• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Humaniora

Ecoground 2025: Ketika Gerakan untuk Bumi Menjadi Budaya Baru Perkotaan

oleh Sandy Romualdus
8 November 2025 - 16:28
4
Dilihat
Ecoground 2025: Ketika Gerakan untuk Bumi Menjadi Budaya Baru Perkotaan
0
Bagikan
4
Dilihat

Stabilitas.id – Sore itu, udara di kawasan Taman Kota PERURI, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Matahari belum sepenuhnya turun, tapi warna keemasan sudah mulai membingkai dedaunan di sekeliling taman kota yang berada tepat di antara gedung-gedung perkantoran Jakarta. Trotoar terlihat diramaikan anak muda dengan sepatu lari, ibu-ibu muda dengan stroller, hingga kelompok komunitas peduli lingkungan yang mengenakan kaos bertuliskan “Our Earth Needs Us.”

Tak ada panggung besar atau baliho megah sebagaimana festival gaya metropolitan biasanya. Langkah Membumi Ecoground 2025 dibuka dengan kesederhanaan yang terasa sengaja dipilih. Yang menjadi sorotan bukan kemewahan acara, melainkan makna yang ingin disampaikan: kolaborasi untuk bumi perlu menjadi hal sehari-hari, bukan lagi proyek sesaat yang hanya ramai pada hari peringatan.

Festival ini resmi dibuka pada 8 November 2025 dan berlangsung hingga dua hari ke depan. Tema yang diangkat tahun ini, “CollaborAction for The Earth,” tampak seperti slogan promosi biasa. Namun setelah menyaksikan prosesi pembukanya, tema itu berubah menjadi sebuah deklarasi global: kita tidak bisa lagi hanya berbicara tentang solusi lingkungan. Kita harus bertindak.

BERITA TERKAIT

BRI Group Raih Empat Penghargaan Bergengsi dari Alpha Southeast Asia 2025

Promo BOGOF hingga Diskon 80%, BlibliStyle Outlet Perkuat Strategi Offline Blibli

Tak Perlu Tunggu Gajian, Blibli Hadirkan Promo Tengah Bulan Cuan Januari 2026

Menjaga Kepercayaan di Tengah Riuh Inovasi, Cara Blibli Menutup 2025 dengan Prestasi dan Relevansi

Di tengah area utama, sebuah pot tanaman hijau berpindah tangan. Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menyerahkan tanaman itu kepada Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono. Diikuti Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Cahyadi, dan Chief Corporate Officer & Investor Relations Blibli, Eric Winarta. Keempatnya kemudian menabuh drum secara bersamaan, diiringi hentakan kaki di atas lantai kinetik. Langkah-langkah itu memunculkan daya listrik kecil—simbol bahwa energi kolaborasi tak boleh berhenti di seremoni.

Di antara tepuk tangan para tamu undangan dan gemuruh drum, pesan simbolis itu terasa sangat jelas: setiap langkah manusia menyisakan energi dan dampak. Tinggal manusia sendiri yang memilih apakah jejaknya menyelamatkan bumi atau merusaknya.

COO & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo

Generasi yang Menolak Menjadi Penonton

Dalam sambutan pembukaannya, Lisa mengungkap data menarik. Berdasarkan temuan internal Blibli, hampir 90 persen peserta Ecoground 2025 adalah Gen Z. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah cermin dari realitas sosial hari ini: generasi muda bukan lagi penonton dalam isu keberlanjutan. Mereka datang membawa keresahan, harapan, dan—lebih penting—kebiasaan baru.

Di tengah isu polusi udara, krisis iklim, dan meningkatnya volume sampah plastik, generasi ini memilih jalur yang tidak lagi menunggu pemerintah atau korporasi bertindak lebih dulu. Mereka bergerak lebih cepat, seringkali tanpa dinyana. Mereka menolak untuk menunda perubahan.

Tahun ini, Ecoground menggandeng Cinta Laura sebagai Changemaker Partner. Bersama lebih dari 40 anggota komunitas dan relawan lingkungan, Blibli telah mendatangi kampus-kampus di Jabodetabek untuk membumikan isu keberlanjutan. Mereka berbicara bukan hanya soal kesadaran lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi, tanggung jawab sosial, dan masa depan kota.

Seseorang mungkin melihatnya sebagai kampanye merek. Tapi di sisi lain, ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: keberlanjutan telah menjadi bahasa generasi baru—bahkan menjadi bagian dari eksistensi sosialnya.

Tiga Ancaman yang Tak Lagi Bisa Ditunda

Di panggung Eco Stage, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyampaikan tiga tantangan paling mendesak bagi Indonesia: perubahan iklim, krisis sampah, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Ketiganya bukan isu baru. Namun yang membuatnya berbeda sekarang adalah skala dan kecepatannya. Cuaca lebih ekstrem, banjir datang lebih sering, dan sampah plastik tak lagi bisa ditampung oleh TPA.

Diaz bukan hanya menyampaikan apresiasi kepada Blibli, Tiket, dan ekosistem pendukungnya. Ia membuka peluang kerja sama lebih luas di masa depan. Kolaborasi sektor swasta dan pemerintah memang bukan hal baru, tapi bentuknya semakin bergeser. Yang utama bukan lagi sekadar donasi atau kampanye edukasi, melainkan integrasi strategi, inovasi, dan model bisnis.

Di sinilah festival seperti Ecoground menemukan relevansinya. Ia bukan hanya wadah aktivisme komunitas, tetapi ruangan yang mempertemukan penggerak dari banyak ranah: pemerintah, swasta, UMKM, masyarakat, hingga perguruan tinggi.

Sisi Bisnis dari Keberlanjutan

Setelah seremoni pembukaan, langkah para undangan mengarah ke area Blibli Tiket Action. Ini bukan sekadar booth pameran. Ini adalah cerminan bagaimana Blibli menerjemahkan isu lingkungan ke dalam mekanisme internal perusahaan.

Beberapa inovasi yang ditampilkan: eco-packaging, fasilitas daur ulang, informasi edukatif tentang pengurangan jejak karbon, dan tampilan solusi ramah lingkungan yang terintegrasi dalam ekosistem Blibli dan Tiket.

Dalam bahasa sederhana, Blibli sedang menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan proses yang dapat diukur, dimonitor, dan terus diperbaiki. Di sini, keberlanjutan bergeser dari posisi sebagai strategi CSR menjadi fondasi operasional yang menyatu dengan teknologi, logistik, dan pengalaman pelanggan.

Perubahan ini signifikan. Di banyak perusahaan besar di Indonesia, keberlanjutan masih ditempatkan sebagai departemen terpisah atau program kampanye. Ecoground menunjukkan sebaliknya: keberlanjutan adalah model bisnis masa depan.

Ketika UMKM Lokal Menjadi Motor Gerakan Hijau

Namun yang paling menarik bukan hanya peran korporasi atau pemerintah. Justru yang bersinar adalah UMKM lokal yang hadir sebagai peserta di area Eco Market. Mereka menunjukkan bagaimana ide kreatif mampu menjawab persoalan lingkungan yang kompleks. Dua contoh mencolok yakni Organic Culture – Banyuwangi dan Replast.

Organic Culture – Banyuwangi

Mereka memproduksi pakaian dari material organik bersertifikasi FSC dan PEFC. Bahkan kancing dan aksesorinya dibuat dari limbah plastik hasil beach clean-up. Untuk energi produksi, mereka menggunakan energi terbarukan dari panel surya.

Hasilnya bukan hanya produk fashion. Ini jadi gerakan yang mencatat penurunan emisi karbon hingga 1.306 persen. Organic Culture membawa pesan kuat: keberlanjutan itu tidak mahal dan tidak ribet. Ia hanya butuh komitmen.

Replast

Startup ini mengubah limbah plastik menjadi kursi, meja, hingga medali dan plakat acara. Limbah dikumpulkan melalui program donasi sampah, bekerja sama dengan komunitas, kampus, dan kelompok peduli lingkungan. Replast bukan sekadar brand, tapi sistem ekonomi sirkular yang melibatkan banyak pihak.

Ada ruang inspirasi yang menular dari keduanya. Bahwa gerakan keberlanjutan tidak harus dimulai dari skala besar. Bahkan bisa dimulai dari hal yang sangat kecil—seperti memisahkan sampah, mengolah kembali limbah, atau memilih produk lokal yang ramah lingkungan.

Semua Ikut Bergerak

Tak seperti festival komersial yang memanjakan penonton sebagai konsumen pasif, Ecoground justru mengajak pengunjung menjadi pelaku. Dalam dua hari penyelenggaraan, lebih dari 40 kelas dan aktivitas dibuka untuk publik. Ada empat area utama:

  1. Eco Motion – kelas olahraga, yoga, hingga wellness, dengan sentuhan kesadaran ekologis.
  2. Eco Market – produk UMKM ramah lingkungan.
  3. Eco Labs – live demo eco-cooking, eco printing workshop, kelas matcha, hingga mindful beauty.
  4. Eco Stage – sesi diskusi, talkshow, dan edukasi keberlanjutan.

Setiap kelas seperti dibuat untuk mematahkan alasan umum: bahwa menjadi ramah lingkungan itu sulit, mahal, dan tidak praktis. Di sini, keberlanjutan terasa dekat, bahkan menyenangkan.

Kesadaran yang dibangun bukan lagi sekadar tentang mengurangi plastik atau mengolah sampah. Tapi bagaimana gaya hidup berkelanjutan menjadi budaya baru kota.

Bukan Sekadar Festival

Saat hari mulai gelap dan lampu-lampu taman menyala, ada refleksi yang muncul dari festival ini. Gerakan lingkungan tidak lagi diperankan oleh satu pihak. Tidak hanya pemerintah, aktivis, atau bisnis. Melainkan semua pihak yang saling menguatkan.

Ecoground mengingatkan kita bahwa: keberlanjutan bukan lagi tema proyek, bukan sekadar kampanye, bukan program jangka pendek. Ia sudah berkembang menjadi identitas generasi dan budaya kolektif.

Dari simbol penyerahan tanaman, lantai kinetik, hingga UMKM lokal yang membawa gagasan transformasi lingkungan dalam produk mereka, Ecoground membangun karakter baru bagi kota: kota yang bergerak bukan hanya untuk hidup, tapi juga untuk bertahan.

Dan festival ini meninggalkan satu pesan yang pelan namun kuat: perubahan tidak dimulai dari keputusan besar. Tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama—kolaborasi yang tidak hanya berhenti sebagai konsep, melainkan menjadi kebiasaan.

Ketika festival usai, yang tersisa bukanlah panggung atau dekorasi. Tapi kebiasaan baru. Cara melihat kota dengan kacamata ekologis. Cara memahami lingkungan sebagai bagian dari keseharian.

Dan mungkin, di situlah inti gerakan ini: bahwa melindungi bumi tidak lagi menjadi sesuatu yang dipaksakan. Ia tumbuh seperti budaya baru—organik, kolektif, dan membumi. ***

Tags: acara lingkunganBliblicircular economyCollaborAction for The Eartheco lifestyleekosistem Blibli Tiket.Jakarta SelatanLangkah Membumi Ecoground 2025SustainabilityUMKM Hijau
 
 
 
 
Sebelumnya

CIMB Niaga Salurkan Pembiayaan Sindikasi Syariah Rp3,3 Triliun Dukung Energi Bersih di Batam

Selanjutnya

BTN Salurkan Kredit Program Perumahan untuk UMKM Yogyakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tak Hanya Otomotif, Kapal Cepat Besutan Warga Binaaan Sukamiskin Curi Perhatian di IIMS

Tak Hanya Otomotif, Kapal Cepat Besutan Warga Binaaan Sukamiskin Curi Perhatian di IIMS

oleh Stella Gracia
19 Februari 2026 - 11:27

Stabilitas.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin melakukan manuver ekspansi produk hasil pembinaan kemandirian dengan memamerkan Kapal SB-6 (Suka...

Gaya Raya by Blibli Kurasi 20 Brand Modest Wear, Diskon hingga 75% Sambut Ramadan-Lebaran

Gaya Raya by Blibli Kurasi 20 Brand Modest Wear, Diskon hingga 75% Sambut Ramadan-Lebaran

oleh Sandy Romualdus
12 Februari 2026 - 11:46

Stabilitas.id — Menyambut Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri 2026, PT Global Digital Niaga Tbk. (Blibli) menghadirkan Gaya Raya, destinasi kurasi...

HRTA Gold Insights November 2025: Memahami Tren Harga Emas Terkini dan Peluang Ke Depan

Harga Emas Sempat Fluktuatif, HRTA Melihat Permintaan Tetap Kuat

oleh Sandy Romualdus
9 Februari 2026 - 16:14

Stabilitas.id – Harga emas global mencatatkan lonjakan signifikan di awal tahun 2026, di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global....

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

oleh Stella Gracia
8 Februari 2026 - 18:24

Stabilitas.id — PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) bersama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dengan dukungan MUFG Bank,...

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

BNI Dorong Edukasi Lingkungan, Fondasi Keberlanjutan Aksi Bersih Pantai di Bali

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 14:34

Stabilitas.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui satu kali...

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai, Perkuat TPS3R Sekar Tanjung di Bali

oleh Sandy Romualdus
7 Februari 2026 - 18:43

Stabilitas.id — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) melanjutkan aksi bersih Pantai Mertasari, Bali, dengan menyalurkan bantuan sarana pengelolaan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
BTN Salurkan Kredit Program Perumahan untuk UMKM Yogyakarta

BTN Salurkan Kredit Program Perumahan untuk UMKM Yogyakarta

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance