Di tengah kondisi perekonomian global yang tak menentu dan dalam negeri yang melemah, setiap proyeksi pertumbuhan yang optimis layaknya sebuah oase di gurun pasir. Sebaliknya prediksi yang lebih suram berpotensi menurunkan gairah pelaku ekonomi.
Bank Dunia, bulan lalu, mengeluarkan laporan ekonomi terbaru yang dirangkum dalam Global Economic Prospects 2014. Laporan itu sekaligus juga merevisi prediksi pertumbuhan global yang dikeluarkan lembaga itu jelang akhir tahun lalu. Dalam catatan terbaru Bank Dunia, perekonomian dunia diprediksi tumbuh 3,2 persen lebih tinggi dari prediksi sebelumnya yang hanya mencapai 3 persen.
Menurut Bank Dunia, penguatan pertumbuhan ekonomi dunia terjadi karena negara maju mulai berhasil memacu pertumbuhan setelah lima tahun terpukul krisis finansial, selain juga karena China berhasil mempertahankan pertumbuhan yang kuat. Namun, disebutkan juga bahwa pertumbuhan bisa bergejolak karena adanya volatilitas pasar modal dan kenaikan suku bunga di dunia.
“Pertumbuhan menguat di negara maju dan berkembang, tapi risiko memburuk tetap ada sehingga bisa mengganggu pemulihan ekonomi global,” ujar Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam pernyataan resminya.
Dikatakan bahwa, performa ekonomi negara maju sedang memperoleh momentum yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat di negara berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Di lain pihak, negara berkembang diminta untuk tetap melaksanakan reformasi struktural serta menciptakan lapangan kerja, menguatkan pasar finansial, dan meningkatkan jaminan sosial agar bisa a nanti salah kok.
menekan tingkat kemiskinan.
Sementara itu untuk negara berkembang, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,8 persen di 2013 kemudian tumbuh 5,3 persen di 2014 dan 5,5 persen dan 5,7 persen di 2015 dan 2016. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi negara berkembang sebelumnya diproyeksikan 5,1 persen di 2013 kemudian 5,6 persen di 2014 dan 5,7 persen di 2014.
Meski melambat signifikan di bawah periode emas pertumbuhan ekonomi negara berkembang pada 2003-2007, Bank Dunia menyebut hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Perlambatan terjadi karena negara berkembang tengah memperbaiki sumber pertumbuhan yang sebelumnya justru tidak berkelanjutan. Indonesia sendiri diprediksi akan tumbuh 5,3 persen, melambat dari pertumbuhan ekonomi 2013 yang disebutkan 5,6 persen.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa sumber perlambatan Indonesia adalah harga komoditas yang belum membaik dan kebijakan pengetatan moneter dan fiskal. “Perbaikan ekonomi di negara maju seharusnya memperbaiki permintaan impor sehingga bisa mendorong ekspor regional. Namun, penurunan harga komoditas masih akan menekan eksporter komoditas seperti Indonesia,” tulis laporan tersebut.
Sudah Expected
Sejumlah pengamat cukup berhati-hati dalam menanggapi laporan tersebut, sekaligus mencoba memprediksi potensi pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2014 ini. Ekonom senior Bank Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini yang diproyeksikan 3,2 persen tidak akan berdampak positif bagi Indonesia dalam jangka pendek.
“Meski pengaruh negatif dari perekonomian Turki dan Argentina terhadap perekonomian global kecil, kelanjutan kebijakan pengetatan stimulus keuangan Amerika Serikat akan berlangsung hingga akhir tahun (masih akan berdampak), selain revolusi shale gas di AS,” kata Ichsan.
Dia mengatakan pertumbuhan perekonomian AS yang diperkirakan mencapai 2,4 persen pada 2014 akan menyumbang 20 persen pertumbuhan ekonomi dunia. Tapi, hal itu tidak serta merta menaikkan harga sejumlah komoditas di dunia, terutama komoditas energi menyusul revolusi shale gas.
“Karena revolusi shale gas itu, sulit untuk mengharapkan harga batu bara, kelapa sawit dan minyak bumi akan naik dalam 12 bulan hingga 18 bulan mendatang,” katanya. Sementara, lanjut Ichsan, 60 persen ekspor Indonesia berasal dari komoditas. Shale gas adalah gas alam yang berasal dari serpihan batuan, bukan dari proses di perut bumi yang selama ini ada.
Sementara Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menilai, laporan Word Bank tersebut, khusus untuk Indonesia, sebagai terlalu pesimistis. Dalam dua kali terbitan Indonesia Economic Quarterly, bank memang sudah memvonis Indonesia dengan pertumbuhan yang pesimistis.
“Pertumbuhan dunia membaik, sebenarnya kita melihatnya sudah expected, mereka saja yang kayaknya lebih bearish. Termasuk untuk Indonesia, growth yang mereka forecast kalau saya pikir masih agak terlalu rendah, harusnya sih agak tinggi sedikit di atas 5,5 persen,” ujar Anton.
Adapun faktor pendorongnya adalah perbaikan ekspor. Tahun ini ekonom tersebut sudah melihat neraca perdagangan akan kembali ke posisi surplus. Kontribusi ekspor terhadap PDB akan menjadi lebih tinggi.
Senada dengan Anton, Menteri Keuangan Chatib Basri juga meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi dari yang diproyeksikan Bank Dunia. “Mereka juga nanti salah kok.
Waktu tahun lalu, prediksi dia (salah), lebih benar kita. Jadi kayaknya akan segitu, 5,8-6,1 persen di 2014,” tukas Chatib.
Lembaga dunia semacam Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), hanya sekali dua kali setahun berkunjung ke Indonesia dalam rangka memprediksi pertumbuhan. Bahkan Sri Mulyani yang kini menjadi salah satu direktur di Bank Dunia, saat menjadi Menteri Perekonomian mengatakan bahwa lembaga dunia seringkali salah prediksi dan selalu akan merevisi proyeksinya.
Menurut Sri Mulyani, salah satu asumsi yang digunakan lembaga-lembaga itu adalah tingkat konsumsi masyarakat Indonesia. Seringkali asumsi konsumsi yang digunakan tidak setinggi yang digunakan pemerintah.
Transaksi Berjalan
Chatib Basri lebih lanjut juga memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun ini akan turun di posisi 2,5 persen. Pada kuartal terakhir tahun lalu, defisit transaksi berjalan tercatat berada di kisaran 3,5 persen, menurun dibandingkan pada kuartal sebelumnya di posisi 3,8 persen.
Sebelumnya pada Agustus lalu Bank Indonesia memprediksi defisit transaksi berjalan berada di angka 4,4 persen dari persentase produk domestik bruto (PDB) pada akhir tahun. “Karena permintaan domestik lebih tinggi dari kapasitas produksi yang bisa kita buat. Refleksi dari kelebihan permintaan,” papar Chatib.
Chatib menambahkan agar bisa memperkecil defisit transaksi berjalan, solusinya dengan menambah pasokan atau mengurangi permintaan. Tapi untuk saat ini, defisit transaksi berjalan harus segera diatasi dengan mengurangi permintaan.
Sementara itu, Fauzi dari Standard Chartered menilai kondisi defisit neraca transaksi berjalan ke depan juga masih akan menimbulkan masalah karena posisinya yang masih cukup lebar. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah diminta meredam aktivitas impor yang selama ini masih jauh lebih tinggi ketimbang catatan ekspor nasional. Salah satu upayanya adalah dengan menaikkan suku bunga.
“Kami tidak melihat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa mengurangi impor. Dengan situasi seperti ini, pertumbuhan ekonomi (Indonesia) akan sulit mencapai enam persen. Untungnya ada stimulus pemilu. Jadi sedikit membantu,” tutur Fauzi.
Penyelenggaraan Pemilu pada tahun ini, diyakini bakal mampu menyumbang 0,2-0,3 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun karena defisit transaksi berjalan semakin melebar, pemerintah dikatakan Fauzi justru dianggap berkepentingan untuk menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Yang jadi masalah tetap adalah defisit transaksi berjalan. Dengan ekspektasi harga komoditas tidak akan pulih, maka defisit akan terus bengkak dan rupiah bisa terus terpuruk. Agar defisit transaksi berjalan dapat terkendali, impor harus diturunkan, caranya dengan porsi pertumbuhan ekonomi diturunkan. Proyeksi kami (pertumbuhan) ekonomi tahun 2014 akan di kisaran 5,8 persen dan baru tahun 2015 bisa mencapai 6 persen” jelas Fauzi.
Standard Chartered mengungkapkan, nilai investasi dan konsumsi akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2014. Pelemahan ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi justru akan melemahkan kegiatan ekspor Indonesia.
BERITA TERKAIT
Dampak Paket Kebijakan
Jika sedikit mundur ke belakang, sejatinya perekonomian nasional mulai menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan November 2013 kembali surplus sebesar 6,8 juta dollar AS. Pencapaian ini meneruskan tren bulan sebelumnya yang surplus 42,4 juta dollar AS. Secara detail, nilai ekspor 15,93 miliar dollar AS sedangkan impor 15,15 miliar dollar AS.
Volume perdagangan pun menunjukkan hal serupa dengan volume ekspor sebesar 65,28 juta ton sedangkan impor sebesar 11,64 juta ton. “Surplus neraca perdagangan November merupakan surplus tertinggi sejak April 2012,” ujar Kepala BPS Suryamin awal Januari lalu.
Dia menjelaskan, surplus yang terjadi bukan bersifat musiman. Pasalnya, pada November 2012, neraca perdagangan mencatatkan defisit sebesar 618 juta dollar AS. Bahkan, pada Oktober 2012 defisitnya sebesar 1,9 miliar dollar AS. Jadi, menurutnya, surplus saat ini merupakan akumulasi dari paket-paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.





.jpg)










