JAKARTA, Stabilitas – PT Asuransi Sinarmas (ASM) terus mencari cara dan terobosan baru guna memperluas cakupan nasabah sekaligus mendongkrak kinerja perolehan preminya di segmen ritel. Terbaru, entitas bisnis asuransi di bawah naungan Sinarmas Group tersebut secara resmi menggandeng PT Raksasa Laju Lintang, manajemen di balik platform e-commerce dengan merek dagang Ralali.com.
Melalui kerjasama ini, ASM akan mulai menjual sedikitnya sembilan jenis produknya lewat aplikasi Ralali.com. Sembilan jenis produk itu meliputi asuransi perjalanan dan umrah, asuransi mikro-stop usaha gempa tsunami, asuransi binatang peliharaan, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan bermotor dan asuransi mikro simas perlindungan.
“Perkembangan dunia digital dewasa ini harus terus diantisipasi oleh dunia usaha agar tidak kehilangan opportunity yang ada di sana. Ini di antaranya adalah upaya kami untuk itu, selain juga sebagai wujud kontribusi kami atas edukasi literasi keuangan di segmen UMKM,” ujar Direktur ASM, Dumasi MM Samosir, di Jakarta, Rabu (14/8).
Secara korporasi, menurut Dumasi, kerjasama dengan Ralali.com ini juga merupakan strategi perusahaan dalam memperbesar kontribusi segmen ritel yang selama ini masih sangat minim sumbangannya terhadap perolehan premi perusahaan.
“(Kontribusi segmen ritel) Masih sangat kecil. Saat ini masih di kisaran dua persen. Makanya perlahan kami ingin tingkatkan. Pada tahun pertama kerjasama tentu tidak bisa langsung besar, tapi harapannya di tahun-tahun berikutnya bisa terus tumbuh berkali lipat karena potensinya masih sangat besar,” tutur Dumasi.
Dalam jangka panjang, lanjut Dumasi, pihaknya bercita-cita dapat menyeimbangkan perolehan premi dari segmen ritel dan korporasi sehingga secara kontribusi menjadi 50:50. Per Juni 2019 lalu, pendapatan bruto ASM tercatat sebesar Rp5,08 triliun, atau tumbuh 51,19 persen dibanding perolehan pendapatan pada periode sama tahun 2018 lalu yang masih sebesar Rp3,36 triliun.
“Dengan terus mendorong segmen ritel kami yakin hasilnya akan lebih maksimal lagi di masa mendatang, karena memang pasarnya masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal. Per Juni 2019 lalu perolehan premi kami dari produk asuransi mikro masih sekitar Rp2 miliar. Secara room untuk tumbuh kami yakini masih sangat besar,” tegas Dumasi.

















