OJK menggelar program LIKE IT 2026 di Banten guna menekan gap antara inklusi dan literasi keuangan mahasiswa, sekaligus mencegah jerat investasi ilegal dan perilaku impulsif FOMO.
Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti kesenjangan mencolok antara tingginya akses produk keuangan dan rendahnya pemahaman finansial di kalangan generasi muda. Merespons hal tersebut, OJK menggelar program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) Seri ke-6 bertajuk “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” di Serang, Banten, pada Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat sangat tinggi mencapai 92,76%. Namun, indeks literasi keuangan kelompok ini tertinggal di level 62,72%, atau berada di bawah rata-rata literasi nasional yang menyentuh 69,57%. Kesenjangan ini menandakan bahwa kepemilikan akses generasi muda terhadap layanan perbankan belum diimbangi kecakapan bertransaksi yang bertanggung jawab.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa kecakapan digital (digital savvy) tidak secara otomatis menjamin kecerdasan finansial.
BERITA TERKAIT
Langkah mitigasi ini dinilai krusial agar generasi muda terhindar dari bias keputusan investasi akibat Fear of Missing Out (FOMO) maupun Fear of Other People’s Opinions (FOPO).
Ancaman Kejahatan Digital dan Utang Konsumtif
Gubernur Banten, Andra Soni, mendesak peningkatan kewaspadaan anak muda terhadap ragam kejahatan siber yang mengiringi adopsi teknologi. Ia menyoroti ancaman phishing, penyamaran petugas lembaga keuangan, tautan palsu, hingga jebakan investasi dan pinjaman online (pinjol) ilegal.
Di sisi lain, Anggota Komisi XI DPR RI Annisa M. A. Mahesa memperingatkan kerentanan Gen Z terhadap tren rekomendasi pasar modal di media sosial. Untuk membangun fondasi pengelolaan aset yang tangguh, ia merinci sejumlah prinsip dasar bagi investor pemula:
- Generasi muda wajib mengamankan dana darurat sebelum mengeksekusi penempatan aset investasi.
- Membangun manajemen arus kas yang sehat serta secara disiplin menghindari jerat utang konsumtif.
- Mengalokasikan instrumen investasi secara eksklusif menggunakan dana menganggur (uang dingin).
- Memastikan validitas informasi sektor jasa keuangan hanya dari sumber resmi dan tervalidasi.
Inisiatif edukasi kolaboratif antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS ini diikuti secara masif oleh 1.000 mahasiswa secara luring dan 2.473 peserta daring. Program ini dirancang untuk membentengi Gen Z agar siap mengelola penghasilan di dunia kerja kelak dan berkontribusi sebagai kekuatan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045. ***

















