BEI merilis hasil evaluasi mayor indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 yang berlaku efektif 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027.
Stabilitas.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan hasil evaluasi mayor untuk tiga indeks acuan pasar modal utama, yakni IDX30, LQ45, dan IDX80. Penyesuaian komposisi saham anggota indeks tersebut akan efektif berlaku mulai 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027 mendatang.
Langkah penyeimbangan kembali (rebalancing) berkala ini dilakukan BEI guna menjaga keterwakilan aspek likuiditas transaksi serta nilai kapitalisasi pasar dari masing-masing emiten konstituen. Perubahan susunan saham ini berpotensi memicu rotasi modal dan penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi institusional.
Pada indeks IDX30, saham PT Indosat Tbk. (ISAT) dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) resmi bergabung sebagai konstituen baru. Dalam pembobotan awal, ISAT mengantongi bobot sebesar 0,93 persen, sedangkan PTBA tercatat memiliki bobot 1,17 persen.
BERITA TERKAIT
Masuknya kedua emiten tersebut menggeser posisi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang keluar dari daftar 30 saham terlikuid tersebut.
Adapun saham perbankan berkapitalisasi jumbo, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), masih mendominasi porsi terbesar di indeks IDX30 dengan bobot masing-masing menyentuh batas maksimal 15 persen.
Sementara itu, pada indeks LQ45, saham emiten semen pelat merah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) masuk menjadi anggota baru menggantikan posisi PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA). Saham SMGR tercatat mengantongi bobot awal sebesar 0,36 persen dengan rasio saham beredar di publik (free float) sebesar 48,01 persen.
Perombakan juga terjadi pada indeks IDX80. Tiga saham berhasil menembus daftar konstituen baru, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Timah Tbk. (TINS), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM). Ketiganya menggantikan posisi emiten pengelola rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA), serta pengembang properti PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA).
Perubahan komposisi ini diperkirakan mendorong peningkatan aktivitas perdagangan dan likuiditas transaksi harian di bursa seiring aksi penyesuaian bobot aset (portfolio rebalancing) oleh para pengelola reksa dana indeks dan dana kelolaan institusi. ***

















