• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, Februari 22, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Bursa

DBS: Obligasi Masih Jadi Pilihan Utama, Saham Teknologi dan Asia Tetap Menarik di Kuartal IV 2025

oleh Sandy Romualdus
14 Oktober 2025 - 12:00
12
Dilihat
DBS: Obligasi Masih Jadi Pilihan Utama, Saham Teknologi dan Asia Tetap Menarik di Kuartal IV 2025
0
Bagikan
12
Dilihat

Stabilitas.id – Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, menilai kuartal IV 2025 sebagai periode penting bagi investor untuk “bergerak mengikuti arah tren” di tengah pelonggaran kebijakan moneter global, ketidakpastian fiskal Amerika Serikat, dan momentum positif di Asia. Dalam laporan bertajuk Investment Insights 4Q25, Hou menyebut obligasi tetap menjadi aset paling menarik, sementara sektor teknologi dan saham Asia di luar Jepang menawarkan potensi kenaikan yang menjanjikan.

Menurut Hou, pasar global kini diwarnai oleh transisi kebijakan bank sentral, dengan The Federal Reserve (The Fed) telah memulai penurunan suku bunga di tengah tekanan politik dan pelemahan pasar tenaga kerja. Namun, “aktivitas ekonomi AS yang kuat, risiko inflasi akibat tarif, dan kondisi fiskal yang memburuk dapat memicu resistensi pasar,” ujar Hou dalam laporan yang dirilis Senin (13/10/2025).

Hou menjelaskan bahwa langkah The Fed menurunkan suku bunga akan menjadi katalis bagi pergerakan pasar keuangan global hingga 2026. Namun, risiko terhadap kredibilitas kebijakan moneter masih tinggi karena utang pemerintah AS telah menembus 120% terhadap PDB. “Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dominasi fiskal, di mana kebutuhan pemerintah dalam pembiayaan utang dapat mulai mengarahkan kebijakan bank sentral,” kata Hou.

BERITA TERKAIT

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

BI Tahan Suku Bunga 4,75%, Fokus Perkuat Rupiah dan Akselerasi Kredit Sektor Riil

Bank Mandiri: SKDU BI Tunjukkan Ketahanan Dunia Usaha di Tengah Tekanan Biaya

Meracik Nutrisi Finansial ala BCA untuk Investasi Jangka Panjang

Di Eropa, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat di paruh kedua tahun ini setelah sempat direvisi naik menjadi 1,2% di semester pertama. Sementara Jepang menghadapi tekanan ekspor, konsumsi domestik yang tangguh dan kenaikan upah tetap menjadi penopang utama.

Untuk Asia, DBS menilai pasar obligasi kawasan masih menarik di tengah pelonggaran suku bunga lokal dan dinamika utang yang sehat. “Arus eksternal yang menguntungkan dan narasi dolar yang melemah memperkuat momentum positif Asia,” jelas Hou.

Saham: Fokus ke Teknologi dan Asia

Dalam strategi lintas asetnya, Hou menyebut DBS menaikkan posisi saham AS menjadi netral sambil menambah eksposur terhadap sektor teknologi dan pasar Asia non-Jepang (AxJ).

“Kami merekomendasikan pendekatan ‘barbell’ — menyeimbangkan pertumbuhan dari sektor teknologi AS dan valuasi menarik di Asia,” tutur Hou.

Menurutnya, valuasi pasar Asia kini jauh lebih kompetitif dibanding negara maju, di tengah pelemahan dolar AS dan prospek pertumbuhan laba yang solid. Untuk membiayai rotasi portofolio ini, DBS menurunkan peringkat Eropa menjadi netral dan Jepang menjadi underweight dalam tiga bulan mendatang.

Obligasi: Kredit Investasi Lebih Menarik

DBS tetap menempatkan obligasi sebagai aset unggulan kuartal IV tahun ini. “Obligasi lebih disukai daripada saham karena imbal hasil yang menarik dan sifatnya yang defensif,” ungkap Hou.

Ia menambahkan, imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi meningkat karena kurva yield yang makin curam, namun peluang terbaik masih berada pada kredit korporasi berkualitas tinggi (A/BBB) dengan durasi 2–3 tahun.

“Kami lebih memilih kredit dengan peringkat investasi dibanding obligasi pemerintah, karena fundamental korporasi masih solid sementara risiko fiskal pemerintah meningkat,” ujarnya.

Aset Alternatif: Infrastruktur dan Emas

Di tengah pelonggaran fiskal dan moneter AS yang bersamaan, Hou menyoroti pentingnya diversifikasi melalui aset riil. Infrastruktur privat dan emas menjadi dua fokus utama.

“Infrastruktur menawarkan arus kas jangka panjang yang terlindungi dari inflasi, sementara emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap devaluasi moneter dan risiko geopolitik,” katanya.

Harga emas yang telah menembus level USD 3.400 per ons, menurut Hou, berpotensi mencapai USD 4.450 pada paruh pertama 2026.

Taktik Portofolio: Bergerak Tapi Waspada

Secara keseluruhan, Hou menilai reli pasar aset berisiko masih akan berlanjut seiring ekspektasi penurunan suku bunga The Fed hingga lima kali sampai akhir 2026. Namun, risiko pasar tetap tinggi, terutama dari konsentrasi saham teknologi besar dan valuasi yang mendekati ekstrem historis.

“Probabilitas kenaikan tajam aset berisiko tetap tinggi, tetapi investor perlu memanfaatkan momentum ini sambil tetap melindungi sisi bawah portofolio melalui diversifikasi,” tegas Hou.

Dengan pendekatan hati-hati dan selektif, Hou Wey Fook merekomendasikan strategi follow the trend — bergerak mengikuti arah tren, sambil menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan perlindungan risiko di tengah fase baru kebijakan moneter global. ***

Tags: 4Q25Asia non-JepangBank DBSDBSDBS CIOEmasHou Wey Fookinfrastruktur privatpasar obligasirekomendasi investasisaham teknologistrategi investasisuku bungathe fed
 
 
 
 
Sebelumnya

Harga Emas Antam Cetak All Time High, Sentuh Rp2,36 Juta per Gram

Selanjutnya

Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

oleh Sandy Romualdus
20 Februari 2026 - 19:31

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah tegas terhadap praktik manipulasi pasar yang melibatkan pegiat media sosial. Otoritas resmi...

Gadai Emas Syariah

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

oleh Sandy Romualdus
20 Februari 2026 - 16:03

Stabilitas.id – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri mulai membongkar jaringan pencucian uang terkait aktivitas penambangan emas tanpa...

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

oleh Sandy Romualdus
20 Februari 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Arus modal asing (capital inflow) yang diproyeksikan masuk ke pasar modal Indonesia berpotensi menembus angka US$70 miliar atau...

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

oleh Stella Gracia
20 Februari 2026 - 15:43

Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2025 membukukan defisit sebesar US$7,8 miliar. Realisasi ini berbalik...

Purbaya: Kebijakan Pro-Growth Berhasil Balikkan Arah Ekonomi, Fondasi 2026 Lebih Kuat

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

oleh Stella Gracia
20 Februari 2026 - 15:38

Stabilitas.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), prajurit TNI,...

Strategi Transisi Ekonomi: Menkeu Purbaya Siapkan Stimulus ‘Habis-habisan’ di Kuartal I/2026

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

oleh Stella Gracia
20 Februari 2026 - 15:30

Stabilitas.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 atau pajak...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance