Jakarta – PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) mengumumkan laba bersih tumbuh 13,9% menjadi Rp388 miliar pada semester pertama 2015 dibandingkan periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp341 miliar. Kinerja yang membaik ini didukung oleh meningkatnya Pendapatan Bunga Bersih (NII) yang dicapai melalui kedisiplinan BII dalam melakukan pricing pinjaman, liability management yang aktif dan penerapan Strategic Cost Management Program (SCMP) yang intensif di seluruh BII.
Iklim bisnis yang penuh tantangan dan melemahnya ekonomi domestik juga mempengaruhi pertumbuhan kredit BII pada semester pertama 2015. BII mencatat pertumbuhan kredit sebesar 2,4% dari Rp106 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp108.5 triliun pada Juni 2015.
Perbankan Bisnis dan Perbankan Ritel terus menjadi pendorong pertumbuhan bagi BII, sementara Perbankan Global memperkuat fokus pada re-profiling portofolio korporasi serta penyelarasan bisnis dengan redefinisi risk appetite untuk meningkatkan kualitas kredit korporasi.
Kredit Perbankan Ritel mencatat pertumbuhan kredit sebesar 14,2% dari Rp38,3 triliun menjadi Rp43,8 triliun, Kredit Perbankan Bisnis tumbuh 13,1% dari Rp38,3 triliun menjadi Rp43,3 triliun, sementara kredit Perbankan Global turun 27,2% dari Rp29,4 triliun menjadi Rp21,4 triliun. Kredit Perbankan Ritel dan Kredit Perbankan Bisnis masing-masing memberikan kontribusi 40% dari total portofolio kredit BII sementara kredit Perbankan Global memberikan kontribusi sebesar 20% dari total kredit BII.
Kredit Perbankan Ritel mencatat pertumbuhan yang kuat pada semester pertama 2015. Portofolio KPR tumbuh 15,6% menjadi Rp17,2 triliun dengan kualitas aset yang baik, sementara Unsecured loans meningkat 19,7% dengan Kredit Tanpa Agunan naik 48,6% dan tagihan Kartu Kredit meningkat 8,8%. Perbankan Elektronik juga menunjukkan perkembangan yang kuat dengan 81% transaksi ritel menggunakan saluran elektronik BII, mendorong pertumbuhan pada volume saluran elektronik.
BII juga mencatat perkembangan positif pada Perbankan Bisnis seperti tercermin dari kenaikan sebesar 14,7% pada kredit Komersial dari Rp21,8 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp25,0 triliun pada Juni 2015 serta peningkatan sebesar 7,2% pada portofolio kredit UKM dari Rp15,9 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp17,0 triliun pada Juni 2015 dengan metric kualitas aset yang tetap baik. Sementara, produk pembiayaan mikro “PIJAR” (Pilihan Bijak Mitra Usaha) menunjukkan hasil menggembirakan dengan kenaikan 118% pada kredit mikro dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi sebesar Rp1,2 triliun.
Bisnis Perbankan Syariah terus menunjukkan hasil yang menggembirakan sejak penerapan strategi Sharia First di seluruh unit usaha dan cabang dan memperbaiki model bisnisnya. Total pembiayaan Syariah tumbuh 50,8% dari Rp4,9 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp7,4 triliun pada Juni 2015 dan menyumbangkan 7% dari total portofolio kredit Bank. Laba bersih Perbankan Syariah meningkat tajam dari rugi sebesar Rp27 miliar pada Juni 2014 menjadi Rp107 miliar di Juni 2015.
Simpanan Nasabah menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,1% pada semester pertama 2015 dari Rp105,9 triliun per 30 Juni 2014 menjadi Rp107,1 triliun per 30 Juni 2015. Hal ini disebabkan BII mengurangi ketergantungannya pada deposito berjangka dan memperbaiki deposit mix dengan meningkatkan CASA. BII secara disiplin melakukan kontrol pada likuiditas volume dan pricing, sementara terus menjalankan inisiatif CASA di seluruh unit bisnis.
Rasio Loan-to-Deposit (LDR)( BII saja, tidak termasuk anak perusahaan) tercatat sebesar 89,71% per 30 Juni 2015, sementara LDR konsolidasian modifikasi BII (yaitu Loan to Funding Ratio) termasuk pinjaman, penerbitan sekuritas, sub debt dan simpanan nasabah tetap berada pada tingkat yang aman yaitu 83,77%.
Pendapatan Bunga Bersih (NII) BII meningkat 10,9% dari Rp2,8 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp3,1 triliun pada Juni 2015 karena Marjin Bunga Bersih BII naik menjadi 4,73% dari 4,48%.
Pendapatan operasional lainnya (pendapatan imbal jasa atau fee based income) per 30 Juni 2015 naik 8,5% menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan dengan Rp1,0 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Fokus BII yang lebih tinggi pada advisory activities, asuransi, dan fee terkait kartu kredit memberikan kontribusi pada pendapatan fee yang lebih tinggi pada periode ini.
Tetapi, kondisi domestik yang penuh tantangan menyebabkan NPL BII naik menjadi 3,48% (gross) dan 2,35% (net). BII tetap berhati-hati dengan kualitas kredit sehubungan beberapa bisnis, terutama portofolio korporasi di Perbankan Global, masih terkena dampak perlambatan ekonomi dan pelemahan Rupiah. Sebagai tindakan antisipatif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan memastikan praktek prudent banking, BII telah membukukan biaya provisi sebesar Rp952 miliar pada Juni 2015 dibandingkan Rp703 miliar pada Juni 2014.





.jpg)










