• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Keuangan

Prospek Seksi Bisnis Proteksi

oleh Sandy Romualdus
15 Desember 2011 - 00:00
9
Dilihat
Prospek Seksi Bisnis Proteksi
0
Bagikan
9
Dilihat

Industri asuransi selalu memperlihatkan prospek bagus dari tahun ke tahun. Tahun depan, meski ada ancaman dari krisis di Eropa dan AmerikaSerikat, bisnis proteksi di Indonesia tetap akan tumbuh.

Oleh: Romualdus San Udika

 

BERITA TERKAIT

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir tidak lantas mengangkat pamor industri asuransi di Tanah Air dibanding lembaga keuangan lainnya. Bahkan asuransi jiwa yang pertumbuhan bisnisnya terus menunjukkan prestasi gemilang dalam satu dekade terakhir, belum juga mampu memberi sumbangan berarti terhadap perekonomian.

Dilihat dari sumbangannya pada produk domestik bruto (PDB), kontribusi kinerja asuransi di Indonesia baru sekitar 1,9 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia yang sudah menunjukkan tingkat penetrasi asuransi lebih 3 persen. Begitu pula dengan Singapura yang tingkat penetrasi asuransinya sudah mencapai 5 persen, Taiwan sebesar 15 persen, dan Hongkong 10 persen.

Namun demikian, penetrasi yang masih rendah tersebut dinilai bisa menjadi peluang besar bagi tumbuhnya industri asuransi di Indonesia. Artinya, peluang pertumbuhan industri asuransi nasional masih terbuka lebar, terutama dari asuransi jiwa.

Tahun lalu saja, industri asuransi jiwa mampu mencetak total premi mencapai Rp52 triliun. Diperkirakan total premi tahun ini juga tumbuh di kisaran yang sama, mengingat hingga triwulan ketiga tahun ini, beberapa industri asuransi mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, terutama dari premi baru.

Hanya saja, industri asuransi masih terlalu mengandalkan bisnisnya pada produk unitlink. Lihat saja, kinerja asuransi jiwa saat ini masih didominasi oleh produk yang menawarkan proteksi sekaligus investasi.

Perusahaan asuransi Prudential yang saat ini mendominasi industri unitlink dalam produk yang dijualnya, memiliki 90 persen unitlink dalam portofolio produk, baik konvensional maupun yang berbasis syariah. Manulife Indonesia, perusahaan lain yang menguasai pasar asuransi, juga didominasi oleh pertumbuhan premi unitlink hingga 60 persen, dan sisanya dari produk asuransi tradisional.

Kondisi dominannya unitlink sebenarnya telah mewarnai pertumbuhan premi seluruh industri asuransi jiwa. Hingga paruh pertama 2011 saja, unitlink tumbuh 33 persen. Untuk bisnis baru, premi unitlink mencatatkan pertumbuhan hingga 53,6 persen. Produk asuransi jiwa ini sepertinya masih akan menjadi primadona dalam beberapa tahun ke depan, mengingat permintaan pasar akan unitlink yang tetap tinggi.

Hanya saja, produk tersebut saat ini tengah diintai oleh krisis yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi pasar yang tidak menentu karena krisis global, tentunya membuat perusahaan asuransi was-was dan waspada. Jika tidak, dampak gejolak pasar modal dikhawatirkan berimbas pada investasi asuransi. Jika investasi anjlok, laba perusahaan asuransi tentu akan merosot. Peminat unitlink pun berpotensi menarik diri dari produk tersebut.

Memang, jika mencermati kinerja pasca krisis 2008, industri asuransi nasional terlihat mampu melewati masa itu dengan tetap mencatat kinerja positif.

Akibatnya, banyak kalangan meyakini bahwa dampak krisis global terhadap iklim perasuransian di Indonesia hanya sedikit. Maka dari itu, para pelaku industri asuransi dan regulator pun menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika akhirnya krisis meluas.

Salah satunya adalah dorongan regulator dan pelaku industri asuransi agar premi unitlink diarahkan ke regular premium. Mengingat dari pengalaman krisis yang lalu, nasabah yang membayar premi sekaligus di muka (single premium) cenderung panik jika dibandingkan dengan nasabah yang membayar regular premium. Sementara ini, porsi single premium diperkirakan mencapai 30 persen dari total unitlink.

Tren Bancassurance

Terlepas dari gejolak pasar akibat krisis global yang dikhawatirkan mengganggu investasi perusahaan asuransi, ada tren lain di industri asuransi jiwa yang cukup menyumbang pertumbuhan bisnis. Tren tersebut yakni maraknya perkembangan alternatif saluran distribusi bancassurance.

Hingga kini perusahaan asuransi terlihat semakin agresif merangkul bank sebagai partnernya. Itu wajar saja sebab selain bisa memanfaatkan database nasabah milik bank, biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi pun rupanya lebih efisien.

Sebagai catatan, dalam kurun waktu satu tahun ini kinerja bancassurance mencatat peningkatan signifikan, di mana pada kuartal kedua 2010, peran bancasurance sebesar 25 persen kemudian meningkat menjadi 30 persen dalam periode yang sama pada tahun ini.

Peningkatan peran bancassurance pun terus meningkat sebagaimana dicatat Prudential Indonesia, yang hingga kuartal ketiga 2011 berkontribusi terhadap total pendapatan premi sebesar Rp1,6 triliun, naik 125,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010.

Manulife Indonesia juga terdorong untuk lebih mendalami penetrasi bancassurance, dengan menggandeng Bank Danamon belum lama ini. Adapun produk yang dipasarkan meliputi asuransi jiwa tradisional dan unitlink, baik single maupun regular premi.

Bank Central Asia juga turut meramaikan bisnis bancassurance. Bank ini menggandeng PT AIA Financial untuk beragam produk asuransi yang dipasarkan di kantor cabangnya, serta kerja sama dengan PT Asuransi Cigna untuk dipasarkan melalui telemarketing BCA. Tentu saja geliat bancassurance tidak terlepas dari kebutuhan nasabah akan layanan yang lebih komprehensif.

Namun demikian, terlepas dari keunggulan yang dimiliki bancassurance, ternyata masih ada ganjalan berkembangnya produk yang dipasarkan via bank ini. Salah satu hal yang mendasar yaitu belum meleknya sebagian besar masyarakat terhadap produk bancassurance, sebagaimana belum meleknya masyarkat terhadap asuransi secara umum.

Tantangan Modal

Namun begitu, industri asuransi Tanah Air masih berkutat pada persoalan klasik yaitu penetrasi pasar. Di Indonesia belum semua penduduk memiliki polis asuransi, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang setiap warganya memiliki 3-4 polis asuransi.

Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap asuransi tentu saja mendesak industri asuransi untuk lebih berekspansi dan menghadirkan peroduk inovatif yang lebih terjangkau masyarakt luas. Namun untuk meningkatkan permintaan pasar di tengah luasnya wilayah jelas membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Sejauh ini persoalan modal masih menjadi kendala utama industri asuransi terutama beberapa pemain asuransi kerugian di kelas menengah dan kecil. Pasalnya, di tahun depan mereka harus bersiap menghadapi tahapan ketentuan pemenuhan modal miniman, yakni Rp 75 miliar. Selain itu, ada juga tantangan agar industri melakukan merger, akuisisi dan initial public offering (IPO) terkait mekanisme pemenuhan modal.

Konsolidasi ini diperkirakan akan makin mewarnai bisnis proteksi di tahun depan. Namun demikian, dengan jumlah pemain asuransi yang lebih sedikit jika konsolidasi terlaksana, akan menjadikan industri ini lebih kompetitif. Kondisi ini jelas akan mengurangi fenomena perang tarif yang sedang marak terjadi saat ini di asuransi properti tahun ini. Bahkan, jika tidak diantisipasi dengan baik, perang tarif ini bakal berlangsung hingga tahun depan.

Antisipasi perang tarif ini penting mengingat tidak memberikan keuntungan kepada nasabah. Kendati di awal terlihat menguntungkan karena tarif murah tentu akan mendongkrak nasabah. Namun dalam kondisi tertentu justru dapat menjadi bumerang atau merugikan nasabah. Sebabnya, andai terjadi klaim, perusahaan tidak mampu membayar karena kontribusi yang masuk tidak mencukupi, maka yang rugi adalah nasabah juga.

Untuk itu, penguatan modal jelas merupakan kebutuhan yang mendesak bagi perusahaan-perusahaan asuransi. Jika tidak maka prediksi pertumbuhan asuransi bisa terganjal. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia memperkirakan asset industri bisa menembus Rp500 triliun dalam tiga tahun ke depan. Tahun depan, industri asuransi jiwa diprediksi tumbuh 2 digit yakni sekitar 25 persen hingga 30 persen. SP

 

 
 
 
 
Sebelumnya

Meretas Persaingan di Zona Baru

Selanjutnya

Parade Mobil Listrik di 2012

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Gandeng UNEJ dan AAJI, OJK Luncurkan Beasiswa Riset Asuransi Jiwa di Jember

Gandeng UNEJ dan AAJI, OJK Luncurkan Beasiswa Riset Asuransi Jiwa di Jember

oleh Stella Gracia
15 Februari 2026 - 09:17

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memacu tingkat literasi dan inklusi keuangan di sektor perasuransian, dengan membidik generasi muda...

Riset HSBC: Baru 30 Persen Orang Indonesia Sadar Investasi

Menuju 2050, Sun Life Ingatkan Risiko Ledakan Populasi Lansia Tanpa Kesiapan Finansial

oleh Stella Gracia
13 Februari 2026 - 07:14

Stabilitas.id — Indonesia menghadapi ancaman kesenjangan kesiapan pensiun (retirement divide) yang kian lebar seiring dengan perubahan demografi. Riset terbaru Sun Life...

OJK Perketat Seleksi Bos Multifinance & Modal Ventura, Ini Alasannya

OJK Perketat Seleksi Bos Multifinance & Modal Ventura, Ini Alasannya

oleh Stella Gracia
10 Februari 2026 - 07:04

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan industri Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya...

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

Bidik Penjualan Otomotif 2026, Danamon dan Adira Finance Hadir di IIMS Jakarta

oleh Stella Gracia
8 Februari 2026 - 18:24

Stabilitas.id — PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) bersama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dengan dukungan MUFG Bank,...

Profitabilitas TUGU Tetap Solid hingga Akhir 2025

Profitabilitas TUGU Tetap Solid hingga Akhir 2025

oleh Sandy Romualdus
6 Februari 2026 - 21:55

Stabilitas.id — Analis pasar modal menilai kinerja PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) tetap solid hingga akhir 2025, ditopang...

AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS

AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS

oleh Stella Gracia
4 Februari 2026 - 09:38

Stabilitas.id - PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) meluncurkan Asuransi Mandiri Wealth Signature USD sebagai produk terbarunya di awal...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Tekan NPL, Mandiri Restrukturisasi Kredit 144,5 Juta Dollar AS

Bank Mandiri Gelar Mandiri Economic Forum

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance