• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Internasional

Tinjauan Ekonomi: Penurunan Peringkat Kredit AS oleh Moody’s Tambah Beban pada Kondisi Ekonomi

oleh Stella Gracia
21 Mei 2025 - 09:52
15
Dilihat
Tinjauan Ekonomi: Penurunan Peringkat Kredit AS oleh Moody’s Tambah Beban pada Kondisi Ekonomi

Foto: © Michael Nagle/Bloomberg

0
Bagikan
15
Dilihat

JAKARTA, Stabilitas.id – Moody’s baru-baru ini menurunkan peringkat kredit Amerika Serikat (AS) dari Aaa menjadi Aa1, yang diperkirakan akan memperberat tekanan negatif terhadap perekonomian AS. Penurunan ini terjadi di tengah risiko resesi yang meningkat akibat kenaikan tarif dan ekspektasi inflasi yang memburuk.

Alasan utama penurunan peringkat ini adalah peningkatan utang pemerintah dan beban pembayaran bunga yang terus membengkak. Dalam rilis resmi pada Jumat (16/5), Moody’s menyatakan bahwa penurunan satu tingkat dalam skala 21 tingkat peringkat mereka mencerminkan tren kenaikan rasio utang dan pembayaran bunga pemerintah yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara berdaulat dengan peringkat serupa.

Moody’s juga menyoroti kegagalan pemerintah dan Kongres AS dalam mencapai kesepakatan untuk mengatasi defisit fiskal yang besar dan biaya bunga yang terus meningkat. Hal ini menandai pertama kalinya ketiga lembaga pemeringkat kredit internasional utama—Moody’s, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings—memberikan peringkat di bawah level tertinggi untuk AS, menurut James Humphries, pendiri dan mitra pengelola Mindset Wealth Management LLC.

BERITA TERKAIT

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Moody’s Turunkan Peringkat Kredit Pemerintah AS dari Aaa ke Aa1

Moody’s Pertahankan Rating Kredit Indonesia, OJK: Bukti Kepercayaan Global

Moody’s Menilai Ekonomi Indonesia Tetap Resilien

“Konsekuensi jangka panjang dari ekspansi fiskal yang berkelanjutan tanpa langkah kredibel untuk menstabilkan utang dapat berdampak pada biaya pinjaman dan fleksibilitas ekonomi AS,” ungkap Humphries, dilansir dari Xinhua News.

Penurunan peringkat ini diperkirakan akan meningkatkan biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sektor perumahan diprediksi akan merasakan dampak pertama, karena suku bunga hipotek biasanya mengikuti tolok ukur tersebut.

Spencer Hakimian, pendiri dana lindung nilai Tolou Capital Management, menyatakan bahwa penurunan peringkat kredit AS oleh Moody’s mencerminkan tren panjang ketidakbertanggungjawaban fiskal yang pada akhirnya akan menaikkan biaya pinjaman bagi sektor publik dan swasta di AS.

Moody’s juga memperingatkan bahwa jika pemotongan pajak yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada 2017 dan dijadwalkan berakhir tahun ini diperpanjang oleh Kongres, hal tersebut dapat menambah defisit fiskal AS sekitar 4 triliun dolar AS selama dekade berikutnya.

“Akibatnya, kami memperkirakan defisit federal akan melebar hingga hampir 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2035, naik dari 6,4 persen pada 2024,” ujar Moody’s. Mereka juga memproyeksikan beban utang federal akan meningkat menjadi sekitar 134 persen dari PDB pada 2035, dibandingkan 98 persen pada 2024.

Ed Yardeni, presiden Yardeni Research, memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun dapat melonjak hingga 5 persen setelah rincian rancangan undang-undang perpajakan diselesaikan, menurut laporan Business Insider.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Banking & Finance pada 2016 menunjukkan bahwa perubahan peringkat kredit suatu negara dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui saluran tingkat suku bunga dan aliran modal. Studi tersebut menyebutkan bahwa kenaikan satu tingkat peringkat dapat menurunkan pertumbuhan tahunan rata-rata lima tahun sebesar 0,6 persen, sedangkan penurunan satu tingkat dapat meningkatkan pertumbuhan sebesar 0,3 persen.

Ekonomi AS mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini, di tengah kebijakan tarif yang menimbulkan ketidakpastian dan melemahkan kepercayaan pasar.

Beberapa lembaga riset menurunkan prediksi kemungkinan resesi AS pada 2025 setelah pertemuan ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi antara China dan AS di Jenewa yang berlangsung dua hari, yang meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Namun, risiko resesi masih tetap signifikan.

Michael Feroli, kepala ekonom AS di JPMorgan, menyatakan, “Kami percaya risiko resesi masih tinggi, namun kini di bawah 50 persen,” turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 60 persen yang didasarkan pada kebijakan tarif besar-besaran AS yang diumumkan awal April.

Investor miliarder Steve Cohen memperkirakan kemungkinan resesi AS sekitar 45 persen. “Kita belum dalam resesi, tetapi pertumbuhan melambat secara signifikan,” ujarnya dalam konferensi investasi di New York pada Rabu (14/5).

Indeks harga produsen AS untuk permintaan akhir turun 0,5 persen pada April, dipengaruhi oleh menurunnya permintaan untuk perjalanan udara dan akomodasi hotel.

Sentimen konsumen AS pada Mei juga menurun dan telah melemah selama lima bulan berturut-turut, sementara ekspektasi inflasi satu tahun mencapai level tertinggi sejak 1981, menurut survei awal Universitas Michigan yang dirilis Jumat lalu.

Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie Group, mengatakan, “Masalahnya bukan hanya tarif, tetapi juga kelemahan mendasar di kalangan konsumen AS saat ini. Kuartal kedua diperkirakan akan menjadi kuartal yang lemah bagi pertumbuhan, mengingat sentimen yang buruk dan ketidakpastian kebijakan yang masih tinggi, meskipun ada kemajuan dengan China akhir pekan lalu.”

Tags: ekonomi ASMoody'speringkat kredit pemerintah AS
 
 
 
 
Sebelumnya

Moody’s Turunkan Peringkat Kredit Pemerintah AS dari Aaa ke Aa1

Selanjutnya

Jelang Spin Off, BTN Syariah Kembali Diakui Internasinal Sebagai Best Islamic Bank 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Trump Ancam Tarif Baru ke Kanada dan Korea Selatan, Seoul Terancam Bea Masuk 25%

Trump Ancam Tarif Baru ke Kanada dan Korea Selatan, Seoul Terancam Bea Masuk 25%

oleh Stella Gracia
27 Januari 2026 - 13:56

Stabilitas.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan ancaman penerapan tarif impor baru terhadap Kanada dan Korea Selatan, yang berpotensi...

IMAS: Asia Tetap Menarik di 2026 Meski Risiko Geopolitik Meningkat

IMAS: Asia Tetap Menarik di 2026 Meski Risiko Geopolitik Meningkat

oleh Stella Gracia
20 Januari 2026 - 10:39

Stabilitas.id — Manajer investasi berbasis di Singapura memandang Asia tetap menjadi kawasan dengan peluang investasi kuat pada 2026, meskipun dibayangi...

Konflik AS–Venezuela Memanas, Indonesia Peringatkan Preseden Berbahaya

Konflik AS–Venezuela Memanas, Indonesia Peringatkan Preseden Berbahaya

oleh Sandy Romualdus
5 Januari 2026 - 10:30

Stabilitas.id - Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan atas serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela, serta menilai langkah tersebut berisiko menjadi preseden...

Manufaktur Dorong Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% pada Akhir 2025

Manufaktur Dorong Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% pada Akhir 2025

oleh Sandy Romualdus
5 Januari 2026 - 10:14

Stabilitas.id - Perekonomian Singapura mencatat pertumbuhan 5,7% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal IV 2025, meningkat dibandingkan ekspansi 4,3%...

Respon AS Tangkap Presiden Maduro, Paus Leo XIV: Rakyat Venezuela Harus Diutamakan

Respon AS Tangkap Presiden Maduro, Paus Leo XIV: Rakyat Venezuela Harus Diutamakan

oleh Stella Gracia
5 Januari 2026 - 09:25

Stabilitas.id - Paus Leo XIV menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat Venezuela tetap harus menjadi prioritas utama setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat (AS)....

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

oleh Sandy Romualdus
3 Oktober 2025 - 11:25

Stabilitas.id – Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai langkah pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Jelang Spin Off, BTN Syariah Kembali Diakui Internasinal Sebagai Best Islamic Bank 2025

Jelang Spin Off, BTN Syariah Kembali Diakui Internasinal Sebagai Best Islamic Bank 2025

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance