Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Mei 2026 mengalami kontraksi menjadi US$144,9 miliar. Posisi tersebut menyusut US$1,3 miliar dibandingkan dengan pencapaian pada akhir April 2026 yang tercatat sebesar US$146,2 miliar.
Nilai cadangan devisa pada penutupan bulan lalu tersebut sekaligus menjadi level terendah sejak Desember 2024, di mana kala itu aset cadangan devisa nasional sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di angka US$155,72 miliar.
Dalam keterangan resminya, bank sentral menjelaskan bahwa penurunan pos cadangan devisa ini utamanya dipicu oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas valuta asing (valas) untuk melakukan intervensi stabilitas nilai tukar rupiah di pasar domestik, serta pemenuhan kewajiban pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah.
“Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia,” tulis BI dalam siaran persnya, dikutip Selasa (9/6/2026).
Posisi Masih Jauh di Atas Standar Internasional
Kendati mencatatkan tren penurunan, Bank Indonesia menegaskan portofolio likuiditas valas nasional tersebut masih berada dalam perimeter yang sangat aman dan tangguh guna menopang sektor eksternal.
Posisi cadev senilai US$144,9 miliar tersebut dikalkulasikan setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,5 bulan impor jika diakumulasikan bersama pembayaran utang luar negeri pemerintah. Metrik kecukupan ini bertengger jauh di atas ambang batas standar kecukupan internasional yang umumnya dipatok minimal berkisar tiga bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tambah bank sentral.
Optimistis Terhadap Capital Inflows
Menatap prospek ke depan, BI optimistis struktur ketahanan eksternal ekonomi Indonesia akan tetap resilien terhadap guncangan pasar keuangan global. Optimisme ini dilandasi oleh masih derasnya arus modal asing masuk (capital inflows) ke pasar keuangan domestik, sejalan dengan persepsi positif para investor global terhadap fundamental ekonomi nasional.
Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) investasi aset keuangan di dalam negeri dinilai masih mempertahankan daya tarik premium yang kompetitif, sehingga mampu memitigasi risiko pembalikan modal dadakan (capital reversal) akibat gejolak geopolitik dan volatilitas suku bunga global.
Guna menjaga kesinambungan iklim makro yang kondusif, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mempererat langkah sinergi bauran kebijakan bersama pemerintah dalam mengawal stabilitas sistem keuangan dan memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. ***

















