Oleh : Romualdus San Udika
Tanggal 9 Februari 2026 bukan sekadar penanda usia ke-76 bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN). Momen ini menjadi tonggak pembuktian bahwa sang raja KPR nasional telah berhasil melakukan metamorfosis bisnis yang fundamental. Di tengah dinamika makroekonomi global, BTN justru tampil dengan performa yang kian solid, mencatatkan pertumbuhan dua digit yang didorong oleh efisiensi tajam dan mesin pertumbuhan baru.
Hingga tutup tahun buku 2025, bank pelat merah ini sukses membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun, melonjak 16,4% (yoy) dibandingkan capaian 2024 yang sebesar Rp3,0 triliun. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa strategi transformasi yang konsisten mulai memberikan value creation yang optimal bagi perseroan.
BERITA TERKAIT
Transformasi Margin dan Efisiensi Operasional
Satu hal yang paling mencolok dari laporan keuangan BTN tahun ini adalah lonjakan Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM). BTN berhasil mengerek NIM ke level 4,2%, naik signifikan sebanyak 133 basis poin (bps) dari posisi 2,9% pada tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini berpangkal pada kemampuan manajemen menjaga beban bunga tetap stabil di angka Rp17,9 triliun (hanya naik 0,4% yoy), sementara pendapatan bunga melesat 23,0% yoy menjadi Rp36,3 triliun. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari disiplin keuangan yang ketat.
“BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini. Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon di Jakarta, Senin (9/2).
KPP: Mesin Pertumbuhan Baru di Sektor Properti
Dominasi BTN di sektor perumahan kian tak tergoyahkan dengan pangsa pasar KPR mencapai 39% secara nasional. Hingga Desember 2025, total aset konsolidasian BTN mencapai Rp527,8 triliun, tumbuh 12,4% yoy.
Pertumbuhan ini salah satunya dipicu oleh gebrakan pemerintah melalui Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan Oktober 2025. BTN bergerak cepat dengan menguasai hampir separuh penyaluran nasional, yakni sebesar Rp2,6 triliun.
“KPP menjadi mesin baru untuk mendorong pertumbuhan kredit BTN serta menawarkan profitabilitas yang lebih baik karena marginnya yang lebih tinggi dibandingkan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Kami berharap program ini dapat menjadi solusi bagi wirausaha yang membutuhkan rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha mereka,” tutur Nixon.
Secara keseluruhan, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian tumbuh 11,9% yoy menjadi Rp400,6 triliun. Sektor perumahan tetap menjadi tulang punggung dengan realisasi Rp328,4 triliun, di mana KPR Subsidi tumbuh 10% menjadi Rp191,2 triliun dan KPR Non-Subsidi naik 6,7% menjadi Rp113,0 triliun.
Akselerasi Digital Melalui ‘Bale by BTN’
Di sisi liabilitas, kepercayaan masyarakat terhadap BTN tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp437,4 triliun. Menariknya, pertumbuhan dana murah ini didorong kuat oleh performa superapp Bale by BTN.
Data menunjukkan jumlah pengguna Bale melonjak 66,1% menjadi 3,7 juta user, dengan total transaksi mencapai 2,2 miliar kali senilai Rp103,6 triliun. Saldo rata-rata pengguna Bale yang lebih tinggi turut berkontribusi sebesar Rp22,8 triliun terhadap total DPK.
“Kami akan terus mendorong positioning Bale sebagai superapp yang menawarkan ekosistem terintegrasi untuk solusi transaksi keuangan keluarga, baik yang terkait dengan kebutuhan perumahan maupun berbagai macam lifestyle lainnya,” jelas Nixon.
Aset dan Kelahiran Raksasa Syariah
Pertumbuhan agresif ini tidak membuat BTN abai terhadap kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross berhasil ditekan ke level 3,1% dari sebelumnya 3,2%. Perseroan juga mempertebal bantalan risiko dengan meningkatkan NPL Coverage ke level 123,9%.
Ketahanan modal juga semakin kokoh dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 20,9%, naik 240 bps. Nixon memproyeksikan perbaikan kualitas kredit akan terus berlanjut.
“BTN memproyeksikan NPL dapat menurun hingga di bawah 3,0% pada akhir tahun 2026 sejalan dengan membaiknya kualitas kredit,” imbuhnya.
Tak berhenti di situ, tahun 2025 menjadi saksi berdirinya Bank Syariah Nasional (BSN) sebagai anak usaha BTN yang kini menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Dengan aset mencapai Rp73 triliun dan pertumbuhan pembiayaan sebesar 25%, BSN menjadi pilar penting dalam strategi Beyond Mortgage.
Nixon menutup paparannya dengan visi besar membawa BTN menjadi solusi finansial terintegrasi.
“Melalui aspirasi ini, BTN berharap dapat memberikan value creation bagi kesejahteraan rakyat dan perekonomian secara keseluruhan,” pungkasnya.***
Tabel: Ikhtisar Kinerja Keuangan BTN (Konsolidasian)
(Periode Berakhir 31 Desember 2025 vs 2024)
| Indikator Keuangan | 2024 (Rp Triliun) | 2025 (Rp Triliun) | Pertumbuhan (%) |
| Total Aset | 469,6* | 527,8 | 12,4% |
| Kredit & Pembiayaan | 358,9 | 400,6 | 11,9% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 381,7 | 437,4 | 14,6% |
| Pendapatan Bunga | 29,6 | 36,3 | 23,0% |
| Beban Bunga | 17,9 | 17,9 | 0,4% |
| Pendapatan Bunga Bersih | 11,7 | 18,4 | 57,5% |
| Laba Bersih | 3,0 | 3,5 | 16,4% |
| NIM (%) | 2,9% | 4,2% | +133 bps |
| NPL Gross (%) | 3,2% | 3,1% | -10 bps |
| CAR (%) | 18,5% | 20,9% | +240 bps |
*Sumber ; paparan kinerja btn





.jpg)










