fast that will beat the slow,” tutur bapak tiga anak ini.





.jpg)










