JAKARTA, Stabilitas.id – Jika dibandingan peers, kenaikan inflasi Indonesia masih moderat, dikarenakan penanganan inflasi di Indonesia dilakukan dengan dua metode yakni konvensional dan non konvensional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN Kita yang diselenggarakan secara daring, pada Kamis (24/11/22).
“Konvensional adalah menggunakan instrumen moneter yaitu Bank Indonesia mulai menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, yang non konvensional Indonesia melakukan aktivasi dari Tim Penanganan Inflasi Nasional dan Daerah,” ungkap Menkeu.
Menkeu menerangkan, jika dilihat dari sisi volatile food bisa diturunkan secara cukup impresif semenjak pertengahan tahun ke level 7,2%. Sementara itu dari sisi administered price menunjukkan peningkatan dengan kebijakan Pemerintah untuk menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite dan Solar.
Di sisi lain, Menkeu mengatakan, dari faktor konsumen masih sangat kuat terlihat dari agregat demand yang meningkat cukup bertahan dan menjadi fokus dari Bank Indonesia untuk menetapkan kebijakannya.
“Jadi overall Indonesia dengan 5,7%, inflasi kita masih dalam tahap yang relatif moderat. Bahkan tadi negara-negara emerging yang lain maupun negara-negara G20 advance country yang sekarang surprisingly ada di level inflasi yang luar biasa tinggi double digit semua, kecuali Amerika yang sudah mulai menunjukkan penurunan inflasi 7,7%,” pungkas Menkeu.***





.jpg)










