Prayogo P. Harto**
Boleh jadi, jikalau bukan karena ‘kenekatan’ Mochtar Riady, Bank Central Asia (BCA) tidak akan pernah sebesar sekarang. Semuanya berawal lebih dari dua dekade lalu. Tepatnya setahun pasca Bank Indonesia merilis Paket kebijakan deregulasi perbankan pada Oktober 1988 yang kemudian dikenal dengan Pakto ’88. Masa itu disebut-sebut sebagai awal dari era liberalisasi perbankan di Tanah Air, di mana dominasi bank-bank milik pemerintah masih begitu kuat.
Nah, Mochtar, yang kala itu menjabat Direktur BCA, tertantang untuk meruntuhkan dominasi bank pelat merah. Setelah memutar otak sekian waktu, pria yang pada akhirnya mendirikan kelompok usaha Lippo ini menemukan caranya. Dia meluncurkan produk tabungan berhadiah uang dalam jumlah ‘wah’. Belakangan produk ini dikenal sebagai Gebyar Tabungan Hari Depan (Tahapan) BCA.
BERITA TERKAIT
Tidak tanggung-tanggung, saat itu BCA mengiming-ngimingi nasabah Tahapan dengan total hadiah Rp500 juta. Jumlah ini bukan cuma ‘wah’ untuk ukuran masa itu, tetapi juga kurang masuk akal dalam hitung-hitungan bisnis bank. Betapa tidak, nilai hadiah ini sekitar 25 persen dari total laba BCA kala itu. Jadi, wajar jika banyak pihak yang geleng-geleng kepala melihat ‘kenekatan’ BCA tersebut. Selain itu, tak sedikit yang mencibir strategi ‘menggaet nasabah dengan iming-iming hadiah’ sebagai tindakan yang tidak etis.
Tetapi Mochtar dan BCA nampaknya memegang benar berprinsip ‘anjing menggonggong, khafilah berlalu’. Hasilnya, seperti sama-sama diketahui, BCA berkibar lewat Gebyar Tahapan-nya dan menjelma sebagai salah satu bank terbesar di Tanah Air. Tak cuma itu, bank yang kini dimiliki Grup Djarum tersebut sukses mengubah peta perbankan nasional secara drastis, dengan memaksa hampir semua bank ‘latah’ mengikuti strategi ‘nekat’ BCA yang tercipta dua dekade lalu, dengan berbagai variasinya.
BCA adalah contoh sukses bagaimana kepioniran dapat berubah jadi kekuatan dahsyat. Contoh lain adalah Citibank yang sukses sebagai pelopor kartu kredit. Bank yang tengah didera berbagai persoalan ini, dari pembobolan dana hingga dugaan tindak kekerasan debt collector-nya, mulai memperkenalkan ‘uang plastik’ itu di Tanah Air sejak tahun 1989. Kini, meski nyaris semua bank memiliki produk kartu kredit namun Citibank tetap jadi yang terdepan di pasar produk ini.
Hanya saja menjadi pionir tidak selalu berbuah manis. Bank Dagang Bali (BDB) contohnya. Mungkin tak banyak yang tahu, bank yang telah ‘almarhum’ inilah yang pertama mengeluarkan produk tabungan berhadiah. Bahkan ini sudah dilakukan BDB sejak 1971 dengan menawarkan hadiah barang-barang elektronik, sepeda motor, mobil, hingga rumah. Akan tetapi BDB tidak pernah mengecap sukses layaknya BCA dengan program Tahapan-nya.
Budaya Pionir
Menjadi bank pionir dalam meluncurkan produk dan layanan baru memang tak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan. Namun posisi sebagai ‘yang pertama’ paling tidak memberikan keuntungan, bank pionir berada selangkah di depan para pesaingnya. Itu telah dibuktikan oleh BCA maupun Citibank, meski tentu saja kunci kesuksesan keduanya tak semata-mata karena faktor kepioniran.
Lantas, apa saja syarat menjadi bank pionir? Bank pionir tidak serta merta lahir. Ia bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Kepioniran adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Ia seperti padi, yang sebelum bisa dipanen perlu melewati sejumlah proses, mulai dari menanam benih, memberi pupuk, mengairinya, menjaga dari serangan hama, hingga akhirnya memanen ketika masanya tiba. Untuk menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan produk-produk pionir pun sama. Ia butuh proses.
Pertama, memupuk kebiasaan berpikir kreatif (creative habit) di lingkungan perusahaan. Kebiasaan berpikir out of the box atau lateral, meminjam istilah Edward de Bono, sangat tergantung pada budaya perusahaan. Pada perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin otoriter, budaya berpikir lateral akan sulit bertunas. Sebaliknya, pada perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin berpikiran terbuka, budaya berpikir lateral akan mendapat lahan subur.
Apple contohnya. Siapa yang tidak kenal perusahaan yang disebut The Most Valuable Tech Company in The World ini. Apple sukses menelurkan berbagai produk inovatif, dan tentunya menjadi pionir di kelasnya. Sebut saja iPod, iPhone, hingga iPad, beberapa produk Apple yang telah mengubah wajah dunia. Keberhasilan Apple tidak bisa dilepaskan dari peran sang pendiri sekaligus CEO-nya, Steve Jobs. Gaya kepemimpinan Steve Jobs yang berpikiran terbukalah yang membuat para karyawan Apple, khususnya divisi riset, leluasa menuangkan ide-idenya.
Kedua, mengembangkan produk inovatif. Ketika budaya berfikiran terbuka sudah jadi habit bank maka berbagai inovasi, sebagai cikal bakal kepioniran, bukan lagi sesuatu yang sukar. Boleh dikatakan, pionir adalah buah dari inovasi. Jika pionir didefinisikan sebagai menjadi yang pertama, maka inovasi merupakan suatu proses kreativitas untuk memberi nilai tambah (value added) baru pada sesuatu, bisa produk atau suatu proses bisnis. Dengan kata lain, inovasi tidak harus berarti menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru (invention), tetapi bisa juga berupa pengembangan dari sesuatu yang sudah ada.
Ambil contoh produk kredit tanpa agunan (KTA). Produk ini merupakan buah inovasi Standard Chartered Bank (Stanchart), yang mengubah konsep produk kredit tradisional bank, di mana kredit besar semula harus ada agunan jadi tanpa agunan. Sementara Bank Niaga (sekarang CIMB Niaga) adalah pionir yang mengubah konsep pengembangan SDM di industri perbankan nasional, dari sebelumnya menyerahkan pada pihak luar (outsourcing) jadi dilakukan sendiri oleh bank bersangkutan.
Ketiga, memiliki pengetahuan (knowlage). Budaya berfikir lateral dan keterampilan mengembangkan produk-produk inovatif hanya mungkin jika ditunjang pengetahuan. Tanpa ilmu pengetahuan maka budaya berpikir lateral cuma akan menghasilkan semangat ‘yang penting berbeda dari yang lain’. Sementara, apakah kemudian produk inovatif yang dihasilkan dari pikiran lateral tadi bermanfaat bagi perusahaan atau tidak, jadi terabaikan. Tentu saja, tak ada bank yang menginginkan ini.
Mochtar Riady tidak sekadar ingin nyeleneh ketika berfikir out of the box dengan menelurkan produk tabungan berhadiah uang dalam jumlah besar. Pengetahuan dan pengalamannya sebagai bankir selama bertahun-tahun membuat bankir senior ini yakin masyarakat atau nasabah akan tertarik menaruh dananya di BCA karena berharap mendapat hadiah uang tunai dalam jumlah besar.
Keempat, terus mengasah diri. Orang bijak mengatakan, practice make perfect, berlatih membuat kita jadi sempurna. Untuk menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan produk atau metode yang baru (pionir) secara terus menerus, tidak ada jalan instan. Semua itu butuh usaha yang keras, melibatkan semua SDM di bank, dan perbaikan yang berkelanjutan, layaknya prinsip kaizen yang banyak dijalankan oleh perusahaan-perusahaan Jepang.
Dalam prinsip kaizen yang berarti “never ending improvement”, segala sesuatu secara terus menerus, setahap demi setahap, diperbaiki dan disempurnakan, hingga menghasilkan produk atau metode yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kalau bank telah menjadi pionir dalam satu bidang atau produk, ia tetap perlu terus mengasah, memperbaiki, dan menyempurnakan keterampilannya hingga tak cuma pionir dalam satu hal, tetapi memiliki kepioniran di berbagai hal.
Risiko Pionir
Mampu menjadi bank pionir tentu saja suatu prestasi tersendiri. Apalagi di tengah persaingan industri perbankan saat ini yang kian ketat, plus teramat banyak perusahaan yang berkarakter ‘me too’ atau sekadar meniru hasil kerja pihak lain. Namun, seperti telah diungkapkan sebelumnya, menjadi bank pionir tidak selalu memberikan jaminan kesuksesan. Sebab, tak jarang produk pionir bank justru ditolak konsumen.
Peniruan perusahaan lain atau gagalnya produk pionir diterima pasar, adalah beberapa risiko yang harus dihadapi oleh bank. Dengan mengetahui risiko-risiko apa saja yang mengintipnya, bank pionir dapat merencanakan strategi yang tepat guna mengantisipasi risiko-risiko tersebut. Dimulai dari mengindentifikasi risiko potensial yang mungkin terjadi, mengurutkan risiko berdasarkan tingkat kepentingannya, membuat rencana alternatif bila suatu masalah terjadi, hingga menyiapkan alat dan sumber daya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Mengacu teori manajemen, ada empat macam risiko yang mengintip bank pionir. Pertama, risiko operasional, yaitu risiko yang muncul ketika bank menjalankan pekerjaannya. Kita ambil contoh produk Tahapan BCA. Misalnya akibat kelalaian karyawan, nasabah yang menjadi pemenang undian hadiah Tahapan BCA tidak mendapatkan haknya, namun justru jatuh ke nasabah yang bukan pemenang.
Kedua, risiko hazard, yaitu risiko yang timbul dari suatu kejadian yang di luar kemampuan bank untuk menanganinya. Contohnya bank sentral mengeluarkan aturan melarang produk tabungan dengan iming-iming hadiah uang. Akibatnya, produk Tahapan BCA yang mengiming-imingi nasabah dengan hadiah uang terpaksa ditutup. Dalam hal ini BCA tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah berada di luar kemampuannya.
Ketiga, risiko finansial adalah risiko terkait masalah keuangan. Masalah ketersediaan dana menjadi hal yang sangat sensitif bagi bank. Mochtar Riady mungkin punya gagasan yang smart dengan produk Gebyar Tahapan BCA. Namun jika kemudian direksi BCA yang lain menganggap nilai hadiah uang Tahapan terlalu besar dan tidak sebanding dengan potensi pendapatannya, maka program Mochtar Riady itu bisa saja terancam gagal.
Keempat, risiko strategik, yaitu risiko yang muncul akibat kesalahan strategik bank dalam perencanaan. Tanpa perencanaan strategi yang tepat, misalnya pemilihan media promosi, Tahapan BCA mungkin tidak akan mampu bertahan lama lebih dari dua dekade seperti saat ini. Bahkan BCA adalah bank yang pertama kali mem-bundling suatu promosi dengan acara hiburan musik lewat program Gebyar Tahapan BCA. Model bundling promosi dan hiburan musik ini kemudian banyak ditiru oleh bank-bank lain.
**Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Stabilitas / Dosen STIE Islamic & Banking School / Indika & Paramadina Fellowship
















