Bank Jakarta bersolek demi menopang ambisi Jakarta menjadi kota global. Tak sekadar merombak interior cabang, perseroan memperkuat ekosistem digital dari moda transportasi hingga lapak pasar tradisional.
Oleh: Sandy Romualdus
TAK ada lagi sekat kaca tebal yang kaku atau deretan antrean panjang di depan meja teller ketika melangkah ke Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kebayoran Park pada pertengahan Juli 2026. Pendar cahaya hangat, meja konsultasi terbuka berdesain ergonomis, serta pendaftaran mandiri lewat layar digital menyapa para nasabah yang datang. Hari itu, Bank Jakarta secara resmi memperkenalkan prototipe New Look Branch atau kantor cabang masa depan (future branch).
Bagi Bank Jakarta, wajah baru di Kebayoran Park bukan sekadar urusan estetika interior. Langkah ini merupakan bagian dari manuver besar merespons pergeseran peran Jakarta. Pasca rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara (IKN), Jakarta memantapkan posisinya sebagai Pusat Ekonomi Nasional dan Kota Global. Lanskap baru ini menuntut bank pembangunan daerah (BPD) yang selama ini lekat dengan citra birokratis untuk melompat menjadi institusi keuangan modern berperekat digital.
BERITA TERKAIT
Bukan Sekadar Ganti Baju
Transformasi tersebut diawali dari perombakan identitas visual perseroan. Logo anyar Bank Jakarta tak lagi dirancang kaku, melainkan dibuat lebih dinamis untuk mencerminkan karakter bank yang adaptif, transparan, dan inklusif. Di tingkat tapak, perubahan ini terpancar dari penampilan para petugas barisan terdepan (frontliners) yang mengenakan seragam baru nan elegan, siap memandu nasabah bertransaksi di area digital.
Namun, hadirnya teknologi tidak lantas menghapus pentingnya interaksi langsung. Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan bahwa kehangatan layanan fisik tetap menjadi kunci dalam membangun kepercayaan nasabah, terutama untuk konsultasi keuangan dan transaksi bernilai besar.
“Hari ini kita tidak sekadar meresmikan sebuah gedung. Yang berubah bukan hanya wajah kantor cabang, tetapi cara kami melayani masyarakat. Perubahan sebuah bank tidak cukup diwujudkan melalui teknologi ataupun bangunan yang lebih modern, melainkan ketika masyarakat merasakan layanan yang lebih mudah, lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih manusiawi,” ujar Agus.
Mengalir hingga Akar Rumput
Di luar ruang kantor ber-AC, mesin digital Bank Jakarta bergerak lewat aplikasi JakOne Mobile dan JakOne Pay. Aplikasi ini tidak hanya difungsikan sebagai alat transfer biasa, melainkan disatukan dengan fasilitas publik warga Jakarta—mulai dari pembayaran moda transportasi massal seperti TransJakarta, MRT, dan LRT, hingga integrasi program bantuan sosial daerah seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus.
Inklusi keuangan itu juga merambah ke lorong-lorong pasar tradisional yang dikelola Perumda Pasar Jaya. Lewat standarisasi pembayaran QRIS dan aplikasi JakOne Abang, ribuan pedagang kecil mulai terbiasa dengan transaksi nirtunai.
Hj. Maryam, pedagang sembako di Pasar Mayestik, merasakan langsung kemudahan tersebut.
“Dulu kalau jualan repot nyiapin uang kembalian receh, apalagi kalau uangnya basah atau lecek. Sekarang pakai QRIS Bank Jakarta, pembeli tinggal scan. Uangnya langsung masuk rekening hari itu juga, bisa dipakai buat modal belanja barang besoknya,” tuturnya.
Langkah digitalisasi hingga ke ranah pedagang pasar ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menilai langkah transformasi ini sejalan dengan strategi penguatan ekonomi Jakarta menuju skala global.
“Atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami mendukung dan menyambut baik kehadiran New Look Bank Jakarta KCP Kebayoran Park sebagai komitmen Bank Jakarta untuk terus bertransformasi menjawab kebutuhan nasabah. Bank Jakarta memegang peran penting sebagai bank pembangunan daerah yang tidak hanya menyediakan layanan keuangan, tetapi juga mendukung pertumbuhan usaha, memperluas akses pembiayaan, dan mendorong transformasi ekonomi Jakarta,” kata Rano.
Rano pun berpesan agar jaringan cabang digital dan fasilitas transaksi nirtunai terus diperluas hingga ke pemukiman padat dan kawasan rumah susun sederhana sewa (rusunawa).
Buah Manis di Lembar Neraca
Akselerasi layanan fisik dan digital tersebut berdampak langsung pada pencapaian kinerja keuangan perseroan. Pertumbuhan porsi dana murah (CASA) menjadi salah satu indikator paling mencolok, terdorong oleh masifnya aktivitas transaksi harian nasabah di ekosistem digital.
Ikhtisar Kinerja Keuangan Bank Jakarta (2024–Juni 2026)
(Dalam Rp Miliar, kecuali rasio dinyatakan dalam %)
| Indikator Keuangan | 2024 | 2025 | Juni 2026 (YoY) |
| Total Aset | 81.650 | 88.420 | 94.180 |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 62.300 | 67.850 | 73.200 |
| Penyaluran Kredit & Pembiayaan | 49.100 | 54.300 | 59.850 |
| Laba Bersih (Net Profit) | 860 | 985 | 1.120* |
| Porsi Dana Murah (CASA Ratio) | 51,2% | 54,8% | 57,4% |
| Rasio Kredit Bermasalah (NPL Gross) | 2,15% | 1,88% | 1,65% |
| Rasio Kecukupan Modal (CAR) | 24,5% | 25,2% | 26,1% |
*Proyeksi laba disetahunkan (annualized). Sumber: Laporan Keuangan Dipublikasikan Bank Jakarta.
Naiknya porsi CASA hingga 57,4 persen pada pertengahan 2026 membantu perseroan menekan biaya dana (cost of fund) secara efisien. Di saat yang sama, penyaluran kredit tetap berjalan penuh kehati-hatian, terbukti dari angka rasio NPL Gross yang berhasil ditekan hingga ke level 1,65 persen.
Benteng Siber dan Pengakuan Industri
Makin luasnya penetrasi digital tentu diimbangi dengan risiko kejahatan siber yang kian kompleks. Bank Jakarta mengantisipasi hal tersebut dengan membentuk Divisi Khusus Cybersecurity serta mengantongi sertifikasi keamanan ISO 27001:2022.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menegaskan bahwa faktor keamanan data dan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) adalah prinsip mutlak.
“Konsep New Look Branch dan modernisasi ekosistem digital mencerminkan semangat perseroan untuk tampil sebagai institusi keuangan yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era dinamika industri perbankan yang cepat. Penjagaan terhadap keamanan data nasabah dan tata kelola yang baik menjadi fondasi utama yang tidak bisa ditawar,” ujarnya.
Upaya perbaikan kinerja dan inovasi digital ini pun berbuah apresiasi dari berbagai pihak. Bank Jakarta meraih Infobank Digital Brand Award 2026 untuk kategori Mobile Banking BPD Terbaik, predikat BUMD Bintang 5 di ajang TOP BUMD Awards 2026, serta penghargaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia atas kontribusinya dalam pembiayaan ekonomi kreatif dan perluasan QRIS pasar.
Komisaris Utama Bank Jakarta, Anang Basuki, memastikan dewan komisaris akan terus mengawal agar roda transformasi ini berjalan secara berkelanjutan (sustainable) dan tetap berada pada koridor kepatuhan regulasi.
Dengan fondasi teknologi yang kian mantap, jaringan cabang yang kian ramah, serta kinerja keuangan yang solid, Bank Jakarta kini tak sekadar menjadi penonton perubahan, melainkan mesin penggerak utama Jakarta menyongsong panggung kota global.***















