JAKARTA, Stabilitas.id – PT Semen Gresik, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG), terus memperkuat kontribusinya terhadap pengembangan ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan perempuan berbasis lingkungan bertajuk Bumi Kartini di Desa Ngampel, Blora, Jawa Tengah. Program ini telah melibatkan 879 perempuan dan mencatatkan sejumlah capaian ekonomi dan lingkungan yang signifikan.
Diluncurkan pada 2021, Bumi Kartini—akronim dari Buah Manis Karya Wanita Tani—difokuskan pada integrasi kegiatan pertanian pekarangan, pengelolaan limbah ternak sapi menjadi pupuk organik, serta pembentukan bank sampah desa. Program ini merupakan hasil sinergi PT Semen Gresik bersama Pemerintah Desa Ngampel, BUMDes, dan PKK, dengan orientasi pada ekonomi sirkular dan penguatan peran perempuan dalam menjaga lingkungan serta mendorong kemandirian ekonomi keluarga.
“Melalui Bumi Kartini, kami tidak hanya mendorong peningkatan kapasitas dan pendapatan perempuan, tetapi juga menciptakan solusi nyata atas pencemaran lingkungan yang sebelumnya terjadi akibat pembuangan limbah ternak ke Anak Sungai Lusi,” ujar Vita Mahreyni, Corporate Secretary SIG, Selasa (23/7/2025).
BERITA TERKAIT
Salah satu persoalan utama di Desa Ngampel adalah limbah kotoran dan urin sapi yang dibuang ke saluran air, menyebabkan pencemaran dan meningkatkan potensi emisi gas metana. Melalui program ini, limbah ternak kini diolah menjadi pupuk kompos dan biourin yang ramah lingkungan. Produk hasil olahan tersebut digunakan untuk mendukung pertanian pekarangan dan dijual ke luar daerah, menciptakan tambahan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pada 2024, program ini berhasil menurunkan timbulan limbah kotoran sapi hingga 98,2 ton dan mencegah emisi gas metana sebanyak 1,64 ton CO₂e per tahun.
Secara ekonomi, Bumi Kartini mencatatkan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar Rp6,48 juta per anggota per tahun. Kelompok peternak yang terlibat juga mengalami tambahan penghasilan hingga Rp4,8 juta per tahun. Di sisi pengeluaran rumah tangga, keluarga peserta menghemat hingga Rp13,18 juta per tahun untuk pembelian sayur dan Rp4,34 juta untuk pengeluaran pupuk.
Dari total 9.324 hektare pekarangan rumah yang dioptimalkan, program ini mampu menghasilkan rata-rata 1.405 kg sayuran per bulan. Jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain kembang kol, terong, kubis, pare, kangkung, selada, hingga markisa. Hasil panen tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dijual dalam bentuk segar maupun produk turunan seperti keripik pare, selai terong, dan sirup markisa.
“Pekarangan yang dulunya tidak termanfaatkan kini menjadi sumber pangan dan pendapatan. Dengan pelatihan dari PT Semen Gresik, warga bisa menanam di pot, polybag hingga ban bekas,” ujar Nikmatus Zahroatin, Koordinator Bumi Kartini sekaligus Ketua PKK Desa Ngampel.
SIG menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan inovasi sosial berbasis lingkungan secara berkelanjutan. Program Bumi Kartini dinilai sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan penyelesaian masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan secara terpadu.
“Keberhasilan Bumi Kartini membuktikan bahwa pendekatan berbasis pemberdayaan dan ekonomi sirkular dapat memberikan dampak berkelanjutan, baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat,” tutup Vita Mahreyni. ***





.jpg)










