PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pertumbuhan Tabungan Haji menjadi Rp17,1 triliun, didorong oleh tren Gen Z dan milenial yang mulai merencanakan ibadah lewat aplikasi BYOND.
Stabilitas.id – Ambisi menunaikan rukun Islam kelima ke Tanah Suci kini tak lagi dimonopoli oleh kalangan usia senja. Geliat generasi milenial dan Gen Z dalam merencanakan perjalanan spiritual sejak dini rupanya menjadi ladang emas baru bagi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI). Menangkap pergeseran tren tersebut, bank syariah terbesar di Tanah Air ini agresif memutar roda ekosistem haji dan umrah sebagai motor penggerak literasi sekaligus penopang likuiditas perseroan.
Kalkulasi BSI bertumpu pada rasionalitas demografi yang solid. Indonesia dihuni oleh lebih dari 240 juta penganut Islam, setara 87 persen dari total populasi. Menariknya, lebih dari separuh kue demografi tersebut kini dikuasai oleh kelompok milenial dan Gen Z. Besarnya potensi pasar ini sejalan dengan antrean panjang daftar tunggu (waiting list) jemaah haji nasional yang telah menembus angka 5,9 juta orang.
Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, membaca fenomena ini sebagai sebuah pergeseran preferensi yang radikal. Anak-anak muda masa kini semakin selektif; mereka memilih layanan perbankan yang tidak sekadar fungsional, tetapi harus berlandaskan prinsip syariah dan memberikan nilai (value) tambah bagi kehidupan mereka.
BERITA TERKAIT
“Ini menunjukkan bahwa semakin banyak generasi muda yang mulai mempersiapkan ibadah haji sejak dini,” ungkap Anton dalam siaran pers, Selasa (15/9). Klaim tersebut bukanlah isapan jempol. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date), BSI sukses meraup tambahan satu juta nasabah baru yang secara khusus membuka rekening Tabungan Haji.
Guna memuluskan langkah ekspansi di segmen demografi muda yang melek teknologi, BSI meruntuhkan tembok penghalang finansial (barrier to entry). Lewat program ‘Indonesia Berhaji’, perseroan menawarkan pembukaan rekening dengan setoran awal yang sangat ramah di kantong, yakni hanya Rp100.000, dan membebaskannya dari jeratan biaya administrasi bulanan.
Proses akuisisi nasabah pun didigitalisasi secara penuh melalui super app BYOND by BSI. Pendekatan ini memungkinkan kaum muda membuka rekening dari mana saja, kapan saja, dan dilengkapi fitur autodebet untuk merancang kedisiplinan menabung yang lebih terarah.
Strategi jemput bola ke ekosistem digital ini berbuah sangat manis. Hingga Juli 2026, populasi nasabah haji BSI telah membengkak mencapai 7,8 juta orang. Mengesankannya, 46 persen dari total portofolio tersebut diisi oleh kalangan Gen Z dan anak-anak muda.
Dari kacamata fundamental bisnis, gelombang kesadaran spiritual kaum muda ini menginjeksi darah segar bagi likuiditas BSI. Volume Tabungan Haji perseroan tercatat mekar 16,02 persen menjadi Rp17,1 triliun. Angka ini sekaligus mengukuhkan hegemoni absolut BSI di pasar domestik. Mengingat Indonesia menyumbang sekitar 53 persen pangsa pasar haji global, fakta bahwa 87 persen masyarakat domestik mempercayakan perencanaan hajinya pada BSI adalah sebuah pencapaian penguasaan pangsa pasar yang masif.
Pada akhirnya, bagi BSI, menggarap ekosistem haji dan umrah bukan semata urusan memfasilitasi ibadah. Ini adalah manuver taktis untuk membangun fondasi pendanaan yang kokoh, mengunci loyalitas nasabah sejak usia belia, dan memastikan pasokan dana murah (CASA) terus mengalir secara berkelanjutan ke dalam brankas perseroan. ***

















