Stabilitas.id — Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I/2026 tercatat sebesar US$433,4 miliar. Posisi utang tersebut tumbuh melambat sebesar 0,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan IV/2025 yang tumbuh 1,9% yoy.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, pergerakan kurva ULN periode ini sangat dipengaruhi oleh penyesuaian penarikan pinjaman pada sektor publik dan kontraksi di sektor swasta.
“Pemerintah terus mengelola ULN secara cermat, terukur, dan akuntabel. Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung belanja prioritas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (19/5/2026).
BERITA TERKAIT
ULN Pemerintah Melandai
Secara rinci, posisi ULN pemerintah pada triwulan I/2026 mencapai US$214,7 miliar atau tumbuh 3,8% yoy. Kecepatan pertumbuhan ini melandai jika dibandingkan dengan triwulan IV/2025 yang sempat menyentuh level 5,5% yoy.
Meskipun melambat, penambahan utang pemerintah utamanya dipicu oleh aliran masuk modal asing (capital inflow) pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Hal ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan investor global terhadap fundamental makroekonomi domestik.
Sebagai penopang pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dana ULN pemerintah dialokasikan ke beberapa sektor produktif, antara lain:
-
Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial: 22,1% dari total ULN pemerintah
-
Administrasi Pemerintah, Pertahanan, & Jaminan Sosial Wajib: 20,2%
-
Jasa Pendidikan: 16,2%
-
Konstruksi: 11,5%
-
Transportasi & Pergudangan: 8,5%
Dari aspek tenor jatuh tempo, portofolio utang pemerintah dinilai sangat aman karena didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99%.
ULN Swasta Terkontraksi 1,8%
Berbanding terbalik dengan sektor publik, posisi ULN swasta justru mengalami penurunan menjadi US$191,4 miliar pada triwulan I/2026, menyusut dari posisi triwulan sebelumnya sebesar US$194,2 miliar. Secara tahunan, utang swasta mengalami kontraksi sebesar 1,8% yoy.
Penurunan ini didorong oleh aksi deleveraging (pengurangan utang) pada kelompok lembaga keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 3,6% yoy, serta perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang turun 1,3% yoy.
Mayoritas ULN swasta terserap pada empat sektor utama, yaitu Industri Pengolahan; Jasa Keuangan & Asuransi; Pengadaan Listrik & Gas; serta Pertambangan & Penggalian dengan total pangsa 80,4%. Portofolio swasta ini juga masih didominasi komitmen jangka panjang dengan porsi 76,6%.
Rasio Utang Terhadap PDB Turun ke 29,5%
Bank Indonesia menegaskan struktur keuangan negara tetap sehat dan terjaga berkat penerapan prinsip kehati-hatian (prudential management).
Indikator kesehatan ini tecermin dari rasio total ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Buto (PDB) yang berhasil diturunkan menjadi 29,5% pada triwulan I/2026, dari posisi sebelumnya sebesar 30,0% pada akhir 2025. Selain itu, struktur utang nasional secara keseluruhan didominasi oleh tenor jangka panjang dengan pangsa 85,4%.
Guna memitigasi risiko eksternal yang dapat mengganggu stabilitas moneter, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan berkomitmen memperketat koordinasi pemantauan lalu lintas devisa dan utang luar negeri secara berkelanjutan. ***
















