Industri asuransi selalu memperlihatkan prospek bagus dari tahun ke tahun. Tahun depan, meski ada ancaman dari krisis di Eropa dan AmerikaSerikat, bisnis proteksi di Indonesia tetap akan tumbuh.
Oleh: Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir tidak lantas mengangkat pamor industri asuransi di Tanah Air dibanding lembaga keuangan lainnya. Bahkan asuransi jiwa yang pertumbuhan bisnisnya terus menunjukkan prestasi gemilang dalam satu dekade terakhir, belum juga mampu memberi sumbangan berarti terhadap perekonomian.
Dilihat dari sumbangannya pada produk domestik bruto (PDB), kontribusi kinerja asuransi di Indonesia baru sekitar 1,9 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia yang sudah menunjukkan tingkat penetrasi asuransi lebih 3 persen. Begitu pula dengan Singapura yang tingkat penetrasi asuransinya sudah mencapai 5 persen, Taiwan sebesar 15 persen, dan Hongkong 10 persen.
Namun demikian, penetrasi yang masih rendah tersebut dinilai bisa menjadi peluang besar bagi tumbuhnya industri asuransi di Indonesia. Artinya, peluang pertumbuhan industri asuransi nasional masih terbuka lebar, terutama dari asuransi jiwa.
Tahun lalu saja, industri asuransi jiwa mampu mencetak total premi mencapai Rp52 triliun. Diperkirakan total premi tahun ini juga tumbuh di kisaran yang sama, mengingat hingga triwulan ketiga tahun ini, beberapa industri asuransi mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, terutama dari premi baru.
Hanya saja, industri asuransi masih terlalu mengandalkan bisnisnya pada produk unitlink. Lihat saja, kinerja asuransi jiwa saat ini masih didominasi oleh produk yang menawarkan proteksi sekaligus investasi.
Perusahaan asuransi Prudential yang saat ini mendominasi industri unitlink dalam produk yang dijualnya, memiliki 90 persen unitlink dalam portofolio produk, baik konvensional maupun yang berbasis syariah. Manulife Indonesia, perusahaan lain yang menguasai pasar asuransi, juga didominasi oleh pertumbuhan premi unitlink hingga 60 persen, dan sisanya dari produk asuransi tradisional.
Kondisi dominannya unitlink sebenarnya telah mewarnai pertumbuhan premi seluruh industri asuransi jiwa. Hingga paruh pertama 2011 saja, unitlink tumbuh 33 persen. Untuk bisnis baru, premi unitlink mencatatkan pertumbuhan hingga 53,6 persen. Produk asuransi jiwa ini sepertinya masih akan menjadi primadona dalam beberapa tahun ke depan, mengingat permintaan pasar akan unitlink yang tetap tinggi.
Hanya saja, produk tersebut saat ini tengah diintai oleh krisis yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi pasar yang tidak menentu karena krisis global, tentunya membuat perusahaan asuransi was-was dan waspada. Jika tidak, dampak gejolak pasar modal dikhawatirkan berimbas pada investasi asuransi. Jika investasi anjlok, laba perusahaan asuransi tentu akan merosot. Peminat unitlink pun berpotensi menarik diri dari produk tersebut.
Memang, jika mencermati kinerja pasca krisis 2008, industri asuransi nasional terlihat mampu melewati masa itu dengan tetap mencatat kinerja positif.
Akibatnya, banyak kalangan meyakini bahwa dampak krisis global terhadap iklim perasuransian di Indonesia hanya sedikit. Maka dari itu, para pelaku industri asuransi dan regulator pun menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika akhirnya krisis meluas.
Salah satunya adalah dorongan regulator dan pelaku industri asuransi agar premi unitlink diarahkan ke regular premium. Mengingat dari pengalaman krisis yang lalu, nasabah yang membayar premi sekaligus di muka (single premium) cenderung panik jika dibandingkan dengan nasabah yang membayar regular premium. Sementara ini, porsi single premium diperkirakan mencapai 30 persen dari total unitlink.
Tren Bancassurance
Terlepas dari gejolak pasar akibat krisis global yang dikhawatirkan mengganggu investasi perusahaan asuransi, ada tren lain di industri asuransi jiwa yang cukup menyumbang pertumbuhan bisnis. Tren tersebut yakni maraknya perkembangan alternatif saluran distribusi bancassurance.
Hingga kini perusahaan asuransi terlihat semakin agresif merangkul bank sebagai partnernya. Itu wajar saja sebab selain bisa memanfaatkan database nasabah milik bank, biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi pun rupanya lebih efisien.
Sebagai catatan, dalam kurun waktu satu tahun ini kinerja bancassurance mencatat peningkatan signifikan, di mana pada kuartal kedua 2010, peran bancasurance sebesar 25 persen kemudian meningkat menjadi 30 persen dalam periode yang sama pada tahun ini.
Peningkatan peran bancassurance pun terus meningkat sebagaimana dicatat Prudential Indonesia, yang hingga kuartal ketiga 2011 berkontribusi terhadap total pendapatan premi sebesar Rp1,6 triliun, naik 125,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010.
Manulife Indonesia juga terdorong untuk lebih mendalami penetrasi bancassurance, dengan menggandeng Bank Danamon belum lama ini. Adapun produk yang dipasarkan meliputi asuransi jiwa tradisional dan unitlink, baik single maupun regular premi.
Bank Central Asia juga turut meramaikan bisnis bancassurance. Bank ini menggandeng PT AIA Financial untuk beragam produk asuransi yang dipasarkan di kantor cabangnya, serta kerja sama dengan PT Asuransi Cigna untuk dipasarkan melalui telemarketing BCA. Tentu saja geliat bancassurance tidak terlepas dari kebutuhan nasabah akan layanan yang lebih komprehensif.
Namun demikian, terlepas dari keunggulan yang dimiliki bancassurance, ternyata masih ada ganjalan berkembangnya produk yang dipasarkan via bank ini. Salah satu hal yang mendasar yaitu belum meleknya sebagian besar masyarakat terhadap produk bancassurance, sebagaimana belum meleknya masyarkat terhadap asuransi secara umum.
Tantangan Modal
Namun begitu, industri asuransi Tanah Air masih berkutat pada persoalan klasik yaitu penetrasi pasar. Di Indonesia belum semua penduduk memiliki polis asuransi, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang setiap warganya memiliki 3-4 polis asuransi.
Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap asuransi tentu saja mendesak industri asuransi untuk lebih berekspansi dan menghadirkan peroduk inovatif yang lebih terjangkau masyarakt luas. Namun untuk meningkatkan permintaan pasar di tengah luasnya wilayah jelas membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Sejauh ini persoalan modal masih menjadi kendala utama industri asuransi terutama beberapa pemain asuransi kerugian di kelas menengah dan kecil. Pasalnya, di tahun depan mereka harus bersiap menghadapi tahapan ketentuan pemenuhan modal miniman, yakni Rp 75 miliar. Selain itu, ada juga tantangan agar industri melakukan merger, akuisisi dan initial public offering (IPO) terkait mekanisme pemenuhan modal.
Konsolidasi ini diperkirakan akan makin mewarnai bisnis proteksi di tahun depan. Namun demikian, dengan jumlah pemain asuransi yang lebih sedikit jika konsolidasi terlaksana, akan menjadikan industri ini lebih kompetitif. Kondisi ini jelas akan mengurangi fenomena perang tarif yang sedang marak terjadi saat ini di asuransi properti tahun ini. Bahkan, jika tidak diantisipasi dengan baik, perang tarif ini bakal berlangsung hingga tahun depan.
Antisipasi perang tarif ini penting mengingat tidak memberikan keuntungan kepada nasabah. Kendati di awal terlihat menguntungkan karena tarif murah tentu akan mendongkrak nasabah. Namun dalam kondisi tertentu justru dapat menjadi bumerang atau merugikan nasabah. Sebabnya, andai terjadi klaim, perusahaan tidak mampu membayar karena kontribusi yang masuk tidak mencukupi, maka yang rugi adalah nasabah juga.
Untuk itu, penguatan modal jelas merupakan kebutuhan yang mendesak bagi perusahaan-perusahaan asuransi. Jika tidak maka prediksi pertumbuhan asuransi bisa terganjal. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia memperkirakan asset industri bisa menembus Rp500 triliun dalam tiga tahun ke depan. Tahun depan, industri asuransi jiwa diprediksi tumbuh 2 digit yakni sekitar 25 persen hingga 30 persen. SP





.jpg)










