Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka inflasi sepanjang 2013 ialah 8,38%, menggambarkan perubahan harga konsumen secara rata-rata untuk 774 komoditas di 66 kota di Indonesia. Inflasi sepanjang bulan Desember sendiri besarnya 0,55%.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, inflasi yang terjadi di akhir tahun ini normal jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. "Inflasi Desember tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun lalu yang artinya pengontrolan harga dalam rangka menekan inflasi terjadi," ujar Suryamin ketika menggelar jumpa pers di kantornya Kamis (2/1).
Inflasi Desember 2009 sampai dengan 2012 berturut-turut 0,33%, 0,92%, 0,57%, kemudian 0,54%. Meski inflasi akhir tahun normal, inflasi sepanjang tahun untuk 2013 ialah yang tertinggi sejak 2008. Di 2008, inflasi tahunan mencapai 11,06%. Ketika itu, inflasi terjadi karena pemerintah sempat menaikkan harga BBM bersubsidi walaupun kemudian menurunkannya kembali.
BERITA TERKAIT
Inflasi di 2013 juga tinggi karena pada Juni pemerintah menaikkan harga BBM. Catatan Media Indonesia, inflasi juga sempat tinggi karena beberapa hal tahun lalu, misalnya banjir di Jakarta pada Januari, sempat tingginya harga hortikultura akibat penerapan kuota impor hingga gangguan produksi, serta tingginya harga daging sapi. Sepanjang tahun, inflasi bulanan sempat empat kali lebih dari 1%, yakni Januari (1,03%), Juni (1,03%), Juli (3,29%), dan Agustus (1,12%). Puncak inflasi terjadi pada Juni-Agustus sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Kalau dari target pemerintah, ini lebih kecil. Pemerintah seingat saya memperkirakan (inflasi 2013) sekitar 9% atau di bawah 9%," ujar Suryamin. Suryamin merujuk pada proyeksi terakhir pemerintah pasca kenaikan BBM bersubsidi yang menyebutkan inflasi bisa berada pada 9,2% sepanjang 2013. Bank Indonesia bahkan punya prediksi lebih buruk, yakni 9-9,8%. Secara formal, pemerintah mengajukan inflasi 2013 sebesar 7,2% dalam asumsi makro APBN P 2013.
Deputi Kepala BPS bidang Statistik Distribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, tingginya inflasi kenaikan harga BBM dibandingkan prediksi awal di APBN P 2013 ialah hasil dekatnya kenaikan harga BBM dengan perayaan Idul Fitri. "Juni menjelang Lebaran, pas mau Lebaran produsen sudah antisipasi bahwa kalau naik berapa pun konsumen akan beli. Jadi ada moral hazard lah di sana. Mumpung ada kenaikan BBM juga, kita naikkan juga harganya," cetus Sasmito usai jumpa pers.
Secara tahunan, inflasi inti berada di bawah inflasi umum, yakni hanya 4,98%. Sedangkan, inflasi harga bergejolak mencapai 11,83% utamanya karena harga pangan. Perubahan harga paling besar terjadi pada harga diatur pemerintah yaitu sebesar 16,65%. Secara spesifik, inflasi harga energi dicatat sebesar 21,42% sepanjang 2013.
Menanggapi data inflasi, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan ada overshoot inflasi akibat pengendalian harga pangan yang kurang baik. "Yang terjadi agak overshoot waktu itu adalah harga makanan: daging sapi, bawang, cabai, dan diantisipasi pemerintah dengan menghilangkan kuotanya. Setelah itu, inflasi pangan turun. Jadi baik pemerintah dan BI setelah itu overshoot di atas 9%," jelas Chatib.
Chatib juga menambahkan, inflasi di 2014 akan kembali normal. Sejauh ini, kata Chatib, pemerintah tidak berniat menggerakkan secara signifikan harga diatur pemerintah. Perkiraan inflasi besarnya 5,5%.
Komoditas yang paling dominan terhadap inflasi sepanjang tahun lalu adalah pergerakan harga bensin, yang naik 1,17% rata-rata. Terpengaruh harga bensin, tarif angkutan kota menjadi penyumbang kedua sebesar 0,75%. Hal tersebut menggambarkan bahwa pendorong inflasi di 2013 sedikit berbeda karena adanya perubahan harga BBM bersubsidi. Di 2012, pendorong utama inflasi ialah kenaikan harga beras, ikan segar, emas perhiasan, dan rokok kretek filter.





.jpg)










