Stabilitas.id — Bagi Ifti, selembar kain bukan sekadar komoditas tekstil, melainkan sebuah narasi identitas yang melintasi zaman. Pengusaha asal Pekalongan yang kini berbasis di Depok ini, mendedikasikan Pekatan Batik sebagai jembatan yang menghubungkan warisan tradisional dengan selera pasar modern.
Didirikan pada November 2019, perjalanan Pekatan Batik tidaklah instan. Baru saja melangkah, badai pandemi Covid-19 menghantam, memaksa operasional usaha ini sempat vakum. Namun, langkah taktis diambil dengan melakukan penetrasi ke pasar digital. Dari sana, Pekatan bangkit dan mulai mengonsolidasikan kekuatannya pada batik tulis, tenun Badui, dan lurik Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Salah satu kekuatan utama Pekatan Batik terletak pada kemampuannya mendobrak stigma. Jika selama ini batik dan tenun kerap dianggap kaku atau hanya untuk acara formal, Ifti mengemasnya menjadi produk ready-to-wear yang eksklusif dan modis.
BERITA TERKAIT
Tak hanya soal estetika, Pekatan juga menerapkan prinsip keberlanjutan dalam rantai produksinya. Sisa potongan bahan (limbah kain) tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi produk baru bernilai ekonomi tinggi. Strategi ini terbukti efektif menciptakan koleksi yang limited edition sekaligus ramah lingkungan—sebuah nilai tambah yang sangat dicari pasar global saat ini.
Efektivitas produk Pekatan telah teruji di pasar internasional, mulai dari Korea hingga daratan Eropa, serta kerap menjadi pilihan suvenir resmi untuk agenda-agenda korporasi internasional.
Titik balik pertumbuhan Pekatan Batik semakin terlihat saat Ifti bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024. Melalui ekosistem ini, aspek manajerial bisnisnya mulai tertata, mulai dari manajemen keuangan hingga teknik desain profesional.
“Proses yang paling berdampak adalah expo dan pelatihan desain. Melalui expo, saya bisa memetakan preferensi pasar secara langsung, sementara pelatihan desain mengisi celah latar belakang saya yang bukan seorang desainer,” ungkap Ifti.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa dukungan terhadap UMKM seperti Pekatan Batik adalah bagian dari komitmen inklusi ekonomi. Rumah BUMN BRI dirancang sebagai wadah kolaboratif untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha di pasar yang kian kompetitif.
Hingga saat ini, BRI telah mengelola 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dengan total lebih dari 18.218 pelatihan. Inisiatif ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak UMKM yang tidak hanya jago di kandang, tetapi juga mampu berbicara banyak di kancah global. ***

















