Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dengan rata-rata growth di atas 5 persen per tahun, mengindikasikan tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia telah mengalami kenaikan atau kemajuan dari waktu ke waktu. Indikasi ini terlihat dari kenaikan angka Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan. Jika pada pada tahun 2000 PDB per kapita Indonesia berjumlah Rp6,72 juta maka pada tahun 2012 angka ini telah melesat menjadi Rp33,34 juta.
Di sisi lain, meningkatnya kesejahteraan masyarakat bisa juga diartikan permintaan terhadap produk dan jasa keuangan akan mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah maupun keragamannya. Asumsi ini tidak lepas dari teori bahwa ada kontribusi sektor jasa keuangan di balik kenaikan PDB per kapita masyarakat. Saat ini, peran intermediasi sektor jasa keuangan, misalnya pangsa kredit perbankan, tercatat berkontribusi terhadap 35 persen PDB Indonesia.
Tentu saja, diharapkan peran sektor jasa keuangan tersebut akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi
nasional, yang berarti kesejahteraan masyarakat, juga akan kian membaik di masa depan. Akan tetapi keinginan ini hanya mungkin tercapai jika tingkat
literasi keuangan masyarakat kita berkategori baik.
BERITA TERKAIT
Secara sederhana, istilah tingkat literasi keuangan merujuk pada kemampuan seseorang untuk dapat memahami dan mengevaluasi informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan dengan memahami konsekuensi finansial yang ditimbulkan.
Bagaimana tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia? Jawaban inilah yang ingin diketahui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat survei yang dilakukan pada semester pertama tahun lalu. Patut dicatat, survei literasi keuangan skala nasional, dilakukan di 20 propinsi, merupakan yang pertama dibuat di Indonesia. Adapun responden yang digunakan sebagai sampel berjumlah 8.000 orang, di mana pemilihan responden dilakukan dengan metode stratified random sampling.
Tujuan survei itu sendiri ada empat, yaitu untuk memetakan tingkat literasi keuangan terkini masyarakat di Indonesia, sebagai bahan cetak biru strategi nasional literasi keuangan Indonesia, mengukur efektivitas program edukasi keuangan kepada masyarakat, dan mendorong lembaga jasa keuangan untuk mengembangkan produk dan jasa keuangan yang dibutuhkan masyarakat.
Khusus untuk tingkat literasi keuangan masyarakat, hasil survei diharapkan memberikan gambaran menyeluruh mengenai tingkat pemahaman dan penggunaan jasa dan produk keuangan di masyarakat yang dapat dilihat dari Indeks Literasi Keuangan dan Indeks Utilitas Produk dan Jasa Keuangan.
Indeks Literasi Keuangan adalah parameter atau indikator yang menunjukan tingkat pengetahuan, keterampilan dan keyakinan masyarakat terkait lembaga keuangan serta produk dan jasanya. Selain itu, Indeks Literasi Keuangan juga memberikan informasi mengenai tingkat pengetahuan masyarakat terhadap fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban mereka sebagai pengguna produk dan jasa keuangan.
Dalam survei itu OJK mengklasifikasikan Indeks Literasi Keuangan masyarakat yang di survei dalam empat tingkatan. Pertama, Well Literate, yaitu masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
Kedua, Sufficient Literate, yaitu masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.
Ketiga, Less Literate, yaitu masyarakat yang hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan.
Keempat, Not Literate, yaitu masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
Sementara Indeks Utilitas Produk dan Jasa Keuangan adalah parameter atau indikator untuk mengukur seberapa banyak masyarakat Indonesia memanfaatkan produk dan jasa keuangan.
Literasi Masih Rendah
Dari Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilakukan pada 8.000 responden itu, diketahui bahwa hanya 21,84 persen penduduk Indonesia yang tergolong well literate. Hal ini berarti 22 orang dari 100 orang yang disurvei memiliki pengetahuan yang baik tentang lembaga keuangan serta produk dan jasanya.
Termasuk juga manfaat, risiko serta hak dan kewajibannya. Sementara sisanya sufficient literate (75,69 persen), less literate (2,06 persen), dan not literate (0,41 persen).
Indeks Literasi Keuangan Sektor Jasa Keuangan
Adapun hasil survei terhadap Indeks Utilitas Produk dan Jasa Keuangan di Indonesia adalah 59,74 persen. Dengan kata lain, sebanyak 40,26 persen masyarakat di Tanah Air belum menggunkan produk dan jasa keuangan. Selain itu, hasil survei nasional itu juga menunjukkan bahwa tingkat Utilitas Produk dan Jasa Keuangan masyarakat tidak merata di setiap sektor jasa keuangan.
Survei ini juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula Indeks Literasi orang tersebut. Pada tabel terlihat bahwa orang yang tidak sekolah memiliki Indeks Literasi Keuangan yang paling rendah, yaitu 16,3 persen, dibandingkan dengan orang yang memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi memiliki Indeks Literasi Keuanganyang paling tinggi, yaitu 56,4 persen.
Indeks Literasi Keuangan berdasarkan Tingkat Pendidikan
Selain itu, hasil survei menunjukan bahwa semakin tinggi strata sosial masyarakat maka semakin tinggi pula tingkat literasinya. Dalam survei kelas strata sosial masyarakat dibagi dalam lima kelompok menurut penghasilanya, yaitu Kelas A (>Rp1.750.000), Kelas B (>Rp1.250.000-1.750.000), Kelas C (>Rp600.000-1.250.000), Kelas D (>Rp400.000-600.000), dan Kelas E (<Rp400.000)
Pada tabel terlihat bahwa masyarakat dengan strata sosial di kelompok A memiliki Indeks Literasi Keuangan yang paling tinggi, yaitu 51,6 persen. Sementara masyarakat di kategori kelompok sosial strata terendah atau kategori E hanya memiliki indeks literasi keuangan 28,4 persen.
Kondisi di atas merupakan salah satu tantangan pemerintah bagaimana menaikkan tingkat literasi keuangan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah maupun mereka yang memiliki tingkat strata sosial rendah.
Indeks Literasi Keuangan berdasarkan Strata Sosial
Namun hasil survei berbeda terlihat jika Indeks Literasi Keuangan masyarakat diukur berdasarkan kelompok usia. Pada tabel terlihat bahwa pada semua kelompok usia yang disurvei memiliki tingkat literasi yang hampir sama, yaitu dikisaran 30-an persen. Dengan kata lain, ternyata tingkatan umur relatif tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap indeks literasi keuangan masyarakat.
Indeks Literasi Keuangan berdasarkan Kelompok Usia
Di pihak lain, hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pengenalan masyarakat Indonesia terhadap lembaga jasa keuangan bervariasi. Selain itu, tingkat pengenalan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan juga selaras dengan penggunaan jenis produk dan jasa keuangan sebagaimana ditunjukkan oleh hasil survei. Dari berbagai jenis produk dan jasa keuangan yang disediakan oleh lembaga jasa keuangan ternyata tabungan merupakan produk keuangan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, selaras dengan tingkat pengenalan masyarakat terhadap lembaga perbankan.
Indeks Literasi Lembaga Jasa Keuangan
Produk perasuransian dengan berbagai jenisnya ternyata juga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Padahal produk-produk perasuransian merupakan instrumen keuangan yang sangat penting untuk memberikan proteksi kepada seseorang, keluarga dan/atau harta benda dari berbagai kemungkinan risiko di masa yang akan datang.
Produk dan jasa dari lembaga pembiayaan dan pergadaian juga relatif belum terlalu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, walaupun kedua sektor jasa keuangan dimaksud sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas dan hadir di pelosok nusantara. Begitu pula halnya dengan dana pensiun, walaupun untuk memenuhi kebutuhan hidup saat memasuki masa pensiun memerlukan persiapan sejak dini, masyarakat yang menggunakan produk dan jasa dana pensiun masih sangat sedikit.
Indeks Utilitas Produk Jasa Keuangan
Di samping itu, produk-produk pasar modal juga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena masih adanya persepsi produk pasar modal memiliki risiko yang tinggi dan relatif belum terjangkau, baik dari sisi harga maupun ketersediaannya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan demikian, peluang untuk meningkatkan jumlah pengguna produk dan jasa pasar modal masih terbuka lebar, mengingat potensi jumlah kelas menengah di Indonesia juga semakin meningkat.
Literasi Per Industri
Apabila kita telisik lebih dalam Indeks Literasi keuangan masyarakat per sektor industri maka terlihat industri perbankan jadi yang paling menonjol, sementara industri pasar modal menjadi yang terendah. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi Keuangan, Indeks Literasi masyarakat Indonesia yang tergolong well literate terhadap industri Perbankan menunjukkan angka 21,80 persen. Hal ini berarti bahwa dari setiap 100 penduduk Indonesia terdapat 22 orang yang memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga perbankan, produk dan jasa perbankan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa perbankan.
Indeks Literasi Perbankan
Jika membandingkan Indeks Literasi dengan Indeks Utilitas Produk dan Jasa Perbankan, terdapat fenomena yang menarik dari hasil survei ini, yaitu kenyataan bahwa Indeks Utilitas Produk dan Jasa Perbankan oleh masyarakat telah mencapai 57,28 persen, yang berarti dari setiap 100 penduduk, terdapat 57 orang yang memanfaatkan produk dan jasa perbankan. Hasil survei ini juga memperlihatkan fakta bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memanfaatkan produk dan jasa perbankan tanpa disertai dengan pemahaman yang memadai.
Di pihak lain, Indeks Literasi Perasuransian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang well literate terhadap industri perasuransian relatif masih sedikit, yaitu 17,84 persen. Hal ini berarti dari setiap 100 orang penduduk Indonesia, hanya terdapat 18 orang yang memahami tentang asuransi.
Indeks Literasi Perasuransian
Rendahnya Indeks Literasi Perasuransian menyebabkan masih kurangnya pemanfaatan produk dan jasa perasuransian oleh masyarakat yang saat ini hanya mencapai 11,81 persen. Hal ini berarti dari setiap 100 penduduk Indonesia, hanya terdapat 12 orang yang memanfaatkan produk dan jasa asuransi.
Sementara hasil survei literasi Keuangan masyarakat untuk industri pembiayaan menunjukkan masyarakat belum begitu mengenal industri pembiayaan yaitu sebesar 72,10 persen. Sedangkan yang tergolong well literate jumlahnya hanya mencapai 9,80 persen, yang berarti dari setiap 100 penduduk terdapat 10 orang yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga pembiayaan, dan produk dan jasa pembiayaan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa pembiayaan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa pembiayaan.
Indeks Literasi Pembiayaan
Konsekuensi dari Indeks Literasi yang masih rendah tersebut adalah Indeks Utilitasi atau pemanfaatan produk dan jasa pembiayaan oleh masyarakat juga relatif kecil dan hal ini dapat dilihat dari Indeks Utilitas Produk dan Jasa Pembiayaan yang besarnya hanya 6,33 persen.
Hal yang relatif mirip terlihat pada indeks literasi dana pensiun. Industri ini nampaknya belum sepenuhnya dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Fakta ini dapat dilihat dari hasil Survei Nasional Literasi Keuangan Indonesia yang menunjukan bahwa 81 orang dari setiap 100 penduduk tidak mengenal dana pensiun (81,03 persen). Hanya sebagian kecil saja yaitu 7,13 persen dari masyarakat Indonesia yang mengenal dana pensiun dengan baik (well literate).
Indeks Literasi Dana Pensiun
Begitu pula halnya dengan Indeks Utilitas Produk dan Jasa Dana Pensiun yang menunjukan angka yang rendah, yaitu hanya 1,53 persen, yang berarti sekitar 2 orang dari setiap 100 penduduk yang menggunakan produk dan jasa pana pensiun.
Kesimpulan relatif senada juga terpampang pada industri jasa gadai. Walaupun industri ini sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, namun berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi Keuangan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang tergolong well literate hanya 14,85 persen. Hal ini berarti bahwa terdapat 15 orang yang memahami produk dan jasa pergadaian dari setiap 100 penduduk Indonesia. Dari sisi pemanfaatan produk dan jasa gadai, survei menunjukkan masih sedikit jumlah pengguna jasa gadai, yaitu hanya 5 orang yang memanfaatkan jasa gadai dari setiap 100 penduduk.
Indeks Literasi Pegadaian
Di sisi lain, meskipun pasar modal merupakan salah satu sektor jasa keuangan yang kapitalisasi pasarnya saat ini sedang tumbuh pesat, namun Survei Nasional Literasi Keuangan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang tergolong well literate tentang pasar modal masih berada di angka 3,79 persen. Adapun 93,79 persen masyarakat Indonesia masih tergolong not literate tentang pasar modal, yang berarti dari setiap 100 orang penduduk terdapat 94 orang yang tidak mengenal tentang pasar modal.
Indeks Literasi Pasar Modal
Rendahnya Indeks Literasi Pasar Modal juga diikuti dengan rendahnya Indeks Utilitas Produk dan Jasa Pasar Modal yang menunjukkan hanya 1 orang dari setiap 1.000 penduduk yang menggunakan produk dan jasa pasar modal.
Edukasi dan Sosialisasi
Kesimpulan survei memperlihatkan bahwa secara keseluruhan masyarakat Indonesia masih belum memiliki tingkat literasi keuangan yang memadai. Oleh karena itu, seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial.
Pemberian edukasi dan sosialisasi jadi kata kunci untuk meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Pemberian edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya memahami lembaga keuangan beserta produk-produk yang dihasilkannya diharapkan bisa meningkatkan jumlah masyarakat yang menggunakan lembaga keuangan. Selain itu, dengan memahami persoalan-persoalan semacam itu, masyarakat diharapkan bisa lebih rasional dalam memanfaatkan instrumen-instrumen keuangan.
Masyarakat perlu diberikan pengetahuan yang mencukupi mengenai berbagai hal yang terkait dengan masalah keuangan seperti pengenalan mengenai lembaga jasa keuangan, apa saja produk dan jasa keuangan, fitur-fitur yang melekat pada produk dan jasa keuangan, manfaat dan risiko dari produk dan jasa keuangan, serta hak dan kewajiban sebagai konsumen pengguna jasa keuangan.
Selain itu, masyarakat juga perlu diberikan kemampuan dan keterampilan minimum bagaimana caranya menghitung bunga, hasil investasi, denda dan sebagainya. Hal itu diperlukan agar masyarakat lebih memahami bahwa semua produk dan jasa keuangan bukan hanya semata-mata memberikan keuntungan tetapi juga mengandung biaya-biaya yang harus ditanggung oleh konsumen.




.jpg)










