Stabilitas.id – Kabut pagi menggantung di lereng Bukit Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di antara kebun teh, suara becak motor terdengar pelan — bukan kendaraan angkutan biasa, melainkan armada baru untuk mengangkut sampah plastik hasil olahan warga. Di tepi jalan, deretan kios kecil memajang produk lokal: teh celup Lawang, keripik ubi, madu hutan. Tak jauh dari sana, anak-anak bermain di bawah gapura bertuliskan “Desa BRILiaN Lawang – Nagari Berdaya, Negeri Sejahtera.”
Nagari Lawang kini menjadi contoh keberhasilan program Desa BRILiaN, inisiatif BRI yang dirancang sejak 2020 untuk menghidupkan ekonomi desa melalui kolaborasi, literasi keuangan, dan inovasi lokal. Tahun 2025, Lawang dinobatkan sebagai Desa BRILiaN terbaik nasional, mengalahkan ribuan desa lain berkat kemampuannya membangun ekowisata berbasis masyarakat yang menyejahterakan warga.
“Nagari Lawang membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat bisa mendorong pertumbuhan ekonomi desa dan menciptakan pembangunan yang inklusif,” ujar Muhammad Candra Utama, Senior Executive Vice President (SEVP) Ultra Mikro BRI dalam siaran pers, 17 Oktober 2025.
BERITA TERKAIT
Lebih dari satu abad lalu, seorang patih bernama Raden Bei Aria Wirjaatmadja mendirikan lembaga kecil pengelola dana kas masjid di Purwokerto — untuk membantu warga yang terjerat lintah darat. Dari lembaga itu lahirlah cikal bakal De Poerwokertosche Hulpen Spaarbank der Indlandsche Hoofden, yang kelak bertransformasi menjadi Bank Rakyat Indonesia.
Selama 130 tahun, semangat itu tak berubah: menghadirkan akses keuangan bagi yang tak tersentuh bank besar. Kini, dalam wajah modernnya, spirit itu hidup melalui dua strategi besar: Desa BRILiaN dan Holding Ultra Mikro (UMi) — keduanya menjahit ulang ekonomi rakyat dari bawah.
BRI dan Gerakan Ekonomi Mikro Baru
Sejak diluncurkan 2020, Desa BRILiaN telah membina 4.909 desa di seluruh Indonesia, termasuk 82 desa di Sumatera Barat. Melalui pendekatan hyperlocal ecosystem, BRI menempatkan masyarakat desa sebagai penggerak utama pembangunan — bukan sekadar penerima bantuan.
“BRILiaN” sendiri singkatan dari Berdaya, Resilient, Inovatif, dan Unggul. Setiap desa dibina agar mampu menggali potensi lokal — baik dari pertanian, wisata, maupun UMKM — dengan pendampingan manajemen usaha dan akses pembiayaan. “Kami ingin setiap desa jadi pusat ekonomi, bukan sekadar lokasi produksi,” ujar Candra.
Program Desa BRILiaN yang kini telah membina 4.909 desa aktif itu bukan sekadar statistik. Tiap desa memuat kisah transformasi — dari dusun yang dulu menggantungkan hidup pada hasil tani, kini menjadi pusat inovasi lokal. Di Sumatra Barat, misalnya, Nagari Lawang menata wisata rakyat berbasis kearifan lokal; di Sulawesi Selatan, Desa Bonto Matene mengembangkan kopi arabika dengan manajemen koperasi digital.
Dari sisi keuangan mikro, Holding UMi tumbuh menjadi ekosistem pemberdayaan terbesar di Asia Tenggara. Per September 2025, 36 juta nasabah aktif telah mengakses pembiayaan ultra mikro dengan total penyaluran lebih dari Rp650 triliun. Sebagian besar dari mereka adalah pelaku usaha perempuan — penjual jajanan pasar, perajin, pedagang kelontong — yang kini mulai naik kelas.
Gerakan ini diperkuat oleh jaringan tabungan mikro yang mencapai 180 juta rekening serta 41.715 klaster usaha binaan. Klaster-klaster ini menjadi simpul kolaborasi yang mempertemukan petani, pengrajin, dan pedagang dalam ekosistem ekonomi lokal yang saling menopang.
Sementara itu, 740 ribu agen BRILink tersebar di penjuru negeri, dari kota besar hingga pulau-pulau terpencil. Mereka bukan hanya perpanjangan tangan bank, tapi juga simbol inklusi keuangan — menghubungkan warga desa dengan layanan formal tanpa harus menempuh jarak berjam-jam ke kantor cabang.
Lebih dari sekadar angka, capaian ini mencerminkan filosofi lama BRI: “membangun dari yang kecil, menguatkan dari yang akar.” Dari sinilah ekonomi rakyat menegakkan dirinya — satu desa, satu usaha, satu harapan pada setiap lembar rupiah yang berputar di tangan rakyat kecil.
Sebut saja di Pulau Madura, Sunaie dulunya hanya pemilik warung kecil. Modalnya pas-pasan, dan setiap kali butuh tambahan, ia harus meminjam ke tetangga dengan bunga tinggi. Semua berubah ketika ia bergabung dalam program Mitra UMi. Pinjaman awalnya hanya Rp2 juta.
Kini, Sunaie telah menjadi Agen BRILink, menghubungkan ratusan warga ke sistem keuangan formal. “Sekarang saya bukan cuma jualan, tapi bantu orang transfer uang, bayar listrik, dan kirim tabungan anak sekolah,” katanya bangga.
Pendapatannya meningkat tiga kali lipat. Tapi bagi Sunaie, hal terpenting bukan uang — melainkan kepercayaan. “Orang-orang datang ke saya bukan karena warung, tapi karena percaya.”
Di ujung timur Indonesia, Siti Khusnul Khotimah memulai bisnis jajanan pasar di Merauke. Ia meminjam Rp3 juta dari PNM Mekaar, bagian dari Holding UMi. Enam bulan kemudian, omzetnya naik menjadi Rp10 juta per bulan. Ia bahkan menggaji dua tetangganya. “Saya ingin usaha ini bisa bantu orang lain juga,” ucapnya.
Sementara di Jawa Tengah, Yulianto di Magelang mengubah kios kecilnya menjadi pusat transaksi mikro. Ia dulu kuli bangunan, kini agen BRILink yang melayani ratusan transaksi tiap minggu. “Saya dulu nasabah, sekarang bantu orang lain jadi nasabah,” katanya.
Fondasi Ekonomi Nasional
BRI melihat desa bukan sebagai objek pembangunan, tapi subjek ekonomi. Melalui Desa BRILiaN dan Holding UMi, desa kini jadi simpul jaringan ekonomi baru. Bukan hanya urusan pinjaman dan tabungan, tapi juga pertumbuhan ekosistem: wisata, pertanian, hingga digitalisasi transaksi.
BRI mencatat, perputaran ekonomi di desa-desa BRILiaN naik rata-rata 27% per tahun, terutama dari sektor UMKM dan wisata lokal. Di Lawang, pembentukan Lawang Adventure Park menghidupkan 200 lapangan kerja baru, sementara omzet UMKM meningkat dua kali lipat dalam dua tahun.
Program ini juga memperkuat inklusi keuangan digital. Lebih dari 740 ribu agen BRILink tersebar hingga pelosok desa, menjadikan BRI satu-satunya bank besar yang menjangkau seluruh kecamatan di Indonesia.
ALhasil pendekatan hyperlocal menjadikan BRI bukan sekadar lembaga finansial, tapi gerakan sosial. Ia hadir di ruang paling sunyi ekonomi rakyat, dari warung kecil hingga kelompok nelayan. Tak menggurui, melainkan mendampingi.
Candra menyebut BRI kini berada di fase “revolusi mikro”, di mana pertumbuhan bukan hanya diukur dari laba, tapi dari jumlah hidup yang berubah. “Kami ingin setiap rupiah yang berputar di desa membawa manfaat sosial yang nyata,” ujarnya.
Inilah warisan Raden Bei Aria Wirjaatmadja yang terus hidup: uang bukan hanya alat transaksi, tapi sarana perubahan sosial. Dan akhirnya, senja pun turun di Lawang. Suara azan bersahut dengan riuh anak-anak bermain bola di halaman sekolah. Di kejauhan, lampu-lampu warung UMKM mulai menyala, menandai malam yang hidup.
Dari Nagari Lawang di barat hingga Merauke di timur, dari tangan-tangan kecil seperti Sunaie, Siti, dan Yulianto, ekonomi Indonesia menemukan denyut baru: ekonomi yang tumbuh dari bawah, bukan turun dari atas.
Dan di tengah semua itu, BRI — bank yang dulu lahir dari “kas masjid” kecil di Purwokerto — tetap memegang teguh misinya: menyalakan terang di tempat yang paling jauh dari sorot lampu kota. ***





.jpg)










