• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Liputan Khusus

Kegagalan Implementasi Etos dan Budaya

by Sandy Romualdus
31 Maret 2015 - 00:00
47
VIEWS
Kegagalan Implementasi Etos dan Budaya
0
SHARES
47
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Manajemen berperan sangat besar dalam banyak kejadian skandal penipuan (fraud) dari berbagai perusahaan. Sepuluh skandal akuntansi terburuk yang terjadi di dunia seperti yang disajikan dalam rubrik Riset Stabilitas edisi Februari 2015 semuanya melibatkan CEO (Chief Executive Officer), CFO (Chief Financial Officer) atau jajaran manajemen puncak lainnya.
Selain itu, jajaran manajemen puncak juga berperan terhadap kejadian risiko yang disebabkan oleh kegagalan mereka dalam menanamkan nilai-nilai, etos, dan perilaku dalam organisasi. Kegagalan tersebut berdampak besar bagi banyak perusahaan terkemuka, seperti yang terjadi pada Arthur Andersen, Cadbury, BP, dan sebagainya. Memiliki peraturan, panduan, dan budaya kepatuhan, ternyata tidak cukup untuk menghindarkan perusahaan dari risiko yang mematikan.
Arthur Andersen, pendiri firma akuntansi Arthur Andersen, pernah mengatakan tidak akan menjual reputasinya berapapun harganya ketika berbicara dengan CEO perusahaan kereta api lokal di Chicago, Amerika. “Uang Anda tidak cukup untuk membuat saya setuju untuk meningkatkan laporan laba bersih dengan teknik akuntansi kreatif,” tukasnya. Akibatnya, firma Arthur Andersen kehilangan klien tersebut. Tak lama kemudian, perusahaan kereta api itu pun juga bangkrut. Tampak jelas bahwa Mr Andersen punya kompas moral yang kuat dalam menjalankan bisnisnya.
Tapi, kompas moral tersebut tidak selalu bisa dipertahankan ketika tuntutan bisnis berubah dan kepemimpinan perusahaan beralih kepada banyak orang lain. Sampai 1980-an, firma akuntansi ini mengadopsi model bisnis baru: menumbuh-kembangkan bisnis melalui penjualan jasa konsultansi dengan memanfaatkan hubungan baik dengan klien dari jasa audit. Andersen sangat sukses. Firma ini memasang target pendapatan konsultansi dua kali lebih besar dibandingkan pendapatan audit. Siapapun yang sukses mencapai target akan mendapatkan bonus besar, dan bagi mereka yang gagal diberikan sanksi. Ketakutan kehilangan bisnis konsultansi tentunya juga berpengaruh terhadap tim audit.
Sebagai contoh, dari pekerjaan dengan Enron, Andersen memperoleh pendapatan 25 juta dollar AS sebagai fee audit dan 27 juta dollar AS dari jasa konsultansi sepanjang tahun 2000. Bertahun-tahun Andersen terlibat dalam menciptakan dan menerapkan teknikteknik akuntansi kreatif. Hasilnya, pendapatan Andersen terus tumbuh secara agresif. Hal itu ditandai pula dengan penciptaan SPV (Special Purpose Vehicle) yang dipergunakan untuk menyembunyikan semua hal yang meragukan atau tidak wajar.
Memasuki 2001, firma Arthur Andersen mulai khawatir dengan independensi 14 partner mereka yang menangani Enron. Firma tersebut melakukan diskusi membahas hal ini. Dengan pendapatan yang bisa mencapai 100 juta dollar AS dari Enron (terutama dari jasa konsultansi), mereka memutuskan untuk mempertahankan Enron. Mr Andersen sendiri tidak sepakat sepenuhnya dengan keputusan tersebut.
Setelah berita investigasi SEC (Securities Exchange Commission) terhadap Enron beredar, manajer Arthur Andersen perlu memberikan pengarahan kepada tim audit tentang langkahlangkah antisipatif yang harus diambil.
Namun, hal itu sudah terlambat. Setelah dilakukan investigasi oleh SEC, Andersen baru sadar bahwa sebagian besar amunisi SEC dalam mengungkap kasus Enron berasal dari dokumen Andersen sendiri, yang tak sempat dimusnahkan ketika tuntutan sudah didaftarkan.
Akhirnya, Arthur Andersen ambruk karena kehilangan kompas moral. Kisah moral lainnya juga terjadi pada Cadbury, sebuah perusahaan dari kelompok Quaker. Selama periode kepemimpinan Todd Spitzer, Cadbury punya pernyataan bisnis yang sangat bagus: “Performance Driven, Values Led”. Moto ini menimbulkan dilema dalam pemilihan strategi utama mereka: apakah kinerja menjadi prioritas? Ataukah nilai-nilai? Atau, seperti apa keseimbangannya?
Bulan Juni 2005, Cadbury berinisiatif menarik sejuta batang coklat yang diduga terkontaminasi oleh bakteri salmonella. Masalah ini muncul garagara Cadbury menaikkan level toleransi salmonella dari nol menjadi level rendah dengan asumsi (yang tidak benar) bahwa salmonella dalam kadar sangat rendah pada sebatang coklat masih aman.
Timbul pertanyaan, apakah hal ini tetap terjadi jika nilai-nilai menjadi prioritas utama dari Cadbury? Para pemeriksa dari Badan Makanan dan Obat-obatan
menyimpulkan, Cadbury melakukan hal ini untuk mengurangi ‘limbah’ alias menghemat biaya, walaupun Cadbury tetap kukuh mengatakan bahwa salmonella pada kadar rendah masih tetap aman.
Fokus kembar BP (British Petroleum) antara keselamatan dan kinerja keuangan juga mengandung kontradiksi serupa. Manakah yang lebih penting: keselamatan atau kinerja?
Pada praktiknya, konflik di BP ini sudah terpecahkan karena perusahaan membuat skema insentif bagi para eksekutif sebagai berikut: 70 persen dari bonus mereka dibuat berdasarkan capaian kinerja keuangan dan 15 persen dibuat berdasarkan kinerja keselamatan. Itu pula sebabnya, dalam konteks ini, kasus kebocoran minyak Deep Water Horizon di Teluk Mexico bisa dijelaskan.
Keinginan meraih kinerja keuangan yang tinggi telah menyebabkan keselamatan kurang menjadi prioritas –walaupun kemudian terbukti kejadian ini juga sangat menekan kinerja keuangan BP, antara lain, dengan adanya tuntutan dari Pemerintah AS hampir 10 miliar dollar AS.
Tiga contoh kasus di atas terjadi karena kegagalan manajemen puncak organisasi untuk menanamkan budaya dan nilai-nilai dalam praktik bisnis sehari-hari. Tak jarang, risiko juga muncul akibat kegagalan dalam menciptakan dan menerapkan strategi yang koheren terhadap keselamatan kerja, baik secara fisik maupun secara organisasi. Tidak boleh ada strategi yang kontradiktif.

  • Baca juga: Lonjakan Inflasi dan Redupnya Manufaktur: Uji Ketahanan Sektor Konsumer vs Risk-Reward Perbankan
  • Baca juga: Banyak Suka Menjadi Mandirians
  • Baca juga: Rahasia Membentuk Mandirian Tangguh
 
 
 
 
 
Previous Post

Tak Cuma Karena Ekonomi

Next Post

Serius Soal Konten Lokal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Lonjakan Inflasi dan Redupnya Manufaktur: Uji Ketahanan Sektor Konsumer vs Risk-Reward Perbankan

by Sandy Romualdus
4 September 2026 - 10:29

Ada risiko pasar dan strategi portofolio pasca-lonjakan inflasi Agustus 2026, kontraksi PMI manufaktur, serta prospek resiliensi sektor perbankan vs sektor...

Banyak Suka Menjadi Mandirians

Banyak Suka Menjadi Mandirians

by Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:25

Bekerja di Bank Mandiri berarti mendapatkan gaji mentereng, masa depan terjamin dan banyak ilmu dan pengetahuan yang didapat.

Rahasia Membentuk Mandirian Tangguh

Rahasia Membentuk Mandirian Tangguh

by Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:17

Strategi pengembangan pegawai yang dilakukan Bank Mandiri tahun-tahun sebelumnya telah membuahkan hasil fantastis.

Ketika Mandirians Mengambil Alih Panggung

Ketika Mandirians Mengambil Alih Panggung

by Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:08

Satu dekade belakangan banyak perusahaan di industri keuangan mengincar lulusan Bank Mandiri.

Gadai Emas Syariah

Inovasi Gadai Emas “Zaman Now”

by Sandy Romualdus
7 Maret 2018 - 00:00

Tidak mau tergilas zaman, Pegadaian berbenah dan meluncurkan aplikasi online untuk bisnis gadai emas serta inovasi lainnya. 

Sistem Pembayaran Tunai Dominasi Transaksi Harbolnas

Sistem Pembayaran Tunai Dominasi Transaksi Harbolnas

by Stella Gracia
16 Desember 2016 - 00:00

Jumlah transaksi tunai melalui ATM dan cash on delivery (COD) masih besar, sebab masih ada ketakutan yang besar pada masyarakat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
CIMB Niaga Berinovasi dari Hati

CIMB Niaga Berinovasi dari Hati

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance