• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Sabtu, Oktober 17, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Manajemen Risiko

Menghadapi Ujian Yang Sesungguhnya

by Sandy Romualdus
28 Februari 2014 - 00:00
13
VIEWS
Keunggulan Komparatif Mantan Bankir
0
SHARES
13
VIEWS

Perbankan tak akan lepas dari fungsi pengelolaan dan penyaluran dana nasabah seberapapun canggihnya layanan perbankan saat ini. Tahun ini, fungsi utama itu bakal mendapatkan ujian yang berat ketika pertumbuhan ekonomi melandai, dan kondisi global masih tak menentu. Meski begitu, industri tampaknya memiliki bekal yang cukup bagus sebelum memasuki tahun 2014.
Berdasarkan hasil uji ketahanan yang beberapa kali dilakukan Bank Indonesia, perbankan dinilai masih kuat terhadap risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga, dan depresiasi nilai rupiah.
Dalam statistik perbankan terbaru, bank-bank mampu meraih laba bersih hampir Rp100 triliun selama periode Januari-November 2013, tumbuh 16 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit juga masih tinggi, sebesar 22 persen serta pertumbuhan aset yang mencapai 17 persen.
Bahkan level kredit macet (NPL) mencapai titik terendah sepanjang masa yakni sebesar 0,97 persen di November 2013, dengan NPL gross di posisi 1,88
persen.
Efek pelemahan ekonomi yang sudah muncul sejak kuartal terakhir tahun lalu tak pelak telah membuat bankirbankir menjadi ekstra hati-hati. Hal itu justru memberi dampak positif dalam mengelola aset-aset mereka.
Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan, turunnya NPL industri perbankan karena pengelola bank menjadi lebih berhati-hati dalam mengelola aset. Namun begitu, dia tetap mengingatkan bahwa tantangan pengelolaan aset yang lebih berat akan muncul tahun ini. “Tren kenaikan NPL ada, tetapi saya yakin itu tak ada masalah. Lagi pula ekonomi kita tidak buruk-buruk amat,” kata Halim.

  • Baca juga: Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Malah, berkaca pada pencapaian sampai November tahun lalu itu, bank dinilai masih bisa berbicara banyak dalam menjalakan fungsi intermediasi sepanjang 2014, meski rasio pembiayaan terhadap pendanaan (LDR) sudah mencapai 90,21 persen.
Walaupun begitu pertumbuhan bisnis perbankan tetap akan terkoreksi tahun ini mengingat hampir semua bank sudah menurunkan targetnya ekspansi kredit ke level di bawah 20 persen. melemahnya pertumbuhan kredit tak terlepas dari proyeksi banyak pihak soal tingkat suku bunga acuan yang akan meningkat guna menangkal inflasi dan memperbaiki defisit transaksi berjalan.
Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan, di tahun politik ini perbankan berpotensi mengalami peningkatan risiko kredit dan likuiditas. Hal itu disebabkan oleh belum rampungnya langkah penanganan defisit transaksi berjalan dan perubahanlansekap perekonomian global.
Agus memaparkan, pada 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia memasuki fase konsolidasi, terkait dengan belum tuntasnya langkahlangkah penyelesaian current account deficit yang hingga hingga akhir 2013 diperkirakan masih mendekati angka 3,5 persen dari produk domestik bruto
(PDB).
Dari sisi eksternal, jelas Agus, sejauh ini sedang terjadi konstelasi global, ditandai dengan perubahan lansekap perekonomian dunia. “Perekonomian negara-negara maju semakin membaik, tingkat suku bunga atau yield global juga akan cenderung meningkat. Sedangkan ekonomi negara berkembang melambat,” ujarnya.
Dengan demikian, menurut mantan Menteri Keuangan ini, kondisi tersebut bisa meningkatkan potensi risiko kredit dan risiko likuiditas pada industri
perbankan pada 2014.
Meski begitu, BI memperkirakan industri perbankan dalam negeri memiliki daya tahan dalam menghadapi tantangan eksternal dan internal tersebut.
“Karena, adanya komitmen untuk menambah modal dari pemilik dan laba yang masih tumbuh positif,” ucap Agus.
Sementara itu, kondisi global dan domestik tersebut berpotensi memberi dampak terburuk bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. “Pertumbuhan ekonomi perlu dicermati, karena dapat berdampak pada peningkatan kredit bermasalah (NPL), risiko pasar serta penurunan laba,” ungkap Gubernur BI. BI memperkirakan, kondisi likuiditas perbankan pada 2014 masih akan ketat. Dari sisi eksternal, ada arah pembalikan modal ke negara maju. Sementara dari sisi domestik, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan potensi persaingan penghimpunan dana di perbankan.
Namun begitu, kata Agus,“BI akan menjaga stabilitas keuangan serta melaksanakan kewenangan baru otoritas sebagai makroprudensial memasuki
tahun politik ini.”
Agus mengatakan, kebijakan akan diarahkan pada pengelolaan risiko sistemik, kredit, likuiditas, pasar serta penguatan struktur permodalan. Cara yang ditempuh adalah dengan melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas perbankan. Menurutnya, kebijakan makroprudensial BI akan mengarah pada sistem keuangan secara keseluruhan.
Namun, pengambilan kebijakan makroprudensial tersebut didasarkan juga dari kondisi keadaan perbankan keseluruhan.

  • Baca juga: Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Antisipasi 2014

Sementara itu, Ketua bidang dan Pengkajian Penelitian Perbanas Aviliani memprediksi, kebutuhan tambahan modal dan risiko kredit bakal menjadi isu penting dalam industri perbankan pada 2014. Keluarnya sejumlah beleid baru serta pengalihan pengawasan dari BI ke OJK, adalah beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.
Oleh karena itu, strategi penambahan modal adalah langkah yang mesti ditempuh oleh semua bank dalam rencana jangka menengah dan panjang. “Sekarang, kalau misalnya mereka mau expand 20 persen saja dalam waktu 2 sampai 3 tahun, butuh modal lagi,” ujar Komisaris Independen PT Bank BRI Tbk ini.
Menurutnya, kondisi tersebut juga semakin perlu diperhatikan mengingat semakin banyaknya investor asing yang masuk ke industri ini. selain itu, dia menilai, otoritas pengawas bank harus menyiapkan kebijakan yang tepat untuk mengantisipasi hal tersebut.
Aviliani juga mengatakan bahwa, tahun ini risiko kredit juga bakal meningkat yang dipicu dengan persaingan ketat antar bank dalam penyaluran kredit. “Tahun ini dan 2015 persaingan di antara pebisnis akan ketat, ini juga harus dideteksi sedini mungkin oleh OJK,” katanya.
Terkait dengan bisnis bank-bank kecil, dia menilai sudah saatnya regulator mengingatkan kembali alternatif yang dianggap cukup baik untuk menjaga bisnis itu.
Ekonom Indef ini juga tidak menampik bahwa opsi merger dan akuisisi kurang diminati bank-bank kecil meski langkah tersebut akan membawa perubahan pada pertumbuhan bisnis yang lebih baik.
Salah satu kendala terebsar yang membuat perbankan enggan merger, kata dia, adalah besaran pajak yang harus mereka tangggung jika ingin merger dan akuisisi. Karena itu, menurut dia, sudah saatnya OJK membahas kembali kemungkinan insentif di sektor pajak dengan Direktorat Jenderal Pajak.
Tren Perbankan
Di tempat lain, Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, perubahan yang mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri perbankan mendatang akan semakin dinamis sehingga mempengaruhi strategi dan model bisnis industri perbankan.
OJK, kata Muliaman, memproyeksikan empat tren pertumbuhan industri perbankan nasional pada 2014. Tren pertama, konsumen perbankan akan menuntut layanan yang lebih cepat, fleksibel, dengan produk yang semakin variatif, termasuk kemampuan pengubahan instrumen kredit dengan instrumen pasar uang dan pasar modal.
“OJK akan melihat kemungkinan pengintegrasian produk perbankan dengan produk pasar uang dan pasar modal dalam upaya memperdalam instrumen keuangan di pasar keuangan domestik,” kata Muliaman.
OJK, lanjut Muliaman, memahami konsekuensi peningkatan risiko dan akan menyiapkan berbagai perangkat mitigasi sebelum pengintegrasian produk perbankan dengan produk pasar uang dan pasar modal.
Tren kedua, kredit investasi akan menjadi incaran industri keuangan. karaenanya perbankan harus siap meningkatkan penyaluran kredit investasi terutama di sektor manufaktur, energi, dan infrastruktur menuju produk-produk industri bernilai tambah tinggi.
“OJK akan meninjau ketentuan terkait prinsip kehati-hatian dalam proses pemberian kredit agar sesuai tingkat kompleksitas produk dan usaha bank,” kata Muliaman.
Muliaman mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada kisaran 18 persen merupakan angka sesuai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan ekses negatif terhadap perbankan.
Tren ketiga, perubahan lanskap regulasi industri perbankan untuk menurunkan kemungkinan kegagalan institusi. Perubahan lanskap regulasi itu termasuk struktur permodalan, likuiditas, tata kelola, dan keamanan.
Tren keempat, tekanan terhadap pendanaan dan pembiayaan bank yang bersumber dari pasar modal yang terintegrasi pada 2015. “Di sisi pendanaan, nasabah akan memiliki lebih banyak alternatif penempatan dana selain perbankan.
Sedangkan di sisi pembiayaan, dunia usaha akan lebih mudah untuk masuk bursa di luar negeri sehingga mengurangi pangsa kredit domestik,” kata Muliaman.
Tren kelima, tuntutan kesetaraan dalam persaingan. Karena itu OJK akan memfasilitasi berupa komunikasi dengan otoritas di negara-negara lain yang bertujuan menjamin adanya kesetaraan “level of playing field”.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 
 
 
 
 
Previous Post

Perjudian Baru Group Bakrie

Next Post

Mendebat Prediksi Wold Bank

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

by Stella Gracia
14 Oktober 2026 - 09:08

KPK menggelar OTT terhadap pejabat BNPB dengan pendampingan Puspom TNI di Jakarta, status hukum pihak terperiksa diumumkan dalam 1x24 jam....

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

by Sandy Romualdus
12 Oktober 2026 - 11:39

Pakar hukum merumuskan enam pagar pelindung RUU Perampasan Aset guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan aparat dalam skema sita tanpa pidana (NCBAF)....

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

by Sandy Romualdus
4 Oktober 2026 - 14:49

KRQA-SQC menggelar audit surveilans ISO 37001:2025 di Bandara Adi Soemarmo Solo guna memastikan penerapan prinsip anti penyuapan 4 No's. Stabilitas.id...

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

by Sandy Romualdus
30 September 2026 - 14:42

PT Ships Crew Indo Inc. menjalani audit ISO 9001:2015 dan MLC 2006 usai menyalurkan lebih dari 700 pelaut Indonesia ke...

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

by Sandy Romualdus
25 September 2026 - 15:29

Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah menegaskan prinsip human-in-the-loop dan tata kelola AI perbankan berbasis risiko pada Seminar LPPI #109....

Preseden Buruk Iklim Investasi: Aset Rp200 Miliar Diobral Rp16 Miliar Lewat Celah Hukum Kepailitan

Preseden Buruk Iklim Investasi: Aset Rp200 Miliar Diobral Rp16 Miliar Lewat Celah Hukum Kepailitan

by Sandy Romualdus
24 September 2026 - 20:59

Tim hukum PT Kedap Sayaaq membongkar dugaan mafia legal formal di PN Niaga Surabaya. Tiga oknum hakim dilaporkan terkait obral...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Ada Bank ‘Main’ Bitcoin

Ada Bank 'Main' Bitcoin

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance