Bali – Setelah bank sentral memangkas suku bunga acuan menjadi 6,5 persen dan diperkirakan terus bergerak ke angka yang lebih rendah, dampaknya, suku bunga perbankan pun bakal terus turun dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang.
Maka dari itu perbankan mulai menyadari bahwa strategi menggantungkan pendapatan pada margin suku bunga bukan lagi merupakan pilihan yang seksi. Untuk itu, perbankan pun memutar otak dengan mengejar fee based income dari sektor lain.
Seperti yang akan dilakukan Bank Mandiri, yakni akan mengejar pendapatan non operasional dari sektor korporasi. "Kita juga pahami dalam kurun waktu 5-10 tahun, tren suku bunga Indonesia pasti menurun dengan persaingan, penetrasi lebih tinggi. Perbankan Indonesia harus meningkatkan sumber pendapatan lain," ungkap Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala N Mansury di Bali, Jumat (21/10).
BERITA TERKAIT
Selain itu, Bank Mandir juga akan menggenjit fee base income dari sektor corporate banking dengan pengembangan corporate transaction banking sales. Adapun produk-produknya antara lain adalah cash management, trade financing, dan lain-lain. “Di Bank Mandiri, kita usahakan bisa bangun itu. Sehingga ke depannya nasabah bukan cuma kredit saja tapi juga produk fee based income lainnya," ungkap Pahala.
Sementara itu, fee based income juga akan dikejar dari sektor ritel. Inisiatif yang selama ini dilakukan Bank Mandiri merupakan pendapatan anak perusahaan dan pengembangan electronic channel.
Untuk diketahui, total pendapatan non operasional Bank Mandiri sendiri saat ini diperkirakan 28-29 persen dari total pendapatan Bank Mandiri. "Maunya 30-35 persen dalam 2-3 tahun ke depan," tambah Pahala.
Perkembangan fee based income perbankan nasional, kata Pahala, menunjukkan rasio pertumbuhan 27 persen pertahun sejak 2006 sampai 2010. Pertumbuhan nett interest income lebih rendah, yakni 15 persen.
Rasio fee base income industri perbankan sendiri, dijelaskan Pahala, saat ini berada di kisaran 39,9 persen. Riilnya, fee based income dengan mengecualikan aturan Pernyataan Standard Akuntansi Keuagan (PSAK) 50 dan 55, rasionya berkisar 35 persen. "Negara maju itu fee base income ratio-nya 40 persen. Tapi 35 persen dilihat dari kondisi Indonesia saat ini di mana penetrasi produk-produk perbankan, loan to GDP 30 persen, ini sudah baik," kata Pahala.
Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis per Agustus 2011 juga memperlihatkan pertumbuhan pendapat non operasional yang cukup tinggi. Pada Agustus 2011, pendapatan non operasional naik 32,58 persen dari Agustus 2010 dari Rp 65,16 miliar menjadi Rp 96,65 miliar.





.jpg)










