• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, Februari 22, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Manajemen Risiko

Mendebat Prediksi Wold Bank

oleh Sandy Romualdus
28 Februari 2014 - 00:00
3
Dilihat
Mendebat Prediksi Wold Bank
0
Bagikan
3
Dilihat

Di tengah kondisi perekonomian global yang tak menentu dan dalam negeri yang melemah, setiap proyeksi pertumbuhan yang optimis layaknya sebuah oase di gurun pasir. Sebaliknya prediksi yang lebih suram berpotensi menurunkan gairah pelaku ekonomi.
Bank Dunia, bulan lalu, mengeluarkan laporan ekonomi terbaru yang dirangkum dalam Global Economic Prospects 2014. Laporan itu sekaligus juga merevisi prediksi pertumbuhan global yang dikeluarkan lembaga itu jelang akhir tahun lalu. Dalam catatan terbaru Bank Dunia, perekonomian dunia diprediksi tumbuh 3,2 persen lebih tinggi dari prediksi sebelumnya yang hanya mencapai 3 persen.
Menurut Bank Dunia, penguatan pertumbuhan ekonomi dunia terjadi karena negara maju mulai berhasil memacu pertumbuhan setelah lima tahun terpukul krisis finansial, selain juga karena China berhasil mempertahankan pertumbuhan yang kuat. Namun, disebutkan juga bahwa pertumbuhan bisa bergejolak karena adanya volatilitas pasar modal dan kenaikan suku bunga di dunia.
“Pertumbuhan menguat di negara maju dan berkembang, tapi risiko memburuk tetap ada sehingga bisa mengganggu pemulihan ekonomi global,” ujar Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam pernyataan resminya.
Dikatakan bahwa, performa ekonomi negara maju sedang memperoleh momentum yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat di negara berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Di lain pihak, negara berkembang diminta untuk tetap melaksanakan reformasi struktural serta menciptakan lapangan kerja, menguatkan pasar finansial, dan meningkatkan jaminan sosial agar bisa a nanti salah kok.
menekan tingkat kemiskinan.
Sementara itu untuk negara berkembang, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,8 persen di 2013 kemudian tumbuh 5,3 persen di 2014 dan 5,5 persen dan 5,7 persen di 2015 dan 2016. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi negara berkembang sebelumnya diproyeksikan 5,1 persen di 2013 kemudian 5,6 persen di 2014 dan 5,7 persen di 2014.
Meski melambat signifikan di bawah periode emas pertumbuhan ekonomi negara berkembang pada 2003-2007, Bank Dunia menyebut hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Perlambatan terjadi karena negara berkembang tengah memperbaiki sumber pertumbuhan yang sebelumnya justru tidak berkelanjutan. Indonesia sendiri diprediksi akan tumbuh 5,3 persen, melambat dari pertumbuhan ekonomi 2013 yang disebutkan 5,6 persen.

Laporan yang sama menyebutkan bahwa sumber perlambatan Indonesia adalah harga komoditas yang belum membaik dan kebijakan pengetatan moneter dan fiskal. “Perbaikan ekonomi di negara maju seharusnya memperbaiki permintaan impor sehingga bisa mendorong ekspor regional. Namun, penurunan harga komoditas masih akan menekan eksporter komoditas seperti Indonesia,” tulis laporan tersebut.
Sudah Expected
Sejumlah pengamat cukup berhati-hati dalam menanggapi laporan tersebut, sekaligus mencoba memprediksi potensi pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2014 ini. Ekonom senior Bank Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini yang diproyeksikan 3,2 persen tidak akan berdampak positif bagi Indonesia dalam jangka pendek.
“Meski pengaruh negatif dari perekonomian Turki dan Argentina terhadap perekonomian global kecil, kelanjutan kebijakan pengetatan stimulus keuangan Amerika Serikat akan berlangsung hingga akhir tahun (masih akan berdampak), selain revolusi shale gas di AS,” kata Ichsan.
Dia mengatakan pertumbuhan perekonomian AS yang diperkirakan mencapai 2,4 persen pada 2014 akan menyumbang 20 persen pertumbuhan ekonomi dunia. Tapi, hal itu tidak serta merta menaikkan harga sejumlah komoditas di dunia, terutama komoditas energi menyusul revolusi shale gas.
“Karena revolusi shale gas itu, sulit untuk mengharapkan harga batu bara, kelapa sawit dan minyak bumi akan naik dalam 12 bulan hingga 18 bulan mendatang,” katanya. Sementara, lanjut Ichsan, 60 persen ekspor Indonesia berasal dari komoditas. Shale gas adalah gas alam yang berasal dari serpihan batuan, bukan dari proses di perut bumi yang selama ini ada.
Sementara Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menilai, laporan Word Bank tersebut, khusus untuk Indonesia, sebagai terlalu pesimistis. Dalam dua kali terbitan Indonesia Economic Quarterly, bank memang sudah memvonis Indonesia dengan pertumbuhan yang pesimistis.
“Pertumbuhan dunia membaik, sebenarnya kita melihatnya sudah expected, mereka saja yang kayaknya lebih bearish. Termasuk untuk Indonesia, growth yang mereka forecast kalau saya pikir masih agak terlalu rendah, harusnya sih agak tinggi sedikit di atas 5,5 persen,” ujar Anton.
Adapun faktor pendorongnya adalah perbaikan ekspor. Tahun ini ekonom tersebut sudah melihat neraca perdagangan akan kembali ke posisi surplus. Kontribusi ekspor terhadap PDB akan menjadi lebih tinggi.
Senada dengan Anton, Menteri Keuangan Chatib Basri juga meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi dari yang diproyeksikan Bank Dunia. “Mereka juga nanti salah kok.

Waktu tahun lalu, prediksi dia (salah), lebih benar kita. Jadi kayaknya akan segitu, 5,8-6,1 persen di 2014,” tukas Chatib.
Lembaga dunia semacam Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), hanya sekali dua kali setahun berkunjung ke Indonesia dalam rangka memprediksi pertumbuhan. Bahkan Sri Mulyani yang kini menjadi salah satu direktur di Bank Dunia, saat menjadi Menteri Perekonomian mengatakan bahwa lembaga dunia seringkali salah prediksi dan selalu akan merevisi proyeksinya.
Menurut Sri Mulyani, salah satu asumsi yang digunakan lembaga-lembaga itu adalah tingkat konsumsi masyarakat Indonesia. Seringkali asumsi konsumsi yang digunakan tidak setinggi yang digunakan pemerintah.
Transaksi Berjalan
Chatib Basri lebih lanjut juga memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun ini akan turun di posisi 2,5 persen. Pada kuartal terakhir tahun lalu, defisit transaksi berjalan tercatat berada di kisaran 3,5 persen, menurun dibandingkan pada kuartal sebelumnya di posisi 3,8 persen.
Sebelumnya pada Agustus lalu Bank Indonesia memprediksi defisit transaksi berjalan berada di angka 4,4 persen dari persentase produk domestik bruto (PDB) pada akhir tahun. “Karena permintaan domestik lebih tinggi dari kapasitas produksi yang bisa kita buat. Refleksi dari kelebihan permintaan,” papar Chatib.
Chatib menambahkan agar bisa memperkecil defisit transaksi berjalan, solusinya dengan menambah pasokan atau mengurangi permintaan. Tapi untuk saat ini, defisit transaksi berjalan harus segera diatasi dengan mengurangi permintaan.
Sementara itu, Fauzi dari Standard Chartered menilai kondisi defisit neraca transaksi berjalan ke depan juga masih akan menimbulkan masalah karena posisinya yang masih cukup lebar. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah diminta meredam aktivitas impor yang selama ini masih jauh lebih tinggi ketimbang catatan ekspor nasional. Salah satu upayanya adalah dengan menaikkan suku bunga.
“Kami tidak melihat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa mengurangi impor. Dengan situasi seperti ini, pertumbuhan ekonomi (Indonesia) akan sulit mencapai enam persen. Untungnya ada stimulus pemilu. Jadi sedikit membantu,” tutur Fauzi.
Penyelenggaraan Pemilu pada tahun ini, diyakini bakal mampu menyumbang 0,2-0,3 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun karena defisit transaksi berjalan semakin melebar, pemerintah dikatakan Fauzi justru dianggap berkepentingan untuk menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Yang jadi masalah tetap adalah defisit transaksi berjalan. Dengan ekspektasi harga komoditas tidak akan pulih, maka defisit akan terus bengkak dan rupiah bisa terus terpuruk. Agar defisit transaksi berjalan dapat terkendali, impor harus diturunkan, caranya dengan porsi pertumbuhan ekonomi diturunkan. Proyeksi kami (pertumbuhan) ekonomi tahun 2014 akan di kisaran 5,8 persen dan baru tahun 2015 bisa mencapai 6 persen” jelas Fauzi.
Standard Chartered mengungkapkan, nilai investasi dan konsumsi akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2014. Pelemahan ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi justru akan melemahkan kegiatan ekspor Indonesia.

BERITA TERKAIT

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Dampak Paket Kebijakan

Jika sedikit mundur ke belakang, sejatinya perekonomian nasional mulai menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan November 2013 kembali surplus sebesar 6,8 juta dollar AS. Pencapaian ini meneruskan tren bulan sebelumnya yang surplus 42,4 juta dollar AS. Secara detail, nilai ekspor 15,93 miliar dollar AS sedangkan impor 15,15 miliar dollar AS.
Volume perdagangan pun menunjukkan hal serupa dengan volume ekspor sebesar 65,28 juta ton sedangkan impor sebesar 11,64 juta ton. “Surplus neraca perdagangan November merupakan surplus tertinggi sejak April 2012,” ujar Kepala BPS Suryamin awal Januari lalu.
Dia menjelaskan, surplus yang terjadi bukan bersifat musiman. Pasalnya, pada November 2012, neraca perdagangan mencatatkan defisit sebesar 618 juta dollar AS. Bahkan, pada Oktober 2012 defisitnya sebesar 1,9 miliar dollar AS. Jadi, menurutnya, surplus saat ini merupakan akumulasi dari paket-paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

 
 
 
 
Sebelumnya

Menghadapi Ujian Yang Sesungguhnya

Selanjutnya

Kaya Potensial Miskin Modal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Gadai Emas Syariah

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

oleh Sandy Romualdus
20 Februari 2026 - 16:03

Stabilitas.id – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri mulai membongkar jaringan pencucian uang terkait aktivitas penambangan emas tanpa...

Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

oleh Stella Gracia
2 Februari 2026 - 10:09

Stabilitas.id — Divisi Hubungan Internasional Polri mengumumkan Mohammad Riza Chalid (MRC) resmi berstatus buronan internasional setelah Interpol menerbitkan red notice...

Kasus Penipuan Mengatasnamakan TASPEN Berujung Vonis, Perseroan Tegaskan Keamanan Data Peserta

Kasus Penipuan Mengatasnamakan TASPEN Berujung Vonis, Perseroan Tegaskan Keamanan Data Peserta

oleh Stella Gracia
28 Januari 2026 - 09:32

Stabilitas.id — PT TASPEN (Persero) menegaskan komitmennya dalam melindungi hak dan keamanan peserta setelah pelaku penipuan yang mengatasnamakan TASPEN dijatuhi...

Coachee360 Diluncurkan, Perkuat Pengembangan Kepemimpinan Berbasis AI

Coachee360 Diluncurkan, Perkuat Pengembangan Kepemimpinan Berbasis AI

oleh Sandy Romualdus
22 Januari 2026 - 19:36

Stabilitas.id — Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) kian mendorong transformasi fungsi human resources (HR) dari peran administratif menjadi mitra strategis...

Eks Director Sertifikasi Asia Pacific Dirikan KRQA, Siap Beroperasi 2026

Eks Director Sertifikasi Asia Pacific Dirikan KRQA, Siap Beroperasi 2026

oleh Stella Gracia
6 Januari 2026 - 12:32

Stabilitas.id — Praktisi sertifikasi internasional Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA resmi mendirikan Karl Register Quality Assurance (KRQA), sebuah badan...

Askrindo Tingkatkan Literasi Asuransi bagi Pengelola SPBU dan SPBE

Askrindo Tingkatkan Literasi Asuransi bagi Pengelola SPBU dan SPBE

oleh Stella Gracia
24 Desember 2025 - 16:05

Stabilitas.id – PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) menggandeng Koperasi Pengusaha Nasional Minyak dan Gas Bumi (Kopana Migas) untuk mendiseminasikan pentingnya...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Ada Bank ‘Main’ Bitcoin

Ada Bank 'Main' Bitcoin

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance