Stabilitas.id – Sore itu, udara di kawasan Taman Kota PERURI, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Matahari belum sepenuhnya turun, tapi warna keemasan sudah mulai membingkai dedaunan di sekeliling taman kota yang berada tepat di antara gedung-gedung perkantoran Jakarta. Trotoar terlihat diramaikan anak muda dengan sepatu lari, ibu-ibu muda dengan stroller, hingga kelompok komunitas peduli lingkungan yang mengenakan kaos bertuliskan “Our Earth Needs Us.”
Tak ada panggung besar atau baliho megah sebagaimana festival gaya metropolitan biasanya. Langkah Membumi Ecoground 2025 dibuka dengan kesederhanaan yang terasa sengaja dipilih. Yang menjadi sorotan bukan kemewahan acara, melainkan makna yang ingin disampaikan: kolaborasi untuk bumi perlu menjadi hal sehari-hari, bukan lagi proyek sesaat yang hanya ramai pada hari peringatan.
Festival ini resmi dibuka pada 8 November 2025 dan berlangsung hingga dua hari ke depan. Tema yang diangkat tahun ini, “CollaborAction for The Earth,” tampak seperti slogan promosi biasa. Namun setelah menyaksikan prosesi pembukanya, tema itu berubah menjadi sebuah deklarasi global: kita tidak bisa lagi hanya berbicara tentang solusi lingkungan. Kita harus bertindak.
BERITA TERKAIT
Di tengah area utama, sebuah pot tanaman hijau berpindah tangan. Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menyerahkan tanaman itu kepada Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono. Diikuti Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Cahyadi, dan Chief Corporate Officer & Investor Relations Blibli, Eric Winarta. Keempatnya kemudian menabuh drum secara bersamaan, diiringi hentakan kaki di atas lantai kinetik. Langkah-langkah itu memunculkan daya listrik kecil—simbol bahwa energi kolaborasi tak boleh berhenti di seremoni.
Di antara tepuk tangan para tamu undangan dan gemuruh drum, pesan simbolis itu terasa sangat jelas: setiap langkah manusia menyisakan energi dan dampak. Tinggal manusia sendiri yang memilih apakah jejaknya menyelamatkan bumi atau merusaknya.

Generasi yang Menolak Menjadi Penonton
Dalam sambutan pembukaannya, Lisa mengungkap data menarik. Berdasarkan temuan internal Blibli, hampir 90 persen peserta Ecoground 2025 adalah Gen Z. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah cermin dari realitas sosial hari ini: generasi muda bukan lagi penonton dalam isu keberlanjutan. Mereka datang membawa keresahan, harapan, dan—lebih penting—kebiasaan baru.
Di tengah isu polusi udara, krisis iklim, dan meningkatnya volume sampah plastik, generasi ini memilih jalur yang tidak lagi menunggu pemerintah atau korporasi bertindak lebih dulu. Mereka bergerak lebih cepat, seringkali tanpa dinyana. Mereka menolak untuk menunda perubahan.
Tahun ini, Ecoground menggandeng Cinta Laura sebagai Changemaker Partner. Bersama lebih dari 40 anggota komunitas dan relawan lingkungan, Blibli telah mendatangi kampus-kampus di Jabodetabek untuk membumikan isu keberlanjutan. Mereka berbicara bukan hanya soal kesadaran lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi, tanggung jawab sosial, dan masa depan kota.
Seseorang mungkin melihatnya sebagai kampanye merek. Tapi di sisi lain, ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: keberlanjutan telah menjadi bahasa generasi baru—bahkan menjadi bagian dari eksistensi sosialnya.
Tiga Ancaman yang Tak Lagi Bisa Ditunda
Di panggung Eco Stage, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyampaikan tiga tantangan paling mendesak bagi Indonesia: perubahan iklim, krisis sampah, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Ketiganya bukan isu baru. Namun yang membuatnya berbeda sekarang adalah skala dan kecepatannya. Cuaca lebih ekstrem, banjir datang lebih sering, dan sampah plastik tak lagi bisa ditampung oleh TPA.
Diaz bukan hanya menyampaikan apresiasi kepada Blibli, Tiket, dan ekosistem pendukungnya. Ia membuka peluang kerja sama lebih luas di masa depan. Kolaborasi sektor swasta dan pemerintah memang bukan hal baru, tapi bentuknya semakin bergeser. Yang utama bukan lagi sekadar donasi atau kampanye edukasi, melainkan integrasi strategi, inovasi, dan model bisnis.
Di sinilah festival seperti Ecoground menemukan relevansinya. Ia bukan hanya wadah aktivisme komunitas, tetapi ruangan yang mempertemukan penggerak dari banyak ranah: pemerintah, swasta, UMKM, masyarakat, hingga perguruan tinggi.
Sisi Bisnis dari Keberlanjutan
Setelah seremoni pembukaan, langkah para undangan mengarah ke area Blibli Tiket Action. Ini bukan sekadar booth pameran. Ini adalah cerminan bagaimana Blibli menerjemahkan isu lingkungan ke dalam mekanisme internal perusahaan.
Beberapa inovasi yang ditampilkan: eco-packaging, fasilitas daur ulang, informasi edukatif tentang pengurangan jejak karbon, dan tampilan solusi ramah lingkungan yang terintegrasi dalam ekosistem Blibli dan Tiket.
Dalam bahasa sederhana, Blibli sedang menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan proses yang dapat diukur, dimonitor, dan terus diperbaiki. Di sini, keberlanjutan bergeser dari posisi sebagai strategi CSR menjadi fondasi operasional yang menyatu dengan teknologi, logistik, dan pengalaman pelanggan.
Perubahan ini signifikan. Di banyak perusahaan besar di Indonesia, keberlanjutan masih ditempatkan sebagai departemen terpisah atau program kampanye. Ecoground menunjukkan sebaliknya: keberlanjutan adalah model bisnis masa depan.
Ketika UMKM Lokal Menjadi Motor Gerakan Hijau
Namun yang paling menarik bukan hanya peran korporasi atau pemerintah. Justru yang bersinar adalah UMKM lokal yang hadir sebagai peserta di area Eco Market. Mereka menunjukkan bagaimana ide kreatif mampu menjawab persoalan lingkungan yang kompleks. Dua contoh mencolok yakni Organic Culture – Banyuwangi dan Replast.
Organic Culture – Banyuwangi
Mereka memproduksi pakaian dari material organik bersertifikasi FSC dan PEFC. Bahkan kancing dan aksesorinya dibuat dari limbah plastik hasil beach clean-up. Untuk energi produksi, mereka menggunakan energi terbarukan dari panel surya.
Hasilnya bukan hanya produk fashion. Ini jadi gerakan yang mencatat penurunan emisi karbon hingga 1.306 persen. Organic Culture membawa pesan kuat: keberlanjutan itu tidak mahal dan tidak ribet. Ia hanya butuh komitmen.
Replast
Startup ini mengubah limbah plastik menjadi kursi, meja, hingga medali dan plakat acara. Limbah dikumpulkan melalui program donasi sampah, bekerja sama dengan komunitas, kampus, dan kelompok peduli lingkungan. Replast bukan sekadar brand, tapi sistem ekonomi sirkular yang melibatkan banyak pihak.
Ada ruang inspirasi yang menular dari keduanya. Bahwa gerakan keberlanjutan tidak harus dimulai dari skala besar. Bahkan bisa dimulai dari hal yang sangat kecil—seperti memisahkan sampah, mengolah kembali limbah, atau memilih produk lokal yang ramah lingkungan.
Semua Ikut Bergerak
Tak seperti festival komersial yang memanjakan penonton sebagai konsumen pasif, Ecoground justru mengajak pengunjung menjadi pelaku. Dalam dua hari penyelenggaraan, lebih dari 40 kelas dan aktivitas dibuka untuk publik. Ada empat area utama:
- Eco Motion – kelas olahraga, yoga, hingga wellness, dengan sentuhan kesadaran ekologis.
- Eco Market – produk UMKM ramah lingkungan.
- Eco Labs – live demo eco-cooking, eco printing workshop, kelas matcha, hingga mindful beauty.
- Eco Stage – sesi diskusi, talkshow, dan edukasi keberlanjutan.
Setiap kelas seperti dibuat untuk mematahkan alasan umum: bahwa menjadi ramah lingkungan itu sulit, mahal, dan tidak praktis. Di sini, keberlanjutan terasa dekat, bahkan menyenangkan.
Kesadaran yang dibangun bukan lagi sekadar tentang mengurangi plastik atau mengolah sampah. Tapi bagaimana gaya hidup berkelanjutan menjadi budaya baru kota.
Bukan Sekadar Festival
Saat hari mulai gelap dan lampu-lampu taman menyala, ada refleksi yang muncul dari festival ini. Gerakan lingkungan tidak lagi diperankan oleh satu pihak. Tidak hanya pemerintah, aktivis, atau bisnis. Melainkan semua pihak yang saling menguatkan.
Ecoground mengingatkan kita bahwa: keberlanjutan bukan lagi tema proyek, bukan sekadar kampanye, bukan program jangka pendek. Ia sudah berkembang menjadi identitas generasi dan budaya kolektif.
Dari simbol penyerahan tanaman, lantai kinetik, hingga UMKM lokal yang membawa gagasan transformasi lingkungan dalam produk mereka, Ecoground membangun karakter baru bagi kota: kota yang bergerak bukan hanya untuk hidup, tapi juga untuk bertahan.
Dan festival ini meninggalkan satu pesan yang pelan namun kuat: perubahan tidak dimulai dari keputusan besar. Tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama—kolaborasi yang tidak hanya berhenti sebagai konsep, melainkan menjadi kebiasaan.
Ketika festival usai, yang tersisa bukanlah panggung atau dekorasi. Tapi kebiasaan baru. Cara melihat kota dengan kacamata ekologis. Cara memahami lingkungan sebagai bagian dari keseharian.
Dan mungkin, di situlah inti gerakan ini: bahwa melindungi bumi tidak lagi menjadi sesuatu yang dipaksakan. Ia tumbuh seperti budaya baru—organik, kolektif, dan membumi. ***





.jpg)










