AAJI menyelenggarakan program eksekutif Future by Design bagi CEO asuransi jiwa guna mematangkan adopsi AI berprinsip human-in-the-loop.
Stabilitas.id – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkuat kesiapan jajaran pimpinan tertinggi industri asuransi jiwa menghadapi disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui program eksekutif bertajuk Future by Design. Forum strategis yang digelar di Jakarta pada 1–2 Oktober 2026 ini mempertemukan para Chief Executive Officer (CEO) dan jajaran C-Suite dari seluruh perusahaan anggota. Langkah ini diambil guna memastikan investasi teknologi digital mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan bisnis tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumarjono menegaskan bahwa adopsi teknologi cerdas menuntut kepemimpinan strategis yang bertanggung jawab. Pihak manajemen wajib memahami batasan risiko operasional dan tata kelola etika saat memanfaatkan algoritma pada fungsi bisnis inti.
“AI tanpa leadership hanyalah teknologi, tetapi leadership yang memahami AI dapat mengubah teknologi menjadi sebuah strategi. Pemanfaatan AI dalam underwriting, claims management, fraud detection, customer service, distribution, maupun product development pada akhirnya merupakan keputusan strategis dan bisnis yang menjadi tanggung jawab institusi. Karena itu, pemanfaatannya membutuhkan professional judgment serta kapabilitas SDM yang memahami aspek asuransi sekaligus teknologi,” jelas Sumarjono.
BERITA TERKAIT
OJK dan AAJI sepakat bahwa penerapan AI di industri asuransi jiwa wajib berpegang pada prinsip Human-in-the-Loop. Dalam proses yang bersentuhan langsung dengan hak finansial nasabah—seperti seleksi risiko (underwriting), penentuan tarif premi, hingga persetujuan klaim—mesin cerdas tidak boleh mengambil keputusan secara mutlak. Keputusan akhir tetap berada di bawah kendali dan verifikasi manusia.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menyatakan transformasi digital harus melampaui sekadar peremajaan infrastruktur teknologi informasi. Fokus utama para pengambil keputusan adalah menghasilkan nilai tambah ekonomi dan menjaga integritas pelayanan.
“Perkembangan teknologi dan AI dapat membantu para CEO dan decision makers dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Bukan lagi sekadar melihat kebutuhan untuk membeli atau mengganti sistem, tetapi bagaimana investasi dan pemanfaatan teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja dan bottom line perusahaan. Pemanfaatan AI juga tetap membutuhkan pengawasan dan kendali manusia yang kuat, terutama dalam proses yang dapat berdampak langsung pada nasabah,” kata Albertus.
Program Future by Design menghadirkan tiga pilar pembelajaran terpadu. Pertama, Future Life Leader yang dirancang khusus bagi para CEO dengan fasilitasi dari lembaga konsultasi Access Wealth asal Thailand. Kedua, Future Proofing Insurance yang ditujukan bagi para COO, CIO, CTO, dan CFO untuk membedah kesiapan regulasi, keamanan siber, privasi data, implementasi POJK 36/2025, hingga kepatuhan standar ISO 27100. Ketiga, Future-TechInsure Exhibition sebagai panggung uji coba (sandboxing) dan pembuktian konsep (proof of concept) solusi teknologi terkini.
Rangkaian diskusi turut diperkaya perspektif praktisi teknologi global, antara lain Amazon Web Services (AWS) dan Tata Consultancy Services (TCS), serta didukung oleh mitra infrastruktur data seperti DCI Indonesia, RDS Group, dan CBN.
Sejalan dengan tema tahunan “Menjaga Kepercayaan, Mengukir Makna”, AAJI berkomitmen mengawal agenda modernisasi industri melalui kampanye peningkatan standar kompetensi (#RaisingTheStandard).
“Future by Design merupakan langkah awal. Ke depan, AAJI akan menghadirkan kegiatan serupa sebagai bagian dari upaya industri untuk #RaisingTheStandard, khususnya dalam mendukung kesiapan dan kompetensi SDM agar dapat berkontribusi terhadap kemajuan industri,” tutup Albertus.

















