JAKARTA, Stabilitas.id – Bersamaan dengan peringatan 30 Tahun Black Wednesday, Poundsterling Inggris mengalami penurunan lebih dari 1% menjadi $1,1351. Penurunan ini menjadi yang terendah sejak tahun 1985.
Menurut data yang dirilis Kantor Statistik Nasional, volume penjualan ritel juga mengalami penurunan 1,6% secara bulanan pada bulan Agustus. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak delapan bulan terakhir.
- Baca juga: Ekonomi Inggris Terancam Resesi
Penurunan ini dikhawatirkan akan menjadi tanda bahwa ekonomi Inggris menuju resesi.
“Data penjualan ritel yang dirilis sangat buruk. Nilai tukar sterling-dolar semakin turun dalam keadaan volatilitas pasar keuangan meningkat,” ungkap analis MUFG Derek Halpeny.
Dilansir dari The National News, selama tahun ini, Poundsterling mengalami penurunan sebanyak 16%. Hal ini terjadi karena dollar yang menguat, namun, ketidakpastian atas rencana pemerintahan baru untuk menekan tagihan energi melalui pinjaman besar juga ikut berperan.
Pinjaman tersebut dilakukan dengan dasar pemotongan pajak yang ditarik pemerintah. Strategi ini pun mendapatkan banyak dukungan dari beberapa ahli ekonomi Inggris.
Sebagai informasi, Black Wednesday merupakan peristiwa krisis Poundsterling yang terjadi pada 16 September 2022, Ketika pemerintah Inggris menarik mata uangnya dari Mekanisme Nilai Tukar Eropa (ERM).
Inggris telah berada di ERM selama dua tahun, sebelum akhirnya memilih untuk mundur.***

















