Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi uang primer atau M0 adjusted pada Juni 2026 tumbuh 13,8% secara tahunan mencapai Rp 2.228 triliun, ditopang peredaran uang kartal.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas sektor moneter dalam negeri masih bergerak ekspansif. Posisi uang primer atau M0 adjusted pada periode Juni 2026 dilaporkan berhasil menembus angka Rp 2.228 triliun.
Realisasi tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 13,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kendati masih kokoh mempertahankan pertumbuhan di level dua digit, laju ekspansi uang primer kali ini sedikit melambat jika dibandingkan dengan performa Mei 2026 yang mampu tumbuh hingga 14,2% yoy.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa perkembangan uang primer di sepanjang bulan Juni ini dominan dipengaruhi oleh peningkatan jumlah uang kartal yang beredar di masyarakat serta pergerakan saldo giro bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia.
BERITA TERKAIT
“Uang primer (M0) Adjusted pada Juni 2026 tumbuh 13,8% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2% (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp 2.228,0 triliun,” urai Ramdan dalam keterangan resminya, Selasa (7/7).
Secara lebih terperinci, kokohnya pertumbuhan M0 adjusted ditopang oleh kenaikan komponen uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0% yoy. Di samping itu, komponen giro bank umum di Bank Indonesia adjusted juga ikut merangkak naik sebesar 12,7% yoy.
Tren Posisi Uang Primer Secara Bulanan
Meskipun secara tahunan (yoy) sedikit melambat, jika ditinjau secara bulanan (month-on-month/mom), posisi uang primer pada Juni 2026 sebenarnya memperlihatkan tren pemulihan dengan mencatatkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berikut adalah pergerakan naik-turun posisi uang primer Indonesia sepanjang paruh pertama tahun 2026:
| Periode (2026) | Posisi Uang Primer (M0 Adjusted) | Tren Bulanan (MoM) |
| Maret |
Rp 2.396 triliun |
Level tertinggi paruh pertama tahun. |
| April |
Rp 2.232 triliun |
Mengalami penurunan dari bulan sebelumnya. |
| Mei |
Rp 2.214 triliun |
Sempat menyusut ke titik terendah. |
| Juni |
Rp 2.228 triliun |
Berhasil bangkit dan meningkat kembali. |
Penyesuaian Metode Sejak Awal 2025
Sebagai informasi, Ramdan menerangkan bahwa kalkulasi angka M0 adjusted ini telah memperhitungkan secara matang dampak dari pemberian insentif likuiditas maupun langkah pengendalian moneter adjusted yang dieksekusi oleh bank sentral. Melalui metode ini, gambaran uang primer diklaim menjadi lebih murni.
“M0 adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas,” imbuhnya.
Adapun penyesuaian metode penghitungan instrumen M0 adjusted ini sendiri telah diimplementasikan oleh BI sejak Januari 2025 lalu. Langkah pembaruan formula ini sengaja ditempuh otoritas moneter guna menyajikan data statistik yang jauh lebih akurat, sekaligus mengukur seberapa besar efektivitas serta dampak riil dari kebijakan likuiditas yang digelontorkan oleh BI terhadap sistem perbankan nasional. ***















