Stabilitas.id — Manajer investasi berbasis di Singapura memandang Asia tetap menjadi kawasan dengan peluang investasi kuat pada 2026, meskipun dibayangi peningkatan risiko geopolitik dan volatilitas pasar global. Jepang dan China dinilai sebagai pasar paling berpotensi mengungguli kawasan lain seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan dukungan kebijakan.
Hal tersebut tercermin dalam IMAS Investment Managers’ Outlook Survey 2026 yang dirilis Investment Management Association of Singapore (IMAS), Selasa (20/1/2026). Survei tahunan ke-11 ini melibatkan jajaran eksekutif C-level dari 63 perusahaan anggota IMAS yang secara kolektif mengelola lebih dari US$35 triliun aset global.
Survei menunjukkan bahwa risiko geopolitik diperkirakan menjadi latar permanen pasar pada 2026, sekaligus faktor utama yang memengaruhi strategi alokasi aset. Di sisi kebijakan moneter, 69% responden memperkirakan Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga lebih dari 50 basis poin hingga akhir 2026, menandakan kecenderungan pelonggaran moneter di tengah ketidakpastian makroekonomi global. Namun demikian, 60% responden menyatakan kekhawatiran terhadap potensi melemahnya independensi bank sentral utama akibat tekanan politik.
Dari sisi regional, sentimen terhadap Asia dinilai tetap solid. Jepang dan China muncul sebagai pasar paling menjanjikan untuk 2026, masing-masing dipilih oleh 21% responden, mengungguli India (13%), Singapura (11%), dan Taiwan (11%).
Optimisme tersebut tercermin dalam proyeksi pasar saham. Sekitar 72% manajer investasi memperkirakan MSCI Asia ex-Japan Index naik 10%–20%, sementara 73% responden memproyeksikan MSCI China Index mencatat kenaikan serupa hingga akhir 2026. Menariknya, sentimen positif ini muncul meskipun 61% responden tidak memperkirakan percepatan pertumbuhan PDB China, yang mengindikasikan bahwa daya tarik China lebih ditopang oleh valuasi, kebijakan, dan peluang sektoral tertentu.
Untuk pasar domestik Singapura, hampir 90% responden memperkirakan Straits Times Index (STI) akan menguat atau setidaknya stabil, didukung kinerja laba emiten, imbal hasil dividen yang atraktif, serta berbagai inisiatif pemerintah untuk menghidupkan kembali pasar ekuitas. Dari sisi nilai tukar, 46% responden memperkirakan dolar AS terhadap dolar Singapura (USD/SGD) melemah 5%–10%, sementara 39% memproyeksikan pergerakan stabil.
Sementara itu, untuk pasar global, 54% responden memperkirakan indeks S&P 500 naik 10%–20% pada 2026. Komoditas emas tetap menjadi aset favorit, dengan 50% responden memproyeksikan kenaikan harga 12,5%–25%, dan hampir 90% memperkirakan harga emas akan naik atau setidaknya bertahan. Adapun harga minyak diperkirakan bergerak relatif datar, dengan 46% responden memproyeksikan stagnan dan 25% memperkirakan kenaikan moderat 5%–10%.
Ketua IMAS Jenny Sofian menilai hasil survei menunjukkan kemampuan manajer investasi beradaptasi di tengah ketidakpastian berkepanjangan. Menurutnya, fokus industri kini bergeser dari fase uji coba menuju eksekusi yang lebih disiplin, khususnya dalam penerapan AI.
“Manajer investasi berhasil mengidentifikasi peluang berkeyakinan tinggi di Asia meskipun risiko geopolitik meningkat. Fokus saat ini adalah pada model bisnis yang dapat diskalakan dan penerapan AI secara praktis untuk menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur,” ujar Jenny.
Survei juga menunjukkan kematangan adopsi AI di industri manajemen aset. Lebih dari separuh responden telah memanfaatkan AI dalam fungsi investasi inti, termasuk riset, analisis, dan penyusunan komentar dana. Teknologi yang paling diminati meliputi advanced analytics, machine learning, dan generative AI.
Pendorong utama adopsi teknologi ini adalah efisiensi operasional, dengan peningkatan produktivitas dan penurunan biaya sebagai manfaat utama. Selain fungsi investasi, dampak transformasi teknologi juga dirasakan pada operasional dana, middle office, dan kegiatan riset.
Di sisi tantangan struktural, manajer investasi masih menyoroti meningkatnya popularitas produk pasif dan tekanan margin sebagai risiko utama industri pengelolaan aset di Singapura. Namun, pada 2026 muncul kekhawatiran baru, yakni keberlanjutan reli pasar kuat sepanjang 2025, yang mencerminkan meningkatnya sensitivitas pelaku industri terhadap daya tahan pasar.
Terkait keberlanjutan, integrasi Environmental, Social, and Governance (ESG) kini dipandang sebagai kapabilitas dasar institusional, bukan lagi pembeda kompetitif. Integrasi ESG ke dalam strategi yang sudah ada tetap menjadi pendekatan utama, sementara dorongan untuk meningkatkan kualitas pelaporan ESG di luar kewajiban regulasi kian menguat.
Tema-tema hasil survei ini akan dibahas lebih lanjut dalam IMAS Investment Conference & Masterclass pada 7 April 2026 dengan tema “Rewired, Reshaped, Redefined: Asia’s Role in a New World Order.” ***





.jpg)










