JAKARTA, Stabilitas—Direktur Keuangan Mandiri, Panji Irawan memproyeksikan hingga akhir tahun ini, kurs Rupiah akan berada pada rentang 14.200 – 14.300 per dolar Amerika Serikat.
“Perkembangan ekonomi dunia terakhir ini memang kurang supportif terhadap perkembangan ekonomi nasional, tapi kami optimis hingga akhir tahun ini rupiah akan sebesar Rp14.200 sampai Rp14.300/USD,”ujar Panji dalam Media Gathering “Macro Economic Outlook 2019” di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).
Selain kurs rupiah, Panji juga memandang keseimbangan ekonomi internal yaitu inflasi, masih terjaga hingga akhir tahun sebesar 3,41. Menurutnya, hal ini didukung oleh fakta bahwa laju inflasi bulanan pada bulan Agustus tercatat sebesar 3,49 persen. Angka ini masih dalam rentang target Bank Indonesia yang sebesar3,5±1 persen.
Sementara itu, aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi dan pasar saham masing–masing sebesar 116 triliun dan 59 triliun Rupiah sampai akhir Agustus 2019, telah mendukung stabilitas nilai tukarRupiah.
“Kami masih optimis stabilitas ekonomi internal dan eksternal kedepan masih akan terjaga,”imbuhnya.
Di samping itu, Panji menambahkan, pihaknya melihat kondisi perbankan nasional juga masih cukup kuat menghadapi resiko-resiko yang timbul akibat tekanan ekonomi global, perang dagang dan pelemahan harga komoditas.
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional tercatat masih cukup tinggi, yaitu sebesar 22,6 persen pada bulan Juni 2019.
Selain itu, kualitas asset perbankan nasional juga terus membaik, dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,5 persen, menurun dibandingkan bulan Juni 2018 yang sebesar2,67 persen.
“Kami menyadari tantangan perbankan nasional kedepan akan terus meningkat. Tantangan-tantangan ini mungkin akan menekan permintaan kredit perbankan nasional. Pada saat yang bersamaan, bank-bank nasional pun akan lebih selektif dalam penyaluran kredit mempertimbangkan prospek bisnis yang semakin ketat,”bebernya.
Namun demikian, ditengah peningkatan resiko dan ketidakpastian ekonomi tersebut, dirinya melihat masih cukup banyak peluang-peluang bisnis bagi perbankan nasional baik peluang bisnis kredit dan bisnistransaksi.
Beberapa sector yang prospektif menurut Panji adalah yang didorong oleh berbagai program Pemerintah, yaitu sektor jasa kesehatan, farmasi, pendidikan, ekonomi kreatif dan pariwisata. Dirinya juga optimis pertumbuhan sektor infrastruktur kedepan masih akan baik. Selain itu, masih ada beberapa sektor lainnya yang memiliki prospek yang baik, yaitu sektor perdagangan FMCG (fast moving consumer goods) dan sektor telekomunikasi sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat dan terus peningkatan penetrasi penggunainternet.
Kami juga yakin peran Bank Indonesia dalam mengelola kebijakan moneter dan peran Pemerintah dalam mengelola kebijakan, akan menghasilkan bauran kebijakan yang efektif dalam mendorong perekonomian nasional.
“Perbankan nasional dalam menghadapi situasi ekonomi domestik dan global sekarang ini, akan selalu tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko bisnis dan portfolio kredit,”pungkasnya.

















