Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai level 6.810 pada akhir tahun 2026. Pemulihan pasar saham didorong oleh rotasi ke sektor komoditas, kesehatan, telekomunikasi, dan emiten berdividen tinggi.
Stabilitas.id — PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi pulih secara bertahap menuju level 6.810 pada akhir tahun 2026 (skenario base case). Pemulihan ini didukung oleh perbaikan premi risiko (equity risk premium), stabilitas nilai tukar Rupiah, serta momentum musim dividen (dividend season) di kuartal IV/2026.
Dalam laporan 1H26 Recap and 2H26 Outlook yang dirilis Kamis (3/9/2026) menunjukkan bahwa IHSG telah terkoreksi sekitar 23,7% secara year-to-date (YTD) akibat tingginya arus modal keluar asing (net foreign outflow) yang mencapai Rp94 triliun, terutama pada saham-saham perbankan big cap.
Kendati demikian, fundamental kinerja keuangan emiten dinilai masih mencatatkan pertumbuhan positif berkat dukungan sektor komoditas dan belanja fiskal pemerintah.
BERITA TERKAIT
| Skenario | Target IHSG PDF | Pertumbuhan EPS IHSG PDF | Target IDX80 PDF | Pertumbuhan EPS IDX80 PDF |
| Bull Case |
7.470
|
+50%
|
122,1
|
+15%
|
| Base Case |
6.810
|
+46%
|
107,2
|
+11%
|
| Bear Case |
5.920
|
+39%
|
87,9
|
+7%
|
Empat Tema Utama Strategi Investasi 2H26
1. Keuntungan Struktural Sektor Komoditas & Energi.
Penguatan industri bullion nasional, hilirisasi mineral, serta tingginya harga emas, tembaga, batu bara, dan CPO memberikan daya dorong pertumbuhan laba emiten yang berlanjut hingga tahun depan.
2. Keberlanjutan Kebijakan Fiskal Pro-Rakyat
Moderasi belanja fiskal di Semester II/2026 berfokus menjaga defisit fiskal di bawah 3,0% PDB demi menjaga stabilitas Rupiah dan rating utang. Program berfokus pada pengentasan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi desa.
3. Alokasi Modal Selektif berbasis Likuiditas & Dividen.
Pasar diperkirakan akan lebih memprioritaskan saham-saham dengan yield dividen tinggi, likuiditas transaksi harian di atas US$1 juta, dan risiko kejutan penurunan laba yang paling rendah.
4. Reformasi Industri Berbasis Peran Negara
Pembentukan jaringan logistik desa (Koperasi Desa Merah Putih/KDMP), sentralisasi ekspor sumber daya alam (Danantara Sumberdaya Indonesia), dan bahan baku pakan mengubah struktur industri. Hal ini memicu rotasi preferensi dari perbankan konvensional dan FMCG ke sektor energi, ketahanan pangan, perbankan syariah, serta kesehatan.
Rekomendasi Sektor & 10 Saham Pilihan Utama (Top Picks)
Mandiri Sekuritas merekomendasikan rotasi portofolio ke sektor-sektor penopang ketahanan energi, mineral, dan kesehatan:
- Paling Disukai (Most Preferred): Tambang Emas & Tembaga, Nikel, Minyak & Gas, Kesehatan, Rokok, Telekomunikasi, dan Keuangan.
- Netral (Neutral): Teknologi/Internet, Media, Bahan Bangunan, Ritel, dan Otomotif.
- Paling Tidak Disukai (Least Preferred): Properti, Menara Telekomunikasi, serta Jalan Tol & Transportasi.
Top 10 Saham Pilihan:
- AMMN (Amman Mineral Internasional)
- ANTM (Aneka Tambang)
- ARCI (Archi Indonesia)
- INCO (Vale Indonesia)
- MEDC (Medco Energi Internasional)
- GGRM (Gudang Garam)
- AMRT (Sumber Alfaria Trijaya)
- MIKA (Mitra Keluarga Karyasehat)
- ISAT (Indosat Ooredoo Hutchison)
- BBCA (Bank Central Asia)
Potensi pemulihan indeks saham diperkirakan akan semakin menguat menjelang pengumuman evaluasi indeks MSCI pada November 2026 serta pembagian dividen interim emiten di akhir tahun.***















