Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai positif keputusan pemerintah memperpanjang penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini diyakini bakal mengakhiri tren perang suku bunga khusus (special rate) dan mendorong efisiensi biaya dana perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa tambahan likuiditas yang masif akan menurunkan tensi persaingan penghimpunan dana. Dengan kondisi ini, perbankan memiliki ruang lebih luas untuk menurunkan suku bunga kredit secara agregat.
“Likuiditas meningkat dan akan drag down tingkat suku bunga. Bank tidak perlu lagi negosiasi dengan special rate. Sekarang rata-rata biaya pendanaan sudah mulai turun,” ujar Dian saat ditemui di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
BERITA TERKAIT
Dian menekankan bahwa tujuan akhir dari penurunan biaya dana ini adalah untuk mendongkrak sektor UMKM. Jika bunga kredit menjadi lebih terjangkau, diharapkan ekspansi pembiayaan ke sektor produktif tersebut dapat meningkat signifikan sepanjang tahun ini.
Meski demikian, Dian memberikan catatan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait tenor penempatan dana. Menurutnya, jangka waktu enam bulan dinilai terlalu singkat untuk mendorong pembiayaan proyek-proyek strategis secara optimal.
“Idealnya kebijakan ini berlaku lebih panjang, bisa 1 tahun, 3 tahun, bahkan 5 tahun, tergantung pada profil proyek yang dibiayai,” tambahnya.
Target Ekspansi Kredit Dua Digit
OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional akan kembali bergairah di kisaran 10%—12% pada tahun 2026. Dian mengakui sempat terjadi perlambatan pertumbuhan kredit dalam enam bulan terakhir, namun hal itu disebabkan oleh aksi perbankan yang fokus melakukan pembersihan neraca dari kredit bermasalah (NPL).
“Setelah proses pembersihan buku selesai, biasanya akan terjadi bounce back. Perbankan akan kembali melakukan lompatan ekspansi kredit,” tutur Dian optimis.
OJK berharap manajemen perbankan dapat menetapkan target pertumbuhan yang lebih agresif, sejalan dengan membaiknya profil risiko dan dukungan likuiditas yang kuat dari sisi fiskal maupun moneter. ***
















