Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald Trump.
Stabilitas.id – Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Keputusan moneter ini meluncur di tengah tekanan inflasi yang masih membandel, sekaligus secara terang-terangan menentang desakan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pertemuan hari Rabu sepakat bulat untuk mengerek bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa manuver pengetatan ini sangat krusial untuk menjinakkan tekanan harga. “Faktanya jelas, inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” ujar Warsh dalam konferensi pers, Kamis (17/9/2026). Ia menyadari langkah ini cukup berat, namun harus diambil guna memastikan inflasi kembali jinak menuju target jangka panjang sebesar 2 persen. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Agustus nyatanya masih tertahan pada level 3,4 persen secara tahunan.
Pengetatan kebijakan pada September ini kemungkinan besar bukan manuver pamungkas bank sentral tahun ini. Proyeksi terbaru The Fed mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat otoritas moneter masih melihat urgensi untuk setidaknya satu kali kenaikan tambahan sebelum tutup tahun. Sebanyak 12 dari 18 pejabat sepakat membutuhkan satu kenaikan lagi, sementara empat lainnya memproyeksikan perlunya dua kali pengetatan.
BERITA TERKAIT
Otoritas moneter AS ini juga merevisi sejumlah indikator makroekonomi ke arah yang lebih tinggi. Perkiraan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dinaikkan menjadi 3,7 persen pada akhir tahun. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS juga dikerek naik menjadi 2,3 persen, mencerminkan pandangan Warsh bahwa perekonomian masih memiliki daya tahan kuat untuk menyerap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Presiden Donald Trump langsung melontarkan kritik pedas merespons langkah otoritas moneter tersebut. Sang presiden menuding komite FOMC telah mencampuradukkan kebijakan ekonomi dengan kepentingan politik menjelang pemilihan paruh waktu. Trump selama ini memang kerap menekan independensi bank sentral demi mengamankan narasi pertumbuhan ekonomi pemerintahannya, meskipun pada kesempatan ini ia tidak melontarkan hinaan personal kepada Warsh seperti yang pernah dialami pendahulunya, Jerome Powell.
Gejolak kebijakan ini merambat cepat ke pasar keuangan global. Indeks saham Wall Street kompak terperosok ke zona merah sesaat setelah pengumuman, dipicu oleh langkah investor yang buru-buru menyesuaikan ulang portofolio mereka. Tingkat imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun juga melesat menembus level 5 persen, mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap persistensi inflasi dan era suku bunga tinggi. ***
















