Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti domestik.
Stabilitas.id – Tiongkok mencatatkan manuver perlindungan nilai (hedging) paling agresif dalam sejarah tata kelola pasar komoditas global. Negara berekonomi terbesar kedua dunia ini sukses membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton sepanjang delapan bulan pertama 2026.
Laporan terbaru Financial Times mengungkap besaran dana yang digelontorkan otoritas dan investor Tiongkok menembus angka fantastis US$158,8 miliar. Nilai tersebut setara dengan Rp2.811 triliun jika merujuk pada kurs indikatif Rp17.700 per dolar AS pada pertengahan September 2026. Angka belanja ini bahkan telah melampaui total impor sepanjang tahun 2025 yang hanya berkisar US$96,5 miliar untuk 886 ton emas.
Lonjakan akumulasi aset safe haven ini lahir sebagai bentuk mitigasi risiko atas memanasnya eskalasi geopolitik global. Kepemilikan Tiongkok atas surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries) sengaja dipangkas ke level terendah sejak Agustus 2008 menjadi US$618 miliar pada Juli lalu.
BERITA TERKAIT
Managing Director Gold Mountains Asset Management, Lisa Liu, membedah fenomena penataan ulang portofolio berskala masif tersebut. Bank sentral dan pemodal swasta domestik kini berbondong-bondong mendiversifikasi aset menuju instrumen yang minim risiko rekanan.
“Fenomena ini bukan sekadar perdagangan jangka pendek, melainkan penataan ulang aset rumah tangga dan otoritas yang berlangsung multi-tahun,” tegas Lisa menjelaskan skala manuver Tiongkok yang kini menjadi motor utama penggerak harga emas global.
Kejatuhan ekosistem pasar properti Tiongkok sejak 2021 kian mempersempit ruang tata kelola investasi domestik. Kinerja indeks saham acuan CSI 300 terus terpuruk dengan pelemahan 1,8 persen sepanjang tahun ini. Imbal hasil obligasi pemerintah Tiongkok juga makin tertekan mendekati level rekor terendah, memaksa investor memarkir likuiditasnya pada instrumen logam mulia.
Kepala Client Solutions Asia Pasifik (ex-Jepang) Invesco, Christopher Hamilton, menyoroti pergeseran paradigma tata kelola aset global. Emas kini tampil sebagai jangkar diversifikasi krusial manakala pergerakan obligasi pemerintah tak lagi berlawanan arah dengan pasar saham. Perilaku harga emas modern terbukti tak lagi mengekor pola lama yang biasanya melemah saat imbal hasil riil mengalami kenaikan.
Analis Goldman Sachs justru menangkap adanya anomali pelaporan transparansi tata kelola cadangan devisa oleh bank sentral Tiongkok (PBoC). Catatan riset awal bulan ini memproyeksikan PBoC meraup 35 ton emas pada Juli lalu, jauh lebih masif dari laporan resmi yang hanya mencantumkan angka 20 ton. Akumulasi agresif institusional ini mempertegas ketakutan global, yang turut mendorong negara-negara Barat memindahkan cadangan emasnya kembali ke yurisdiksi yang lebih aman. ***
Editor : Sandy Romualdus
















