Harga emas spot global rebound tipis ke level US$4.128 per troi ons usai tertekan lonjakan yield obligasi AS dan ekspektasi kenaikan bunga The Fed.
Stabilitas.id — Harga emas global menguat terbatas pada perdagangan Selasa (29/9/2026), setelah terperosok ke level terendah dalam tujuh pekan terakhir. Mengutip data Bloomberg, harga emas spot naik tipis 0,32 persen ke posisi US$4.128,97 per troi ons pada pukul 12.04 WIB.
Pemulihan teknikal ini terjadi di tengah stabilnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), meski tekanan suku bunga tinggi masih membayangi pasar logam mulia.
Penguatan tipis harga emas terjadi seiring melandainya imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun di level 5,23 persen. Sehari sebelumnya, yield surat utang AS sempat melesat ke rekor tertinggi dalam 19 tahun terakhir akibat aksi jual masif obligasi.
BERITA TERKAIT
Secara kumulatif, harga emas telah merosot hampir 7 persen sepanjang September 2026. Padahal, logam mulia sempat menyentuh rekor US$4.510 per troi ons pada awal bulan. Tekanan jual meningkat setelah bank sentral AS, Federal Reserve, mengerek suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun demi meredam lonjakan inflasi.
Pasar saat ini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan The Fed pada Oktober mencapai sekitar 70 persen. Tingginya harga minyak mentah Brent di tengah eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz turut memperkuat ekspektasi inflasi, sehingga membebani aset emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
Kepala Strategi Investasi di Saxo Markets Charu Chanana menilai ruang koreksi emas masih terbuka lebar jika imbal hasil obligasi bertahan tinggi.
“Harga emas telah kehilangan area support penting di US$ 4.230. Jika imbal hasil tetap tinggi, area Juni di sekitar US$ 4.000 akan menjadi ujian psikologis dan teknikal utama berikutnya,” ujar Charu mengutip Bloomberg.
Pelaku pasar global kini menanti rilis data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS pada Rabu dan data ketenagakerjaan non-farm payrolls pada Jumat untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. ***

















