Stabilitas.id – Dunia usaha Indonesia berduka. Michael Bambang Hartono, salah satu pilar utama di balik imperium bisnis Djarum Group dan Bank Central Asia (BCA), tutup usia pada Kamis (19/3/2026) pukul 13.15 waktu Singapura.
Wafatnya Bambang Hartono dalam usia 86 tahun menandai akhir dari sebuah era kepemimpinan taipan yang secara konsisten menduduki puncak daftar miliarder dunia selama lebih dari dua dekade. Berdomisili di Kudus, Jawa Tengah, almarhum dikenal sebagai sosok rendah hati namun memiliki visi strategis yang mengubah wajah ekonomi digital dan perbankan tanah air.
Visi Strategis: Dari Kretek ke Takhta Perbankan
BERITA TERKAIT
Perjalanan bisnis Bambang Hartono adalah narasi tentang ketajaman membaca peluang. Meski akar kekayaannya bermula dari pabrikan rokok kretek Djarum di Kudus, lonjakan signifikan kekayaan keluarga Hartono terjadi pasca-krisis ekonomi 1997-1998.
Keputusannya bersama sang adik, Robert Budi Hartono, untuk mengambil alih kendali PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dari Grup Salim terbukti menjadi masterstroke dalam sejarah korporasi Indonesia. Di bawah pengaruh keluarga Hartono, BCA bertransformasi menjadi bank swasta terbesar dengan kapitalisasi pasar yang berkali-kali lipat memecahkan rekor Bursa Efek Indonesia.
Digitalisasi dan Manuver ke Kendaraan Listrik
Bambang Hartono bukan tipe pengusaha yang terpaku pada masa lalu. Di bawah kepemimpinannya, Djarum Group melakukan lompatan besar ke ekonomi baru (new economy).
Salah satu tonggak sejarahnya adalah melantainya PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli di bursa pada 2022. Aksi IPO tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan raihan dana segar US$510 juta, mengukuhkan dominasi grup di sektor e-commerce.
Tidak berhenti di sana, visi masa depan Bambang juga menyentuh isu keberlanjutan. Melalui merek elektronik Polytron, grup ini secara agresif merambah pasar kendaraan listrik (EV) dengan meluncurkan dua model mobil listrik perdana pada 2025. Langkah ini menunjukkan ambisi almarhum untuk menjaga relevansi grup di tengah transisi energi global.
Legasi dalam Angka
Per 1 Maret 2026, Forbes menempatkan Michael Bambang Hartono di peringkat 149 daftar orang terkaya di dunia. Dengan estimasi kekayaan mencapai US$18,9 miliar atau sekitar Rp319,05 triliun, ia bersanding dengan nama-nama besar global seperti Elon Musk dan Jeff Bezos.
Kekayaannya yang terdiversifikasi di sektor perbankan, teknologi, pertambangan, hingga properti premium, menjadi bukti nyata tangan dinginnya dalam mengelola risiko dan ekspansi.
Kepergian Bambang Hartono meninggalkan warisan berupa tata kelola bisnis yang solid dan semangat inovasi yang tak kunjung padam. Bagi jagat bisnis nasional, ia bukan sekadar pemilik aset, melainkan simbol ketangguhan pengusaha domestik dalam menavigasi berbagai krisis global. ***
















