• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Keuangan

Peluang di Tengah Tantangan

oleh Sandy Romualdus
14 November 2011 - 00:00
9
Dilihat
Peluang di Tengah Tantangan
0
Bagikan
9
Dilihat

Penetrasi asuransi yang masih minim di tengah besarnya potensi pasar merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri asuransi. Beberapa perusahaan asuransi mulai melebarkan sayap dengan membuka asuransi umum yang sebelumnya tidak dimilikinya.

 

Oleh: Romualdus San Udika

BERITA TERKAIT

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

 

Dahulu dikisahkan, ada seorang sales sepatu pabrikan ternama yang ditempatkan di salah satu negara di Afrika. Teman-teman dan kolega mencemoohnya dan mengatakan kariernya akan hancur mengingat banyak penduduk di negara itu yang biasa tidak bersepatu. Namun dia menolak semua cemoohan itu. Menurut dia, masih banyaknya penduduk yang tidak bersepatu di Afrika justru menjadi peluang dirinya untuk menjual sepatu lebih banyak.

Kisah inspiratif itu membuka tabir mengenai tipisnya perbedaan antara peluang dan hambatan. Bisa jadi yang dikatakan orang sebagai sebuah halangan dalam berbisnis justru sejatinya adalah peluang besar.

Kondisi yang mirip dengan bisnis sepatu di Afrika, terpampang jelas pada bisnis asuransi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 237,56 juta jiwa, jumlah polis asuransi yang beradar hanya 16,75 juta. Berarti, perbandingan polis asuransi per populasi cuma 0,07. Fakta itu cukup kontras jika membandingkannya dengan dua negara jiran Malaysia dan Singapura yang angkanya masing-masing sudah mencapai 0,44 dan 2,31.

Dengan memperhitungkan pertumbuhan industri selama satu dekade terakhir pun angka pemegang polis itu di Indonesia masih terbilang minim, apalagi jika dikaitkan dengan jumlah premi asuransi. Pada 2005, misalnya,

premi asuransi jiwa mencapai Rp 22,29 triliun, tapi pemegang polis individu hanya 5,12 juta. Tahun silam, ketika premi asuransi jiwa mencapai Rp 74,64 triliun, pemegang polis individu cuma 8,88 juta. Artinya peningkatan premi yang nyaris empat kali lipat hanya diikuti oleh pertambahan polis tak sampai dua kali lipatnya.

Sementara itu, jika melihat pertumbuhan bisnis, industri asuransi sebenarnya sangat prospektif. Tahun lalu saja, aset asuransi jiwa, umum, dan reasuransi mencapai Rp229,20 triliun, naik 26 persen dibanding tahun sebelumnya Rp 181,80 triliun. Adapun pendapatan premi meningkat 20,2 persen menjadi Rp 104,27 triliun. Hasil investasi juga tumbuh 9,29 persen menjadi Rp 25,11 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 22,29 persen menjadi Rp 8,89 triliun.

Tetapi memang, sekali lagi, pencapaian kinerja industri asuransi belum seberapa dibandingkan produk domestik bruto (PDB) negeri ini. Kontribusi sektor asuransi terhadap PDB baru sekitar 1,9 persen. Perbandingan jumlah premi per kapita (insurance density) di Indonesia juga masih rendah. Setiap penduduk Indonesia rata-rata hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 448 ribu untuk membayar premi asuransi.

Besarnya potensi yang dibarengi oleh kinerja yang belum optimal inilah yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk memandang kondisi itu dengan cara berbeda. Misalnya PT Avrist Assurance (Avrist). Perusahaan yang selama ini bergelut di asuransi jiwa, akhir September 2011 lalu menghadirkan asuransi umum dengan nama PT Avrist General Insurance. Ekspansi itu dilakukan demi menggarap peluang besar pasar asuransi yang ada di dalam negeri. “Avrist general Insurance didirikan untuk mewujudkan satu polis Avrist dalam setiap rumah tangga di Indonesia,” ujar Vice President Director Avrist, Adi Purnomo Wijaya.

Bahkan, menegaskan hingga akhir 2011, Avrist General Insurance menargetkan perolehan premi Rp2 miliar dan pada tahun 2012 membidik target premi Rp 20 miliar. Sebagai tahap awal, perusahaan yang tadinya bernama asuransi AIA fokus mengembangkan pasar asuransi sektor retail dan SME (Small Medium Enterprise). Untuk itu, perusahan asuransi yang juga dimiliki oleh investor Jerman ini akan mengoptimalkan saluran distribusi pemasaran melalui agensi, broker dan mitra strategis lainnya. seperti perbankan dan lembaga keuangan non bank lainnya.

Langkah yang sama juga dilakukan oleh PT Axa Mandiri. Ke depan, perusahaan patungan antara PT Bank Mandiri Tbk dengan AXA Financial tersebut juga akan menghadirkan layanan asuransi umum dengan membidik pasar yang selama ini telah menjadi bagian dari layanan Bank Mandiri seperti nasabah KPR dan multifinance Bank Mandiri.

Asuransi Jepang

Tak hanya pemain lokal yang berminat memperluas pasar asuransi umum, beberapa perusahaan asuransi umum Jepang juga mengincar pangsa pasar bisnis proteksi asuransi umum di Indonesia. Salah satunya adalah The Non-Life Insurance Institute of Japan. Sebagaimana dikatakan oleh Presiden Director Fudej I Hama, pangsa pasar industri asuransi di Indonesia masih sangat besar jika dibandingkan dengan Jepang, sebaliknya, penetrasi asuransi justru masih kecil.

Hal itu berbeda dengan situasi di Jepang di mana pertumbuhan industri asuransi cenderung stagnan dengan angka penterasi yang tinggi. “Jumlah penduduk Indonesia sangat banyak. Selain itu, meskipun penetrasi bisnis asuransi masih kecil, akan tetapi trennya naik. Ini adalah pangsa pasar yang menarik,” ujar dia.

Saat ini grafik pertumbuhan premi perusahaan asuransi di Jepang cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terutama terlihat jelas sejak deregulasi pada 1996. Sebelum deregulasi pada 1996, pertumbuhan premi perusahaan asuransi justru menunjukkan grafik meningkat.

Oleh karena itu, potensi bisnis yang besar di Indonesialah yang mendorong perusahaan asuransi Jepang untuk mengembangkan pangsa pasar. Apalagi dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan pendapatan domestik bruto yang tinggi, Indonesia menjadi pasar yang menarik dan atraktif, kata Fudej I Hama.

Sementara Yasushi Kuriyama, Direktur Pelaksana Asosiasi Asuransi Umum Jepang (The General Insurance Association of Japan), mengatakan perusahaan asuransi Jepang tidak akan masuk ke dalam pasar Indonesia sebagai perusahaan mandiri.

Dia mengatakan perusahaan asuransi Jepang masuk melalui skema merger atau joint venture. Dia menyebutkan sebanyak lima besar perusahaan asuransi umum di Jepang yang telah masuk ke pasar di dalam negeri antara lain Tokio Merine, Nipponkoa, Sompo Japan, Mitsui Sumitomo Metlife, dan Aioi Life.

Mitsutaka Sato, Presiden Direktur PT Asuransi Tokio Marine Indonesia, mengatakan pihaknya akan mengembangkan bisnis dengan meningkatkan kontribusi dari segmen pasar nasabah lokal (penduduk Indonesia). Segmen pasar nasabah lokal saat ini memberikan kontribusi sebesar 50 persen terhadap keseluruhan perolehan premi bruto (gross written premi/GWP). Angka tersebut hampir sama dengan kontribusi yang berasal dari nasabah asal Jepang yang tinggal di Indonesia.

Mitsutaka menambahkan, dalam lima tahun ke depan pihaknya akan meningkatkan porsi nasabah lokal menjadi 60 persen, sementara 40 persen sisanya adalah dari nasabah Jepang. Hingga Agustus 2011, Tokio Marine Indonesia mencatatkan perolehan GWP sebesar 30 juta dollar AS, atau 40 persen dari target tahun ini sebesar 75 juta dollar AS.

Tentu saja dengan semakin tingginya minat asing untuk masuk ke pasar dalam negeri, persoalan rivalitas tidak bisa dihindari. Apalagi setelah dibolehkan memiliki saham lebih dari 80 persen di sektor asuransi, perusahaan asing yang kaya modal dan teknologi, punya jaringan luas dan SDM berkualitas, bakal mendominasi industri asuransi nasional. Bahkan, sekitar 80 persen premi asuransi jiwa telah dikuasai perusahaan asing dan patungan.

Untuk itu, diharapkan berbagai persoalan yang dihadapi industri asuransi nasional dapat segera diselesaikan, satu per satu, tuntas, tanpa mencederai hakikat bisnis asuransi itu sendiri. Para pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan pelaku bisnis asuransi, harus memiliki visi yang sama bahwa industri asuransi adalah aset nasional yang harus dirawat, dijaga, dan didorong agar memberikan akselerasi yang optimal bagi perekonomian di dalam negeri, mengingat kontribusi sektor asuransi terhadap PDB masih sangat minim, baru sekitar 1,9 persen. SP

 

 
 
 
 
Sebelumnya

Spirit Sejati Social Entrepreneur

Selanjutnya

Mantra Penjinak “Hantu” Pelabuhan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Gandeng UNEJ dan AAJI, OJK Luncurkan Beasiswa Riset Asuransi Jiwa di Jember

Gandeng UNEJ dan AAJI, OJK Luncurkan Beasiswa Riset Asuransi Jiwa di Jember

oleh Stella Gracia
15 Februari 2026 - 09:17

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memacu tingkat literasi dan inklusi keuangan di sektor perasuransian, dengan membidik generasi muda...

Riset HSBC: Baru 30 Persen Orang Indonesia Sadar Investasi

Menuju 2050, Sun Life Ingatkan Risiko Ledakan Populasi Lansia Tanpa Kesiapan Finansial

oleh Stella Gracia
13 Februari 2026 - 07:14

Stabilitas.id — Indonesia menghadapi ancaman kesenjangan kesiapan pensiun (retirement divide) yang kian lebar seiring dengan perubahan demografi. Riset terbaru Sun Life...

OJK Perketat Seleksi Bos Multifinance & Modal Ventura, Ini Alasannya

OJK Perketat Seleksi Bos Multifinance & Modal Ventura, Ini Alasannya

oleh Stella Gracia
10 Februari 2026 - 07:04

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan industri Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya...

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

oleh Stella Gracia
8 Februari 2026 - 18:24

Stabilitas.id — PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) bersama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dengan dukungan MUFG Bank,...

Profitabilitas TUGU Tetap Solid hingga Akhir 2025

Profitabilitas TUGU Tetap Solid hingga Akhir 2025

oleh Sandy Romualdus
6 Februari 2026 - 21:55

Stabilitas.id — Analis pasar modal menilai kinerja PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) tetap solid hingga akhir 2025, ditopang...

AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS

AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS

oleh Stella Gracia
4 Februari 2026 - 09:38

Stabilitas.id - PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) meluncurkan Asuransi Mandiri Wealth Signature USD sebagai produk terbarunya di awal...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Ketika Risiko Harus Dikelola

Ketika Risiko Harus Dikelola

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance