Stabilitas.id – Industri energi global menghadapi guncangan hebat menyusul lumpuhnya 17% kapasitas ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Qatar akibat serangan Iran ke kompleks fasilitas Ras Laffan. Insiden ini diprediksi memicu kerugian hingga US$20 miliar per tahun dengan masa pemulihan mencapai 5 tahun.
CEO QatarEnergy sekaligus Menteri Negara Urusan Energi Qatar, Saad al-Kaabi, mengonfirmasi kerusakan pada dua dari 14 unit produksi LNG serta satu fasilitas gas-to-liquid (GTL). Dampaknya, produksi LNG sebesar 12,8 juta ton per tahun dipastikan terhenti untuk jangka menengah hingga panjang.
“Skala kerusakan ini membuat kawasan energi Teluk mengalami kemunduran 10 hingga 20 tahun. Citra wilayah ini sebagai tempat yang aman telah terguncang,” ujar Al-Kaabi, dikutip dari Reuters, Sabtu (21/3/2026).
Force Majeure Jangka Panjang
Menanggapi disrupsi ini, QatarEnergy resmi memberlakukan status force majeure pada kontrak pasokan LNG jangka panjang. Langkah darurat ini berdampak langsung pada pengiriman energi ke negara-negara konsumen utama seperti Italia, Belgia, Korea Selatan, hingga China.
Al-Kaabi menegaskan bahwa operasional tidak akan kembali normal selama eskalasi konflik di kawasan belum mereda. “Untuk memulai kembali produksi, prasyarat utamanya adalah penghentian konflik,” imbuhnya.
Imbas ke Raksasa Energi Global
Sejumlah korporasi energi dunia yang menjadi mitra strategis Qatar turut terkena imbas. ExxonMobil tercatat memiliki 34% saham di unit LNG S4 dan 30% di unit S6 yang terdampak. Sementara itu, Shell terlibat dalam fasilitas GTL yang diperkirakan membutuhkan waktu perbaikan minimal satu tahun.
Disrupsi ini tidak hanya memukul sektor gas, tetapi juga merembet ke produk turunan energi lainnya:
-
Kondensat: Ekspor turun sekitar 24%.
-
LPG: Pasokan menyusut 13%, mengancam sektor ritel di negara seperti India.
-
Helium: Produksi turun 14%, yang berisiko mengganggu industri semikonduktor di Korea Selatan.
-
Nafta & Sulfur: Masing-masing terkoreksi sebesar 6%.
Proyek Ekspansi Terhenti
Selain kerusakan fisik senilai US$26 miliar, proyek ekspansi raksasa North Field milik Qatar kini ikut terhenti dan terancam tertunda lebih dari satu tahun.
Pemerintah Qatar menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai, termasuk dorongan kepada Amerika Serikat, untuk menjauhkan fasilitas minyak dan gas dari sasaran militer guna menghindari dampak sistemik terhadap ekonomi global. “Jika Israel menyerang Iran, itu urusan mereka. Tidak ada kaitannya dengan kami dan kawasan,” tegas Al-Kaabi. ***
















