Stabilitas.id – Di tengah kota yang berjalan cepat dan serba instan, gerakan hijau kerap dianggap sebagai wacana idealis yang hanya milik aktivis atau komunitas tertentu. Tapi Blibli Tiket Action menawarkan perspektif baru. Sejak tiga tahun lalu, gerakan mereka bernama Langkah Membumi telah menjelma menjadi sebuah ekosistem perayaan kota—sebuah panggung tempat sustainability, olahraga, ruang kreativitas, dan budaya urban membuka jalan ke masa depan yang lebih hijau.
Tahun ini, kembali mereka menggelar Langkah Membumi Ecoground 2025, sebuah festival keberlanjutan yang digarap bukan sebagai kampanye formal atau himbauan pemerintah, tetapi dilahirkan dari sesuatu yang jauh lebih relevan: pengalaman kolektif warga kota. Blibli Tiket Action sebagai payung program Environmental Social Governance (ESG) dari ekosistem Blibli, tiket.com, Ranch Market dan Dekoruma, tidak hanya hadir dengan tema besar “CollaborAction for the Earth”, tetapi juga menghadirkan desain festival yang mendorong satu gagasan besar: bahwa perubahan iklim tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi harus bergerak sebagai budaya.
Dari Festival Menjadi Gerakan
BERITA TERKAIT
Beberapa tahun terakhir, Langkah Membumi tumbuh seperti organisme urban: kecil, lalu menyebar persis seperti komunitas running yang berkembang dari satu lingkaran menjadi ribuan peserta. Dimulai dari Eco-Friendly Exhibition (2022) di ASHTA District 8, melebar menjadi Sustainability Festival di SCBD Park pada 2023, hingga mencapai tonggak besar pada 2024 di Senayan Park dengan 18.000 pengunjung dan 350 kolaborator. Itu bukan angka festival biasa. Ini menunjukkan gerakan hijau tidak lagi eksklusif, tapi menjadi bagian dari gaya hidup kota.
Tentu ada hal yang membuat festival ini berbeda dari kebanyakan festival hijau di kota besar: mereka menghitung dampak keberlanjutan secara komprehensif, mengacu pada standar ISO 14040/44. Selama dua hari penyelenggaraan pada 2024, tercatat 218,6 ton CO₂e emisi, 10,6 ton CO₂e berhasil dihindari, dan 993 kg sampah terkelola 100% secara bertanggung jawab. Dalam ekosistem urban yang sering dipenuhi jargon, data ini adalah bukti.
Namun tahun ini, semangat itu dibawa ke tahap baru. Festival yang akan digelar 8–9 November 2025 di Taman Kota Peruri, Jakarta, tidak hanya memindahkan ruang kota menjadi wadah kolaborasi, tapi juga menghubungkan sustainability dengan hal-hal yang sangat membumi dalam budaya perkotaan: olahraga, workshop praktis, wellness, dan ruang berinteraksi.
Sustainability Tidak Lagi Sebatas Ide
Blibli Tiket Action melihat bahwa gerakan menuju ekonomi hijau tidak cukup hanya disuarakan oleh aktivis atau pemerintah. Ia harus menjadi produk budaya. Lama sudah masyarakat perkotaan memahami konsep ramah lingkungan. Tapi hanya sedikit yang mampu melakukannya menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena itulah Langkah Membumi Ecoground 2025 menawarkan bentuk partisipasi yang sangat konkret.
Lewat kolaborasi dengan Jejakin, setiap kilometer lari, setiap kontribusi peserta di zona acara, akan dikonversi menjadi satu pohon mangrove. Kota tidak lagi menjadi situs penghasil polusi tanpa kompensasi—setiap aksi kecil menghasilkan dampak ekologis yang dapat diukur. Bahkan partisipasi publik dimulai sejak pra-acara. Mulai 16 Oktober 2025, masyarakat sudah bisa membeli tiket kontribusi mulai Rp35 ribu untuk bibit mangrove melalui blib.li/langkahmembumi.
Gerakan ini memberi pesan sederhana: keberlanjutan tidak mesti dimulai dari hal besar. Perubahan yang kelihatan kecil—bersepeda, jogging, mengganti plastik sekali pakai, memilih produk ramah lingkungan—jika digerakkan kolektif dapat menjadi ekosistem.
Empat Zona, Empat Wajah Kota Baru
Festival ini sengaja dibangun dengan pengalaman multisensori. Di dalamnya tersedia empat zona besar yang merayakan keberlanjutan dalam bentuk yang sangat urban.
Zona Eco Motion menghadirkan olahraga sebagai gaya hidup ekologis. Di kota yang masyarakatnya semakin akrab dengan yoga, cycling, poundfit hingga gerakan mindful movement, Eco Motion menawarkan energi baru: olahraga bukan hanya aktivitas personal, tapi bentuk solidaritas ekologis.
Eco Market menjadi ruang pertemuan produk berkelanjutan dengan konsumen. Bukan sekadar bazar, melainkan tempat eksplorasi gaya hidup baru yang perlahan membentuk kultur konsumsi kota.
Sementara Eco Labs menghadirkan workshop praktis, diskusi, hingga interaksi dengan psikolog—menggambarkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tapi juga kesehatan mental dan gaya hidup seimbang.
Dan Eco Stage mempertemukan talkshow dan hiburan dengan gerakan kolektif. Ruang ini adalah panggung ide, tempat komunitas berbagi inspirasi dan visi.
Festival ini bukan sekadar event, ia adalah melting pot: ruang yang mempertemukan publik, keluarga, komunitas olahraga, mahasiswa, pekerja kota, hingga pelaku industri kreatif.
Kota Sebagai Ruang Gerakan Sosial Baru
Langkah Membumi tidak hanya tumbuh di ruang terbuka kota, tapi juga merambat ke ruang kampus. Lewat program Langkah Membumi Networking: Move for Good dan Langkah Membumi to University, festival ini menanamkan gagasan hijau ke ruang akademik dan generasi muda. Bersama Cinta Laura, gerakan ini meluncurkan talkshow edukatif tentang pentingnya sustainability, sekaligus menjaring green talents—generasi baru yang akan mengisi ruang profesi hijau masa depan.
Langkah ke kampus ini memiliki makna simbolik. Gerakan hijau tidak lagi hanya milik organisasi lingkungan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman pendidikan dan profesi. Bahkan mahasiswa diberikan akses untuk terlibat langsung melalui kesempatan magang, relawan, hingga workshop interaktif.
Jika sustainability dahulu adalah wacana, hari ini ia telah menjadi standar. Kampus—sebagai inkubator ide—justru menjadi katalis bagi transformasi ini.
Kota tidak bisa berdiri sendiri tanpa alam. Itu sebabnya mangrove menjadi simbol penting Langkah Membumi tahun ini. Mangrove adalah metafora gerakan di kota: akar yang menjalar, merayap, saling menguatkan. Setiap kilometer lari peserta di Membumi Run, setiap kontribusi, setiap tiket, akan menjadi satu bibit baru yang ditanam untuk bumi.
Kota-kota besar dunia mulai mengembalikan relasinya pada alam. Dan Blibli Tiket Action mendorong hal itu melalui pendekatan yang tidak lagi didasarkan pada teori atau kampanye masif, melainkan aksi konkret.
Gerakan ini tidak sekadar ingin mengubah pola pikir. Mereka ingin menciptakan budaya, menciptakan ruang publik baru, membangun ekosistem.
Budaya Hijau Sebagai Trend Masa Depan
Jika dulu gaya hidup ramah lingkungan dianggap sesuatu yang mahal, hari ini kita melihat hal berbeda: sustainability telah menjadi kompas anak muda urban. Sport & wellness, green consumption, dan komunitas menjadi identitas baru kota.
Ruang publik hijau seperti Taman Kota Peruri bukan hanya tempat rekreasi. Ia menjadi venue masa depan, tempat festival bertumbuh bukan sekadar untuk hiburan, tapi untuk menginspirasi dan membangun solidaritas ekologis.
Inilah urban green movement: gerakan yang lahir dari kota, dirayakan oleh kota, dan tumbuh untuk masa depan kota. Gerakannya sederhana. Tapi dampaknya besar.
Seperti pesan Langkah Membumi sejak awal: Perubahan besar dapat lahir dari kebiasaan kecil yang dijalankan bersama secara konsisten.
Dan tahun ini, perjalanan itu berlanjut melalui Langkah Membumi Ecoground 2025—kali ini dengan wajah yang lebih interaktif, lebih aplikatif, lebih dekat dengan warga kota. Sebuah festival yang mempertemukan gagasan besar dengan kegiatan-kegiatan nyata, gerakan kecil dengan aksi kolektif, kota dengan masa depan yang hijau.
Gerakan ini tidak berhenti di panggung festival. Ia tumbuh menjadi kebiasaan. Ia menjadi budaya. ***





.jpg)










