Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksi bergerak bervariasi pada perdagangan hari ini (14/7). Analis mencerminkan pasar terbelah antara sentimen positif S&P Ratings dan isu hukum domestik.
Stabilitas.id – Nilai tukar rupiah di pasar spot diproyeksi memiliki peluang menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2026), setelah mengalami tekanan pada hari sebelumnya.
Sebagai catatan, pada perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,24% secara harian ke level Rp 18.109 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan serupa juga tecermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang merosot 0,34% ke angka Rp 18.131 per dolar AS.
Untuk perdagangan hari ini, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan akan dipengaruhi oleh tarik-menarik antara sentimen positif eksternal dan isu hukum domestik.
BERITA TERKAIT
Sentimen Positif: S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan rupiah berpotensi berbalik menguat hari ini. Sentimen positif ini didorong oleh langkah lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, yang tetap mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB dan jangka pendek A-2 dengan prospek stabil.
Dalam laporannya, S&P menilai penurunan metrik fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat temporer. Kondisi tersebut diperkirakan akan segera berbalik seiring dengan prospek kenaikan harga komoditas serta laju perubahan kebijakan yang lebih stabil di masa mendatang.
-
Proyeksi Kurs: Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak menguat terbatas.
-
Rentang Pergerakan: Diproyeksi berada di kisaran Rp 18.000 – Rp 18.150 per dolar AS.
Sentimen Negatif: Sorotan Kasus Hukum dan Risiko Geopolitik
Pandangan berbeda disampaikan oleh Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, rupiah justru berpotensi fluktuatif namun cenderung ditutup melemah akibat respons negatif pasar terhadap isu penegakan hukum di dalam negeri.
Pasar mencermati dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah. Ibrahim menilai, persepsi terhadap sistem hukum yang buruk dapat menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan merusak iklim investasi.
-
Dampak Target Makro: Lingkungan bisnis yang terganggu akibat kasus hukum dinilai membuat target pertumbuhan ekonomi menuju 8% menjadi sulit dicapai.
-
Faktor Eksternal: Pergerakan rupiah hari ini juga dibayangi oleh ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah.
-
Rentang Pergerakan: Ibrahim memprediksi rupiah bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp 18.100 – Rp 18.150 per dolar AS. ***

















