• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Editorial : Kripto, CBDC, dan Keambiguannya

by Sandy Romualdus
14 Juli 2022 - 09:12
55
VIEWS
Bappebti Awasi Pelaku Usaha Aset Kripto di Indonesia
0
SHARES
55
VIEWS

SUDAH sejak beberapa tahun belakangan ini Bank Indonesia sejatinya sudah disibukkan oleh perkembangan yang terjadi di perekonomian. Kebijakan menangkal dampak pandemi mungkin salah satu dari persoalan yang menjadi perhatian utama otoritas. Namun demikian, ada masalah lain yang tidak kalah menuntut perhatian ekstra. Ya, perkembangan teknologi blockchain.

Perkembangan teknologi ini, boleh dibilang telah lebih dulu mencuat dibanding teknologi digital yang marak tiga tahun belakangan. Teknologi yang disebu-sebut sebagai internet generasi kedua itu lahir pada 2009 lalu, bersamaan dengan kemunculan bitcoin, dari seseorang yang memiliki nama di dunia maya Satoshi Nakamoto. Dengan blockchain, seseorang tidak membutuhkan institusi perantara untuk melakukan transfer dana ke pihak lain, dalam waktu lebih singkat, biaya lebih murah, dan bahkan jauh lebih aman.

  • Baca juga: Akun Kripto Tembus 22,9 Juta: OJK Perketat Ruang Uji Coba Inovasi Keuangan Digital

Blockchain, dalam bahasa sederhana adalah basis data global online—yang bisa dipakai siapa saja di seluruh dunia yang terkoneksi internet. Tak seperti basis data lain yang biasanya dimiliki oleh institusi tertentu seperti bank atau pemerintah, blockchain tidak dimilik siapa-siapa. Hal itu membuatnya lebih transparan karena bisa diakses oleh siapa saja.

Bank sentral lantas saja memberikan sorotan yang cukup intensif pada teknologi tersebut. Sebabnya tentu karena teknologi yang diwakili oleh kehadiran mata uang digital atau cryptocurrency berpotensi ‘mengganggu’ keberadaan fiat money yang digunakan saat ini.

BERITA TERKAIT

Akun Kripto Tembus 22,9 Juta: OJK Perketat Ruang Uji Coba Inovasi Keuangan Digital

Uji Nyali Integrasi Keuangan Global: Bos Binance Beberkan Arah Baru Aset Digital di BBW Bangkok 2026

Sentimen Makro Picu Volatilitas Kripto, Tokocrypto Ingatkan Investor Tetap Disiplin

OJK dan UNODC Gandeng 12 Negara Perkuat Intelijen Finansial Berantas Online Scams

Akan tetapi berhadapan frontal dengan cara melarangnya tentu tidak akan efektif di tengah zaman teknologi yang penuh keterbukaan ini. Maka dari itu, alih-alih membuat aturan yang memblokade mata uang kripto tersebut, bank sentral memilih untuk menghadirkan versi mereka sendiri.

Strategi ini tampaknya dilakukan oleh hampr semua bank sentral di dunia tak terkecuali Bank Indonesia. Bahkan BI mendapatkan kesempatan lebih luas dalam meminta agar banyak negara di dunia segera mengaplikasikannya sembari menyiapkan mitigasi atas risiko-risiko yang bakal muncul, terkait kepemimpinan Indonesia dalam G20 tahun ini.

  • Baca juga: Uji Nyali Integrasi Keuangan Global: Bos Binance Beberkan Arah Baru Aset Digital di BBW Bangkok 2026

BI juga meminta agar negara-negara di dunia juga menyiapkan sistem dan infrastruktur agar mata uang digital yang dilansir nanti bisa berlaku lintas negara. Serta tidak lupa menentukan mekanisme kurs masing-masing.

Penerbitan mata uang digital resmi yang diinisiasi oleh otoritas menemukan momentumnya ketika aset-aset kripto yang sudah beredar sudah memberikan bukti bahwa mereka tidak stabil dan rawan penurunan nilai secara tajam. Artinya, cryptocurrency yang digadang-gadang bisa menggantikan uang kertas atau dana-dana yang dikelola oleh sistem moneter konvesional itu ternyata menyimpan risiko yang tidak main-main.

Menurut sebuah laman badan yang mengembangkan cryptocurrency versi otoritas asal AS, mata uang digital bank sentral (CBDC) adalah bentuk digital dari mata uang fiat suatu negara yang juga merupakan klaim pada bank sentral. Alih-alih mencetak uang, bank sentral menerbitkan koin elektronik atau rekening yang didukung oleh kepercayaan dan kredit penuh dari pemerintah.

Akan tetapi agak ambigu jika nanti, bank-bank sentral dunia memang benar akan menerbitkan mata uang digital seperti halnya cryptocurrency yang sudah beredar. Sebagaimana diketahui mata uang kripto seperti bitcoin, etherium, dogde atau apapun namanya itu, dioperasikan di atas platform blockchain. Itu artinya peredarannnya tidak bisa dikontrol dan dikendalikan oleh satu pihak apalagi otoritas. Karena memang itu tujuan awalnya.

Nah, ketika otoritas moneter menerbitkan CBDC, berarti ada pihak yang akan mengontrol dan mengendalikan pergerakannya. Di satu sisi ini sangat bagus karena masyarakat pengguna bisa terjaga dari kejatuhan dan kerugian. Namun di sisi lain justru mengaburkan tujuan awal dihadirkannya mata uang digital berbasis blockchain.

  • Baca juga: Sentimen Makro Picu Volatilitas Kripto, Tokocrypto Ingatkan Investor Tetap Disiplin

Ketika cryptocurrency itu dihadirkan oleh penemunya untuk menjadi antithesis dari uang yang beredar yang selama ini kita kenal, dan bertujuan untuk mendesentralisasi transaksi, CBDC justru diluncurkan dan dikontrol oleh otoritas.

Ada banyak alasan untuk mengeksplorasi mata uang digital, dan motivasi berbagai negara untuk menerbitkan CBDC bergantung pada situasi ekonomi mereka. Beberapa motivasi umum adalah: mempromosikan inklusi keuangan dengan menyediakan akses uang yang mudah dan aman bagi populasi yang tidak memiliki rekening bank dan tidak memiliki rekening bank; memperkenalkan persaingan dan ketahanan di pasar pembayaran domestik, yang mungkin memerlukan insentif untuk menyediakan akses uang yang lebih murah dan lebih baik; meningkatkan efisiensi pembayaran dan menurunkan biaya transaksi; menciptakan uang yang dapat diprogram dan meningkatkan transparansi aliran uang; dan menyediakan aliran kebijakan moneter dan fiskal yang lancar dan mudah.***

Tags: CBDCEditorialKripto
 
 
 
 
 
Previous Post

Stabilitas Edisi 187 : Babak Baru Bank Sentral Vs Uang Digital

Next Post

Gaya Kerja Baru “HyWork” CIMB Niaga Raih iNews Maker Award 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Gaya Kerja Baru “HyWork” CIMB Niaga Raih iNews Maker Award 2022

Gaya Kerja Baru “HyWork” CIMB Niaga Raih iNews Maker Award 2022

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance