JPMorgan memproyeksikan IHSG mencapai level 7.000 pada akhir 2026. Resiliensi kinerja emiten dan disiplin batas defisit APBN 3% dinilai menjadi penopang utama pemulihan pasar modal.
Stabilitas.id – JPMorgan Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi pulih menuju level 7.000 pada akhir tahun 2026. Pemulihan indeks saham domestik diperkirakan terakselerasi di tengah tingginya kepemilikan dana kas (cash level) investor serta resiliensi pertumbuhan laba emiten di Semester I/2026.
Head of Indonesia Equity Research JPMorgan Indonesia, Benny Kurniawan, menjelaskan bahwa terlepas dari maraknya aksi jual bersih asing (net foreign outflow) akibat pembekuan saham Indonesia pada evaluasi indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell, potensi pembalikan arah pasar tetap terbuka.
“Kita masih memproyeksikan kenaikan sampai akhir tahun, yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor, maupun lokal ataupun asing. Sebenarnya cash level mereka pun juga cukup tinggi. Jadi, ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini,” ujar Benny dalam sesi media briefing, Kamis (3/9/2026).
BERITA TERKAIT
Resiliensi Laba Perusahaan Lampaui Konsensus
Di tengah koreksi IHSG sebesar 23,78% secara year-to-date (YTD) serta tekanan kenaikan suku bunga dan inflasi, emiten dalam cakupan analisis JPMorgan masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih (earnings growth) rata-rata 6% secara tahunan (yoy) pada paruh pertama 2026. Capaian ini melampaui estimasi konsensus pasar yang memprediksikan pertumbuhan single-digit negatif.
Daya tahan profitabilitas emiten terutama ditopang oleh percepatan belanja pemerintah yang memberikan dampak ganda (trickle-down effect) ke sektor riil. Untuk tahun 2027, konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba emiten Indonesia dapat melaju hingga 9%.
Disiplin APBN dan Kepastian Hukum Jadi Kunci
CEO dan Senior Country Officer JPMorgan Indonesia, Gioshia Ralie, menambahkan bahwa arus modal asing akan mengalir kembali apabila pemerintah dapat menjaga transparansi kebijakan dan konsistensi tata kelola. Investor global mengawasi ketat komitmen pemerintah untuk menjaga batas defisit APBN di bawah 3% dari PDB demi meredakan tekanan pada nilai tukar Rupiah serta mempertahankan peringkat kredit dari lembaga seperti Moody’s dan Fitch Ratings.
“Mereka ingin paham mengenai state budget kita. Apakah itu 3% cap-nya mau ditahan atau tidak? Nah, bagaimana expenditure-nya terhadap revenue-nya? Jadi, ada juga masalah confidence, transparency,” terang Gioshia.
JPMorgan menilai komitmen pemerintah dalam mempertahankan disiplin fiskal APBN telah memberikan sentimen positif, yang tefleksi dari penguatan nilai tukar Rupiah ke level Rp17.650 per Dolar AS. Langkah tersebut, diikuti perbaikan kepastian hukum dan efisiensi birokrasi, diyakini menjadi pendorong utama pemulihan investasi domestik pada 2027. ***

















