Stabilitas.id – Dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan, investor perlu memahami strategi alokasi aset secara tepat. Mengutip Edutips dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), terdapat dua pendekatan utama dalam menyusun portofolio investasi, yakni Strategic Asset Allocation (SAA) dan Tactical Asset Allocation (TAA).
Kedua strategi ini berfokus pada pengaturan proporsi tiga kelas aset utama, yaitu Kas (Pasar Uang), Obligasi (Surat Utang), dan Saham. Pemahaman terhadap perbedaan dan fungsi masing-masing strategi menjadi kunci agar portofolio investasi tetap “sehat” serta mampu bertumbuh optimal dalam jangka panjang.
Portofolio Investasi Ibarat Piring Makan Sehat
Edutips BCA mengibaratkan portofolio investasi seperti piring makan sehat yang terdiri dari tiga nutrisi utama: karbohidrat, serat, dan protein.
Kas dianalogikan sebagai karbohidrat, yakni sumber energi yang siap digunakan. Kas bersifat sangat likuid dan cocok untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek. Namun, jika terlalu dominan, pertumbuhan portofolio menjadi kurang optimal karena imbal hasil kas umumnya hanya sedikit di atas inflasi.
Sementara itu, Obligasi berperan sebagai serat yang menjaga keseimbangan dan stabilitas. Obligasi memberikan kupon atau imbal hasil secara berkala sehingga mampu meredam gejolak portofolio ketika pasar saham berfluktuasi. Karakternya yang defensif menjadikannya penting sebagai penyangga risiko.
Adapun Saham diibaratkan sebagai protein, yang berfungsi mendorong pertumbuhan aset jangka panjang melalui potensi capital gain. Meski menawarkan imbal hasil lebih tinggi, porsi saham yang terlalu besar tanpa diimbangi aset lain dapat meningkatkan risiko dan volatilitas portofolio.
SAA: Pedoman Gizi Jangka Panjang
Strategic Asset Allocation (SAA) merupakan strategi jangka panjang yang dapat disamakan dengan pedoman gizi seimbang. Dalam SAA, investor menentukan komposisi ideal aset sejak awal berdasarkan tujuan keuangan dan profil risiko, lalu menjaganya secara konsisten selama periode 5–10 tahun.
Sebagai contoh, investor agresif dapat menetapkan alokasi 60% saham, 30% obligasi, dan 10% kas. Ketika pergerakan pasar membuat porsi saham meningkat signifikan, investor perlu melakukan rebalancing agar komposisi kembali ke rencana awal demi menjaga kesehatan portofolio.
TAA: Penyesuaian Menu Sesuai Kondisi Pasar
Berbeda dengan SAA, Tactical Asset Allocation (TAA) bersifat lebih fleksibel dan jangka pendek. TAA memungkinkan investor melakukan penyesuaian sementara terhadap komposisi aset untuk merespons peluang maupun risiko pasar.
Misalnya, ketika investor memperkirakan kondisi ekonomi akan melemah, porsi saham dapat dikurangi sementara dan dialihkan ke obligasi atau kas. Penyesuaian ini biasanya berlaku dalam periode terbatas, seperti 3 hingga 12 bulan, tergantung hasil analisis pasar.
Panduan untuk Investor Pemula
Edutips BCA menekankan bahwa investor pemula sebaiknya menyusun SAA terlebih dahulu sebelum menerapkan strategi TAA yang lebih kompleks. Membangun portofolio dengan komposisi kas, obligasi, dan saham yang seimbang menjadi fondasi utama dalam perjalanan investasi jangka panjang.
Untuk membantu perencanaan, investor juga dapat memanfaatkan fitur Investment Goals pada aplikasi myBCA. Fitur ini memberikan panduan alokasi produk investasi sesuai tujuan, nominal dana, dan jangka waktu yang diinginkan.
Selain itu, BCA secara rutin menerbitkan BCA House View, publikasi bulanan yang membahas perkembangan ekonomi serta pandangan BCA terhadap tiga kelas aset utama. Informasi ini dapat menjadi referensi tambahan bagi investor dalam meracik strategi investasinya.
Dengan pemahaman yang tepat dan disiplin menjaga keseimbangan portofolio, investor diharapkan mampu membangun fondasi finansial yang kuat untuk masa depan. Selamat meracik portofolio investasimu. ***





.jpg)










