JAKARTA, Stabiitas.id – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2025 dinilai sejalan dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan di tengah tekanan eksternal. DBS Group Research menilai kebijakan dovish ini memberi sinyal kuat atas ketahanan ekonomi domestik sekaligus membuka ruang bagi transmisi moneter yang lebih dalam.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menjelaskan bahwa meski sejumlah indikator aktivitas dengan frekuensi tinggi menunjukkan perlambatan pada paruh kedua tahun, BI memilih tetap mendukung pertumbuhan. “Keputusan ini diambil di tengah inflasi yang masih sesuai target dan rupiah yang relatif stabil,” ujarnya.
Tekanan Ekonomi AS Jadi Sorotan
Analisis DBS Group Research menyoroti tekanan berlapis yang kini dihadapi Amerika Serikat, mulai dari inflasi yang tetap tinggi, dampak tarif perdagangan internasional, pengetatan kebijakan imigrasi, kebutuhan stimulus fiskal, lonjakan harga aset, hingga tekanan politik terhadap The Fed.
DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan melambat pada semester II 2025, dengan kemungkinan The Fed memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin tahun ini dan tambahan 50 basis poin pada 2026.
Dampak Tarif AS Terhadap RI Relatif Terbatas
Kendati ekspor tekstil, furnitur, dan alas kaki Indonesia memiliki eksposur ke pasar AS, DBS menilai dampaknya relatif kecil dibandingkan negara ASEAN lain. Beberapa faktor yang menopang daya tahan Indonesia antara lain meredanya inflasi, meningkatnya belanja pemerintah, serta arus masuk Foreign Direct Investment (FDI) yang masih positif.
“Struktur ekonomi Indonesia yang beragam memberi ketahanan menghadapi gelombang tarif baru dari AS,” tambah Radhika.
DBS juga menekankan pentingnya percepatan perjanjian perdagangan bebas dengan mitra strategis agar lebih dari 99 persen produk Indonesia bisa masuk ke pasar AS tanpa hambatan tarif.
Inflasi Terkendali, BI Tetap Dovish
Inflasi dalam negeri diperkirakan terjaga di kisaran target 3–4 persen sepanjang 2025–2026. BI kemungkinan akan mempertahankan sikap dovish seiring The Fed yang diproyeksikan melonggarkan kebijakan pada kuartal IV. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di sekitar 5 persen, dengan defisit fiskal dijaga di bawah 3 persen PDB.
DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berpotensi menguat hingga 5,4 persen, tertinggi sejak 2018, didukung perbaikan penerimaan negara.
Imbal Hasil Obligasi & Pasar Saham
Di sisi pasar keuangan, imbal hasil obligasi Indonesia mulai menurun berkat permintaan tinggi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta surplus likuiditas. Permintaan terkonsentrasi pada tenor pendek–menengah, sementara obligasi 10 tahun cenderung tertinggal.
Di pasar saham, Maynard Arif, Equities Specialist DBS Group Research, menyebut adanya rotasi ke saham big caps yang relatif lebih tahan terhadap volatilitas global. Meski indeks LQ45 dan IDX30 mencatat kinerja di bawah rata-rata hingga Juli, valuasi saham RI masih menarik dibandingkan negara Asia lain.
Prospek FDI dan Rupiah
DBS memproyeksikan aliran FDI akan kembali meningkat pada paruh kedua 2025, sejalan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan dan stabilisasi rupiah. Namun, investor tetap diimbau waspada atas risiko volatilitas jangka pendek akibat dinamika kebijakan global dan geopolitik.
Nilai tukar USD/IDR diperkirakan bergerak konsolidatif dalam jangka pendek, mencerminkan adaptasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed serta kondisi fundamental domestik.
Untuk membantu investor menghadapi fluktuasi pasar, DBS Global Financial Markets (GFM) menawarkan solusi keuangan terintegrasi, mulai dari konsultasi investasi hingga akses instrumen global.
“Pergerakan USD/IDR saat ini mencerminkan dinamika pasar global yang kompleks. Melalui strategi yang tepat, nasabah dapat lebih siap menghadapi volatilitas dan memanfaatkan peluang,” kata Muchammad Suryanatakusumah, Executive Director & Head of Sales Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia. ***





.jpg)










