Jakarta – Seperti tahun sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI) kembali menetapkan dividen pay out ratio dari laba bersih 2011 sebesar 20 persen. Hal itu disetujui pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) hari ini. RUPST ini dihadiri oleh pemegang saham yang mewakili 85,12 persen dari seluruh jumlah saham yang dikeluarkan.
Deviden payout ratio adalah sebuah parameter untuk mengukur besaran dividen yang akan dibagikan ke pemegang saham. Formulanya, nilai dividen yang dibagikan per saham dibanding dengan nilai laba bersih per saham.
"Dengan demikian, dari laba bersih BRI tahun buku 2011 yaitu Rp15,08 triliun, sebesar Rp3,01 triliun dibagikan sebagai dividen," kata Direktur Utama BRI, Sofyan Basir dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (28/3/2012).
BERITA TERKAIT
Rapat umum pemegang saham BRI itu juga telah menetapkan penggunaan laba bersih tahun buku 2011 untuk cadangan, guna mendukung investasi sebesar satu persen atau Rp150 miliar. Selain itu, untuk kemitraan dan program bina lingkungan sebesar empat persen atau Rp603 miliar. "Sisa laba bersih tahun buku 2011 sebesar 75 persen atau Rp11 triliun akan menambah laba ditahan BRI," ungkapnya.
Selain itu, Sofyan menambahkan, RUPST menyetujui laporan tahunan 2011 dan mengesahkan laporan tugas pengawasan dewan komisaris serta laporan keuangan perseroan untuk tahun buku 2011. Rapat juga mengesahkan laporan tahunan program kemitraan, dan program bina lingkungan tahun buku 2011 serta menyetujui perubahan pasal 24 Anggaran Dasar BRI. "Peningkatan laba yang dicapai merupakan hasil dari pertumbuhan kredit yang berkualitas, peningkatan fee based income, serta terjaganya efisiensi operasional," kata dia.
Menurut dia, tahun 2011 merupakan tahun konsolidasi bagi BRI. Konsolidasi tidak hanya ditujukan untuk perbaikan kualitas kredit, tetapi juga bagi revitalisasi bisnis inti BRI yakni segmen bisnis mikro. "Dari konsolidasi dan revitalisasi tersebut, diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat bagi pertumbuhan bisnis BRI ke depan," tegasnya.
Sementara untuk tahun ini, kendati memutuskan deviden pay out ratio sebesar 20 persen, Direktur Keuangan BRI Ahcmad Baikuni menegaskan bahwa BRI telah melakukan perhitungan CAR yang masih di batas aman, jika kredit BRI tetap di level 20 persen. “Kita masih bisa jaga kar di level 14-15 persen jika kendati harus membayar dividen 20 persen,” katanya di kesempatan yang sama.
Pergantian Komisaris
Sementara itu, dalam RUPST itu diputuskan perubahan dewan komisaris dan direksi. Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mustafa Abubakar, diangkat sebagai wakil komisaris utama. "Komisaris itu atas keputusan Menteri BUMN, tetapi setahu kami, Pak Mustafa sudah sehat," kata Sofyan.
Adapun susunan dewan komisaris dan direksi BRI setelah berakhirnya RUPST yaitu Komisaris Utama/Komisaris Independen: Bunasar Sanim, Wakil Komisaris Utama: Mustafa Abubakar, Komisaris: Heru Lelono, Hermanto Siregar, Vencentius Sonny Loho, Aviliani, Adhyaksa Dault, dan Ahmad Fuad.
Sementara jajran direksi antara lain Sofyan Basir yang masih dipercaya sebagai Direktur Utama, dan direksi lainnya yakni Sarwono Sudarto, Achmad Baiquni, Sulaiman Arif Arianto, Lenny Sugiat, A Toni Soetirto, Asmawi Syam, Suprajarto, Djarot Kusumayakti, Randi Anto, dan Gatot Mardiwasisto.

















